Pendusta agama..? Mereka yang melantarkan anak yatim. ’’Fa dzalik al-ladzi yadu’u al-yatim.’’
Anak yatim memang mendapatkan perlindungan lebih dalam Alquran. Siapa yang memuliakan, maka Tuhan selalu mendampinginya.
Siapa tak peduli, dia akan berhadapan dengan Tuhan sendiri. Ya, karena Tuhan Sendiri yang menjadikan dia yatim, dengan mematikan bapaknya, maka Tuhan bertanggung jawab atas apa yang telah menjadi keputusan-Nya.
Tidak ada wanita normal yang pingin ditinggal mati suaminya, lalu anak-anaknya menjadi yatim. Karena itu pasti beban dan penderitaan.
Persoalannya kini, bagaimana jika si yatim tersebut kaya raya, warisannya banyak, masihkah kita memuliakan..?
Hukum tetap dan tidak berubah, bahwa anak yatim wajib disayang dan dimuliakan.
Pada konteks ini, tentu cara pemuliaannya beda. Bukan disantuni dengan uang, melainkan disantuni dengan kasih sayang dan perhatian, didampingi dan dibimbing sebaik mungkin.
Kesedihan mereka, nelongso dan tetesan air matanya nyata ketika dia menyaksikan teman sebayanya pada didampingi dan disayang, dirangkul, serta bermanja-manja dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
Saat begitu itu, tidak ada lagi gunanya punya aset dan kekayaan berlimpah. Sebab kebahagiaan tidak terbatas hanya pada materi belaka.
Justru kebahagiaan ruhani jauh lebih segalanya disbanding kebahagiaan materi. Karena itu, kita sama sekali tidak diperkenankan menghardik, merendahkan atau bermuram wajah kepada anak yatim, apapun alasannya.
’’Fa amma al-yatim fala taqhar.’’ Jika besengut dan tidak ramah saja tidak diperbolehkan, bagaimana dengan menzalimi mereka, memakan harta mereka dengan cara tidak benar. Sungguh tak terbayangkan dosanya.
Ya, di samping ada anak yatim yang berprestasi, banyak sekali mereka yang membandel, ndableg tur geregetno.
Ya, begitulah nyatanya dan tak terpungkiri. Itu semua harus kita sikapi sebagai ujian bagi kita yang dewasa dan berusaha mematuhi perintah agama lewat penyikapan terhadap anak yatim.
Di sini, Tuhan hadir menilai siapa di antara kita yang bersabar. Sekedar berpendapat, penulis kurang apresiatif terhadap Yayasan atau panti asuhan anak yatim, di mana anak-anak yatim ditarik masuk asrama dan terpisah dari keluarganya.
Meskipun dijamin makan dan segalanya, tapi ada yang hilang dan tak tergantikan. Apa..?
Yaitu bercengkerama, bersenda gurau, bepaguyuban bersama keluarga, sanak dan saudara. Dan itu sungguh kebahagiaan dan kenikmatan psikologis tertinggi.
Usulannya adalah: Biarkan saja anak yatim itu tetap tinggal bersama ibu atau bapak atau keluarganya, jika ada yang berkenan dan layak merawat dan mendidik secara wajar.
Sementara tugas yayasan atau panti adalah mensubsidi dan membina. Keuangan
dan biaya hidup yang dibutuhkan dicukupi oleh yayasan, dengan tetap ada bimbingan dan pengawasan secara wajar dan istiqamah.
Sungguh ini lebih mensejahterakan si yatim, baik dari sisi fisik maupun psikis.
(bersambung, in sya’ Allah)
Editor : Achmad RW