Subasita Wasistha merupakan sebuah organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang didirikan pada tahun 2020.
Organisasi ini muncul dari inisiatif sekelompok remaja yang berkumpul di tengah situasi pandemi COVID-19.
Dalam pertemuan-pertemuan yang sederhana tersebut, diskusi ringan berkembang menjadi pembicaraan yang lebih mendalam, menghasilkan berbagai ide konstruktif.
Kegiatan ini menarik perhatian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang kemudian mendorong pembentukan kelompok ini menjadi sebuah organisasi resmi yang berfokus pada pemberdayaan remaja.
Dengan demikian, PIK-R Subasita Wasistha hadir sebagai wadah untuk pengembangan diri dan edukasi bagi generasi muda.
Subasita Wasistha pada awalnya berfungsi sebagai wadah diskusi yang mengangkat isu-isu seputar Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja).
Organisasi ini memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesadaran remaja mengenai tiga risiko utama yang sering dihadapi oleh generasi muda, yaitu seksualitas, HIV/AIDS, dan penyalahgunaan narkoba (NAPZA).
Seiring berjalannya waktu, Subasita Wasistha berkembang menjadi sebuah organisasi yang lebih terstruktur dan memberikan dampak yang signifikan bagi komunitasnya.
Salah satu program unggulan yang diluncurkan adalah Sekolah Perempuan, yang bertujuan untuk memberdayakan remaja perempuan melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan hidup.
Selain itu, organisasi ini juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kesehatan reproduksi dan risiko perilaku remaja.
Program-program yang dijalankan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja tentang pentingnya kesehatan reproduksi serta memberikan dukungan dalam mengatasi masalah psikososial yang sering dihadapi oleh remaja.
Baca Juga: Partisipasi LSM terhadap BKM dalam Pemberdayaan Masyarakat
Namun ada beberapa tantangan atau masalah yang harus dihadapi oleh Subasita Wasistha, salah satu tantangan signifikan yang dihadapi oleh PIK-R Kota Malang adalah kesulitan dalam menarik anggota baru.
Hal ini disebabkan oleh rendahnya minat remaja untuk berpartisipasi dalam organisasi, serta persepsi bahwa organisasi tersebut kompleks dan membatasi.
Banyak remaja di desa Ngijo memiliki pandangan negatif terhadap kegiatan berorganisasi, sehingga menyulitkan upaya untuk mengajak mereka bergabung dengan PIK-R.
Kedua, kepercayaan antar anggota juga menjadi isu penting. Di PIK-R, terdapat persepsi bahwa remaja sulit untuk diarahkan dan sering kali menolak pengaruh dari orang dewasa atau sistem yang ada.
Dalam konteks teori Putnam, kepercayaan merupakan dasar dari hubungan sosial yang sehat, yang mendukung partisipasi dan kolaborasi.
Oleh karena itu, PIK-R perlu menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang efektif dengan remaja.
Ketiga, norma yang berlaku di masyarakat sekitar juga berpengaruh terhadap keberhasilan PIK-R.
Di desa Ngijo, norma yang berkembang cenderung mengarah pada perilaku yang kurang positif, dengan role model yang tidak mendukung pencapaian dalam hal-hal yang konstruktif.
Kondisi ini menyulitkan PIK-R dalam memotivasi remaja untuk bergabung dan berpartisipasi dalam organisasi.
Menurut Putnam, norma sosial yang mendukung perilaku positif dan kolaborasi akan memperkuat modal sosial.
Sehingga, PIK-R perlu menciptakan norma baru yang lebih mendukung kesuksesan, prestasi, dan nilai positif bagi remaja.
Menurut teori modal sosial yang dikemukakan oleh Robert Putnam, teori ini mencakup tiga komponen utama: jaringan, kepercayaan, dan norma. Pertama, jaringan yang ada dalam PIK-R mengalami kendala dalam menjangkau generasi muda, seperti siswa SD dan SMP.
Rendahnya minat remaja untuk terlibat dalam organisasi, serta anggapan bahwa organisasi bersifat rumit dan mengikat, mengurangi efektivitas jaringan sosial yang telah dibangun.
Oleh karena itu, PIK-R perlu mengembangkan jaringan yang lebih menarik bagi kelompok usia tersebut dengan pendekatan yang lebih santai dan tidak terkesan formal.
Hal ini sejalan dengan pandangan Putnam yang menyatakan bahwa jaringan sosial yang kuat dapat mendorong partisipasi aktif dan memperkuat modal sosial dalam komunitas.
Sebagai solusi, PIK-R mengusulkan untuk lebih memfokuskan perhatian pada perekrutan anak-anak di tingkat SD, yang lebih mudah diarahkan dan dapat diberikan inspirasi positif.
Dengan memulai perekrutan sejak usia dini, PIK-R berharap dapat membangun fondasi yang kuat bagi remaja untuk menjadi individu yang mandiri dan berprestasi di masa depan.
Kegiatan yang menarik dan sesuai dengan usia mereka, seperti permainan edukatif, lomba kreatif, atau aktivitas menyenangkan lainnya yang tetap memberikan nilai edukasi, dapat dijadikan metode untuk menarik perhatian mereka.
Penulis:
Nadi Fatul Ainiyah
Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Achmad RW