Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Chat GPT sebagai Alat Bantu dalam Pendidikan Dokter: Membantu atau Justru Menurunkan Kualitas Dokter di Masa Depan

Achmad RW • Senin, 30 Desember 2024 | 17:43 WIB
Photo
Photo

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) telah memberikan dampak yang signifikan di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan.

Salah satu inovasi dalam bidang AI adalah chatbot yang didukung oleh model bahasa seperti ChatGPT (Maulidina, n.d.).

Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan informasi dengan cepat melalui interaksi percakapan, sehingga menjadi alat yang sangat berguna bagi banyak kalangan, termasuk mahasiswa kedokteran.

ChatGPT, yang dikembangkan oleh OpenAI, memiliki kemampuan untuk memproses dan memahami bahasa manusia, menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan tentang berbagai topik, dan memberikan informasi secara instan (Gafar, 2024).

Mahasiswa kedokteran, yang merupakan kelompok pelajar dengan tuntutan pembelajaran yang sangat tinggi dan beragam, telah banyak memanfaatkan teknologi ini untuk mendalami materi kuliah, mempelajari berbagai konsep medis, serta memahami dan menganalisis berbagai studi kasus yang kompleks.

ChatGPT memberikan kemudahan dalam mengakses informasi secara cepat, tanpa harus menunggu pertemuan kelas atau konsultasi dengan dosen.

Teknologi ini memungkinkan mereka untuk belajar dengan kecepatan yang lebih fleksibel, sesuai dengan kebutuhan individu, serta mendapatkan informasi yang lebih beragam dari berbagai sumber.

Sebagai hasilnya, AI berpotensi mempercepat proses pembelajaran dan memperluas wawasan mahasiswa kedokteran.

Namun, seiring dengan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi ini, muncul pula pertanyaan tentang bagaimana penggunaan ChatGPT dapat memengaruhi kualitas pendidikan kedokteran itu sendiri.

Pertama-tama, meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan, ada potensi besar bagi mahasiswa untuk terlalu mengandalkan ChatGPT dalam mencari jawaban atau informasi, yang dapat mengarah pada penurunan kemampuan mereka untuk berpikir kritis atau mengevaluasi sumber informasi secara mendalam.

Penggunaan teknologi AI dalam pendidikan kedokteran bisa membuat mahasiswa lebih memilih jalan pintas, tanpa berusaha memahami materi secara lebih mendalam atau mencari referensi tambahan yang lebih tepercaya.

Selain itu, meskipun ChatGPT memberikan jawaban cepat dan mudah diakses, tidak ada jaminan bahwa informasi yang diberikan oleh teknologi ini selalu akurat atau dapat dipercaya.

Meskipun didukung oleh basis data yang luas, ChatGPT masih memiliki keterbatasan dalam hal memahami yang lebih dalam dan memberikan jawaban yang benar-benar tepat dalam setiap situasi.

Pada beberapa kasus, informasi medis yang diberikan oleh ChatGPT bisa jadi kurang tepat, atau bahkan menyesatkan jika tidak disaring dengan hati-hati (Serdianus & Saputra, 2023).

Hal ini menjadi lebih berisiko dalam dunia kedokteran, di mana keputusan medis yang salah dapat berakibat fatal bagi pasien.

Oleh karena itu, meskipun ChatGPT bisa memberikan informasi yang bermanfaat, mahasiswa kedokteran tidak boleh mengandalkan teknologi ini secara penuh tanpa verifikasi lebih lanjut dari sumber-sumber yang lebih tepercaya, seperti buku teks medis atau artikel ilmiah.

ChatGPT dan teknologi AI lainnya dapat berperan besar dalam pendidikan kedokteran di masa depan, dengan syarat bahwa penggunaannya dilakukan secara bijaksana dan seimbang.

Teknologi ini dapat membantu mempercepat akses informasi dan mendukung proses pembelajaran, tetapi tidak boleh mengurangi pentingnya pengalaman langsung dalam praktik medis.

Pendidikan kedokteran harus tetap mengutamakan pengembangan keterampilan klinis, berpikir kritis, serta kemampuan komunikasi yang efektif bagi seorang dokter.

Dengan cara yang tepat, ChatGPT dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna dalam mencetak dokter yang kompeten dan siap menghadapi tantangan medis di masa depan. (*)

Sumber:

Gafar, M. F. (2024). Jembatan ilmu: AI dalam konteks akademis untuk masa depan pendidikan. CV Brimedia Global.

Maulidina, N. (n.d.). Komparasi Teknik Penerjemahan Chatgpt Dan Bing Chat Pada Teks Berita Kesehatan Jiwa Mawdoo3. Com. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif HIdayatullah Jakarta.

Serdianus, S., & Saputra, T. (2023). Peran artificial intelligence ChatGPT dalam perencanaan pembelajaran di era revolusi industri 4.0. Masokan Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 3(1), 1–18.

 

Penulis:
Salsabila Nasywa Caesar
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga
(salsabila.nasywa.caesar-2024@fk.unair.ac.id)

Editor : Achmad RW
#artificial intelegence #teknologi #ai #Chat GPT #dokter #KEsehatan #pendidikan