Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Bupati & Kearifan Lokal

Achmad RW • Senin, 20 Januari 2025 | 15:06 WIB

 

Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

KAMIS Legi adalah hari pasaran tanggal 9 Januari 2025. Bertepatan dengan agenda KPU Jombang dan 280 KPU kabupaten/kota se Indonesia untuk mengumumkan ketetapan hasil pemilihan kepala daerah.

Dalam kepercayaan Jawa, tanggal tersebut memiliki neptu 13 ( Kamis 8, Legi 5 ). Neptu (poin) terendah 7 ( Selasa Wage), tertinggi 18 (Sabtu Pahing).

Berarti angka 13 itu poin moderat. Melambangkan keniscayaan posisi pemimpin yang harus di tengah.

Sehingga, masyarakat  di level “bawah” dan “atas” dapat terjangkau tidak terlalu jauh dari posisinya.

Dalam primbon Jawa, Kamis Legi adalah hari baik. Karena hari tersebut berada di bawah naungan lakuning lintang ( perjalanan bintang).

Sehingga insan yang lahir dengan weton Kamis Legi dipercaya memiliki sifat dermawan, suka membantu, dan loyal.

Karakternya mandiri, berkarisma, dan bertanggung jawab dalam pekerjaan. Selain itu, dia memiliki etos kerja yang tinggi dan pekerja keras.

Sikapnya baik hati, bijaksana, dan berwawasan luas. Memiliki kemampuan interpersonal yang baik untuk mengatasi masalah dengan cara yang tenang dan terkontrol.

Intinya, dari perspektif budaya Jawa yang memiliki kearifan adiluhung, memandang hari penetapan tersebut sebagai momentum yang prospektif.

Terbukanya kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih mendekatkan harapan dengan kenyataan.

Saya yakin hitungan neptu di atas kebetulan saja. Begitu juga makna di balik hari pasarannya.

Mustahil KPU RI menerbitkan surat bernomor 24/PL.02.7-SD/06/2025 itu dengan konsideran mempertimbangkan Primbon.

Namun tidak ada salahnya kita mengulik suatu realitas politik dengan sudut pandang  “supra natural” karena obyek yang kita cermati sarat dengan mitos. Terlebih di ranah budaya Jawa.

Seperti kuatnya kepercayaan bahwa calon presiden yang ke Kediri tidak akan menang dan Presiden yang ke daerah tersebut akan segera lengser.

Akibatnya pada pilpres 2024 lalu, tak satupun capres dan cawapres yang kampanye di Kediri.

Pernah pada pilpres 2019 lalu Sandriaga Uno berkunjung. Kemudian masyarakat mengaitkan kekalahannya.

Bahkan Jokowi yang senang melakukan kunjungan daerah dan dua periode menjadi presiden, hingga akhir jabatannya belum pernah menginjakkan kaki di Kediri.

Hanya mlipir di eks karesidenannya saja. Hal itu diakui oleh Pramono Anung  (seskab) sebagai pihak yang melarangnya.

Sebagai orang yang beriman pada Allah tentu kita tidak mempercayai hal-hal yang bersifat khurofat ( gugon-tuhon ) begitu, karena bisa merusak akidah kita.

Namun untuk menambah pengetahuan sosial-budaya kita, fenoma di atas akan sadarkan kita betapa kompleksnya makhluk Allah yang bernama manusia ini.

Sehingga kita dituntut untuk terus iqra dan iqra tentang ayat-ayat-Nya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, hingga akhir hayat.

Maka untuk sekedar menambah insight dalam iqra tersebut, saya ajak pembaca kembali ke neptu tadi.

Karena saya ingin menjadikannya sebagai gambaran ideal bagaimana sosok bupati Jombang dalam perspetif local wisdom ( kearifan lokal ).

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Pesantren di UGM

Mengingat Kamis Legi dalam “naungan” lakuning lintang, maka sosok yang terlahir ( baca: ditetapkan) pada hari tersebut sebagai penerima wahyu makutoromo ( titah penetapan penerima mahkota) diharapkan mampu menjalankan kepemimpinan mengikuti alur jalannya bintang.

Dengan demikian segelap apapun perjalanan yang dilalui. Bahkan di tengah laut sekalipun.

Dia tidak akan tersesat bila tak pernah melepaskan perhatiannya pada bintang yang memendar di langit.

Secara astronomis “letak” bintang lebih tinggi dari matahari dan posisinya bisa menjadi penunjuk arah para pengembara.

Maka dari itu, dalam Pancasila kita, Bintang menjadi lambang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, kepada para kepala daerah yang telah berketatapan, khususnya Bupati Jombang.

Saya beharap, ketika siang hari silakan susuri jalan di wilayah yang menjadi kewenangan anda dengan memberikan layanan sebagaimana karakter insan yang terlahir Kamis Legi di atas.

Namun, begitu mentari diselimuti malam, pandangilah “bintang” untuk mulat sariro (muhasabah), introspeksi : apakah yang Anda lakukan seharian tadi sudah searah dan sejalan dengan lakuning lintang.

Jika belum, jangan istirahat dulu. Maka buatlah rencana perbaikan untuk esok hari.  Tulis malam itu juga.

Dan bagikan tugas segera pada orang kepercayaan Anda yang ahli di bidangnya.

Sebaliknya, bila langkah Anda sudah selaras dengan jalur perjalanan bintang, maka istirahatlah dengan nyaman.

Karena Anda sedang tidur beralaskan amal shalih, berselimutkan doa-doa baik warga dan berbantalkan pahala.

Selamat mimpi indah dengan memperbanyak senyum bahagia para warga. Semoga mimpi kita menjadi kenyataan. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #Kearfian Lokal #pilkada #KPU #Bupati #jawa #penetapan