PERSETERUAN adalah situasi di mana konflik atau permusuhan antar para pihak, sedang terjadi.
Situasi itu kita rasakan bahkan sejak sebulan sebelum 2024, ketika KPU menetapkan 25 November 2023 sebagai batas akhir pencalonan DPD, DPR dan Presiden.
Maka, begitu masuk masa kampanye, para kandidat, tim sukses, pendukung dan simpatisan mulailah menabuh genderang “perang” untuk memperebutkan suara rakyat.
Mereka yang sevisi saling bergandeng tangan. Yang beda visi saling mengepalkan tangan.
Saat itulah upaya mengalahkan kompetitor dengan penjatuhan bahkan pembunuhan karakter ( character assassination ), menjadi sesuatu yang ringan dilakukan, tanpa rasa bersalah.
Bukan sindir-menyindir lagi yang digunakan untuk menyerang lawan, tapi sudah narasi-narasi hujatan vulgar yang diteriakkan.
Untuk kontestasi DPR apalagi DPD relatif kondusif. Saking kondusifnya, sampai masyarakat pemilih di pedesaan, banyak yang tidak tahu caleg-caleg yang mewakili dapil-nya.
Ketidak-tahuan inilah yang dimanfaatkan timses para kandiddat untuk mengarahkan massa agar memilih jagonya dengan iming-iming “pengganti” uang transpot.
Jika sudah demikian, Anda tidak perlu bertanya tentang sejauh mana masyarakat memahami program apalagi visi-misi caleg.
Karena masyarakat akar rumput kian pragmatis dan transaksional dalam menggunakan hak pilihnya.
Beda dengan pileg, pilpres justru sangat dinamis, untuk tidak mengatakan gaduh.
Masyarakat lebih merasa memiliki keterpanggilan dalam memilih presiden daripada caleg.
Akibatnya, baik di dunia nyata, lebih-lebih di dunia maya, perbincangan tentang pilpres sangat tinggi intensitasnya.
Hampir semua perbedaan antar capres laku dijual atau dikapitalisasi menjadi bahan kampanye, baik yang negatif maupun positif.
Mulai dari hal yang sumir ( remeh: cara minum ) hingga yang primordial ( prinsip : keyakinan / etnis ).
Alhamdulillahnya, para pasangan pilpres beragama yang sama, sehingga tidak sampai menyeret isu agama sebagai obyek kampanye.
Alhamdulilahnya lagi, pada tiap pasangan terdapat partai pendudukung yang berbasis massa ummat Islam. Hal itu bisa mengeliminasi menajamnya politik identitas.
Meski demikian, saya tetap khawatir atas keasyikan masyarakat dalam berkonflik.
Yang bisa membuat kita semua lupa akan tujuan memajukan kesejahteraan umum bagi seluruh warga negara RI.
Maka agar konflik tidak berkepanjangan, pada awal tahun 2024 lalu saya sampaikan imbauan di kolom ini (22/1) tulisan berjudul “Satu Putaran, Lebih Mudah Merukunkan”.
Karena saya pikir, bila sampai dua putaran, maka terlalu besar pengorbanan negara kita untuk membiayai perseteruan yang dilegalkan ini : pemilu.
Terlebih bila mengingat watak masyarakat kita yang pada umumnya masih beranggapan membela pilihan politik itu seperti membela agama, sehingga harus dibela mati-matian.
Akibatnya, bila kalah sulit sekali untuk move on, sekali lawan tetap lawan. Meski sang pemenang telah memberi tempat pada tokoh mereka yang kalah.
Khusus untuk tahun 2024 kemarin, saya menobatkannya sebagai tahun perseteruan politik yang paling personal.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Gaess, Aku di IKN
Bukan lagi kontestasi soal program dan visi-misi masing-masing kandidat. Juga bukan tentang ideologi atau program partai, tapi proxi war antara pribadi Jokowi melawan Megawati.
Perang pion itu tidak cukup pada pilpres, namun masih berlanjut hingga 27 November, saat pemilihan kepala daerah ( Provinsi, Kabupaten/Kota).
Dari realitas dinamika politik yang hiruk-pikuk itu, kita mestinya bisa mengambil pelajaran. Betapa dalam relasi politik tak ada lawan dan kawan yang abadi.
Kemarin sangat mencintai, hari ini sangat membenci. Atau, tadi pagi saling pukul, sorenya bisa saling rangkul.
Maka, agar dalam berpartisipasi politik kita tetap sehat jasmani dan rohani, hindari melibatkan hati yang berpotensi menumbuhkan cinta dan benci berlebihan.
Pandanglah persaingan politik itu sebagai pertunjukan drama saja. Jangan menangisi adegan tragis. Dan jangan menyoraki adegan perkelaian heroik.
Tonton dan nikmati saja acting para bintangnya. Toh sedih, gembira dan menang-kalah itu, sudah diskenariokan oleh Yang Maha Sutradara.
Kalaupun hati kita terpaksa harus terlibat, secukupnya saja. Agar mudah untuk move on.
Ingat pesan Rasulullah : “Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, karena suatu hari mungkin ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya pula, karena suatu hari mungkin ia menjadi orang yang kau sayangi”
Ternyata tidak hanya berlebihan makan dan minum yang tidak baik. Perihal cinta pun demikian.
Maka jangan mencintai dengan sepenuh hati, cukup setengahnya saja. Agar ada ruang untuk menerima kenyataan, bila suatu saat dia berubah.
Ingat..ruang untuk menerima kenyataan ya, bukan ruang untuk kehadiran yang lain.
Selamat memasuki tahun 2025. Salam sukses penuh berkah. (*)
Editor : Achmad RW