SESAAT setelah melaksanakan hak sebagai pemilih, kami segera bersiap untuk ke Bandara Juanda.
Di sana sudah menunggu rombongan Tour Mesir yang difasilitasi Biro Travel ITS. Kami pamitan kepada para saudara yang sedang berkumpul di Ponti Darul’Ulum.
Mereka baru selesai nyoblos. Sebelum berangkat, saya ajak semuanya berdoa sebagaimana anjuran Rasulullah bila kita menghadapi ketidakpastian dengan kemungkinan baik dan buruk.
'Allahumma la ya'ti bil hasanati illa Anta, wa la yadzhabu bis syaiati illa Anta, wa la haula wa la quwwata illa billah.' (Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang dapat menghilangkan keburukan kecuali Engkau. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah).
Doa itulah yang selalu saya lafalkan manakala saya memimpin doa pada momen kegiatan penting cagub 03 di KPU Jatim.
Mulai dari pendaftaran, pengundian nomor hingga tiap sesi debat. Saya menyebutnya sebagai doa akal sehat.
Karena dengan memahami makna doa itu, kita menyadari adanya ranah yang sama sekali bukan untuk kita. Ranah untuk Allah memutuskan kehendak-Nya yang absolut.
Sehingga kewajiban kita “hanya” terbatas pada ranah berjuang dengan sekuat daya dan upaya kita.
Maka, ketika kelak perjuangan kita belum membuahkan hasil sesuai harapan, akal kita masih sehat dan tidak panik. Begitu juga jika berhasil, akal kita bisa menasehati hati agar tidak takabur.
Pukul 21.35 waktu Airport Dubai, bertepatan dengan pukul 00.35 WIB (28/11) kami transit di bandara tersibuk di dunia itu.
Markasnya maskapai Emirates, pemilik klub sepakbola Manchester City. Saya langsung aktifkan jaringan internet. Karena selama di pesawat, wifi tidak terkoneksi.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Pesantren di UGM
Memang tidak semua jenis pesawat ada internetnya. Beda kalau kita terbang dengan pesawat Saudia.
Dapat jatah gratis 25 mb, kalau mau nambah bisa beli. Tapi harganya muuahal. Sambil menunggu penerbangan connected ke Kairo, saya buka Youtube live streaming TV Kompas.
Ternyata sudah muncul hasil hitung cepat tiap-tiap propinsi yang ditampikan secara running text. Begitu giliran Jatim, lansung saya screenshot.
Data masuk sudah 100%. Pasangan Luluk & Lukman 8,49 %, Khofifah & Emil 58,73 %, dan Risma & Hahan 32,78 %.
Sebagai orang yang pernah belajar analisis kuantitatif, maka data yang diperoleh dari sample yang diambil secara systematic random sampling dengan margin of error hanya ±1 % dan level of confidence setinggi 95%, maka saya dapat memastikan bahwa hasil hitung cepat di atas telah merepresentasikan data seluruh populasi (pemilih Jawa Timur).
Artinya, keunggulan Khofifah & Emil itu akan terkonfirmasi dengan realitas di lapangan oleh KPU.
Kalaupun ada selisih, tak akan lebih dari 2%. Sehingga tidak signifikan untuk merubah peringkat.
Seketika itu, sebagai penasihat timses 03 saya bersedih. Wajar, siapa pun akan merasakan hal yang sama bila harapannya tidak terwujud.
Namun, begitu mencermati perolehan suaranya yang jauh di atas capres usungan PDIP Ganjar-Mahfud, saya lega dan bersyukur.
Apalagi jika dibandingkan dengan perolehan Bambang DH-Said Abdullah pada pilgub Jatim 2013 yang hanya mendapat 12,69 %. Maka angka 32 % itu sudah merupakan prestasi yang istimewa.
Keistimewaan itu dapat dipandang dari dua sisi. Pertama, dilihat dari kompetitornya. Kandidat 02 adalah petahana yang sekaligus bagian dari presiden Prabowo.
Sudah begitu, didukung oleh 6 partai parlemen dan 8 non-parlemen. Berarti merupakan lawan yang mengakar di birokrasi dan sangat tangguh.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Melawat ke Bumi Etam
Yang kedua, dilihat dari sisi internal pasangan 03. Bu Risma hanya didukung PDIP dan Hanura (non-parlemen).
Sementara itu, PDIP saat ini sedang menghadapi ujian berat sebagai imbas dari keretakannya dengan Jokowi.
Resistensi masyarakat pemilih Prabowo-Gibran ( di Jatim 65% ) terhadap PDIP demikian kuat.
Sampai-sampai jargon “bantai banteng” begitu keras menggaung di berbagai platform media sosial. Ini artinya, 03 harus “melawan” sentimen negatif para pemilih.
Maka di mata saya, capaian angka 32 % itu sejatinya bukan kegagalan tapi prestasi dari kemampuan menyatukan berbagai komunitas pemilih yang diikat dengan niat yang sama untuk menghadirkan pemimpin Jawa Timur yang lebih baik.
Untuk itu, di kesempatan ini saya sangat berterima kasih pada para pemilih, khususnya komunitas pesantren se Jatim dan walisantri, alumni serta simpatisan Darul’Ulum yang secara gas-poll bersama keluarga besar pesantren kami mendukung Risma-Hahan.
Adapun pemenang sejati dari kontestasi ini adalah : kita semua yang mampu memilih dengan mengikuti suara hati yang penuh cinta dan rasa syukur.
Tepat pukul 08.40 (28/11) pesawat kami mendarat di Kairo dengan suhu udara 22o C. Di pintu keluar nomor 6 kami disambut dua anak kami dan para alumni Darul’Ulum yang kuliah di sana.
Insya-Allah, perjalanan kami di negeri Fir’aun itu akan saya ceritakan di kolom ini. Salam sehat selalu. (*)
Editor : Achmad RW