Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Hati  Bukan Kotak Suara

Achmad RW • Senin, 18 November 2024 | 13:44 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

TINGGAL menghitung hari. Pemilihan kepala daerah dilaksanakan. Maka saat ini para calon bupati-walikota dan gubernur makin intens menggalang suara.

Diikuti timses-nya yang mulai terpancing info hasil survei kemenangan atau kekalahan jagoannya yang membuat adrenalin mereka kian terpacu.

Perasaan takut kalah dan ingin menang menyesaki hati mereka. Jika mereka “lemah”, maka perasaan itu akan mendorongnya untuk melakukan tindakan negatif : melegalkan cara illegal dan tak pantas.

Saya berharap yang berkompetisi di kabupaten-kota dan Propinsi Jawa Timur ini adalah para kontestan dan timses yang “kuat” sehingga mampu menjaga komitmen untuk bertanding dengan fair & clean.

Kondisi “lemah atau kuat” di atas merupakan cerminan dari fluktuasi perasaan akibat dari pelibatan hati dalam bermain politik praktis. Ya, politik itu memang sebuah permainan.

Tak ubahnya seperti sepak bola. Ada menang-kalah. Mengandung “misteri” juga. Sehingga ada ungkapan : bola itu bundar. Yang bermakna bahwa apa pun bisa terjadi dalam pertandingan.

Ini mengingatkan kita akan hasil pertandingan yang tidak selalu bisa diprediksi dan penuh dengan kejutan.

Misalnya, tim yang dianggap lebih lemah bisa saja mengalahkan tim yang lebih kuat karena berbagai faktor, seperti keberuntungan, kondisi pemain, atau strategi permainan yang efektif.

Siapa sangka kesebalasan Arab Saudi pada piala dunia 2022 bisa menundukkan Argentina si juara dunia dua kali.

Oleh karena itu, sebagai penonton atau suporter pertandingan sepak bola, seharusnya kita berperilaku yang baik dan rasional.

Jangan terlalu emosional. Karena emosi kita tidak bisa memengaruhi score hasil pertandingan. Tapi malah menyiksa bathin sendiri.

Begitu juga dalam kontestasi pilkada. Jangan terlalu melibatkan emosi perasaan dalam hati. Jadilah  pendukung dan pemilih yang rasional.

Karena pilkada hanya permainan politik dari pertandingan memperebutkan medali otoritas.

Oleh sebab itu, dari realitas yang saya amati selama ini, saya menangkap fenomena bahwa kadar rasionalitas seseorang dalam berpolitik ternyata sangat kuat berkorelasi dengan kematangan jiwa kenegarawanan seseorang.

Dengan kata lain, semakin kecil seseorang itu melibatkan emosi akan  semakin besar peluang meningginya  jiwa kenegarawanan.

Demikian juga sebaliknya. Maka ketika kita melihat individu yang belum bisa “move on” setelah pemilu, dengan tetap merawat  “kompetisi” (baca: permusuhan) yang diekspresikan melalui ujaran kebencian.

Dapat dipastikan bahwa individu tersebut terlalu melibatkan emosi atau hatinya. Sehingga terkikislah jiwa kenegarawanannya.

Individu seperti itu sebaiknya kita kenalkan dengan perspektif santri yang unik dalam menyikapi dinamika politik yang berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di tingkat manapun, supaya cepat move on.

Santri paham betul bahwa kanjeng Nabi memerintah ummatnya untuk mengangkat seorang pemimpin bila terdapat 3 orang dalam perjalanan.

Dalam skala kecil saja harus mengangkat pemimpin, apalagi bila yang terlibat dalam “perjalanan” itu berlipat dalam jumlah ribuan bahkan jutaan. Maka keberadaan pemimpin menjadi sebuah keniscayaan.

Dari situlah kemudian muncul diskursus tentang proses pengangkatannya : apakah ditunjuk, disepakati atau dipilih. 

Masing-masing proses tidak menjamin kepuasan semua pihak, karena proses itu hanya berhenti pada aspek legalitas pengangkatannya saja.

Maka ketidak-puasan akan selalu hadir pada hasil penetapannya. Baik dari pihak yang tidak tertunjuk, tidak tersepakati maupun tidak terpilih.

Demikian juga para pendukungnya. Ketidak-puasan itu akan berkepanjangan manakala mereka meyakini bahwa pendukunglah yang menjadi penyebab diangkat-tidaknya idola mereka menjadi pemimpin.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Melawat ke Bumi Etam

Bila keyakinan itu demikian menguasai hati, akan berpengaruh pada tumbuhnya fanatisme yang memberangus akal sehat.

Maka untuk menghilangkan keyakinan tersebut, komunitas santri disadarkan oleh firman Allah SWT pada surat Ali Imron 26 yang ringkasnya berbunyi: Allah berikan kerajaan/kekuasaan kepada siapa yang Allah kehendaki dan Allah cabut kerajaan/kekuasaan dari siapa yang Allah kehendaki.

Firman tersebut mengisyaratkan bahwa pada akhirnya Allah-lah yang memiliki hak prerogative untuk memosisikan hamba-Nya pada maqam / level  tertentu. Kita sekedar dalam kapasitas sebagai pengaju proposal saja ke pada Allah

Untuk itu, agar kita tetap bersikap rasional dengan akal sehat dalam urusan politik pemilu, sebaiknya letakkan hasil survei, brosur visi-misi, stiker paslon, dan kertas suara, cukup di genggaman tangan saja.

Jangan pernah masukkan dalam hati, karena hati bukan kotak suara. Juga bukan ruang hampa.

Ingat dawuh Syeh Abdul Qadir Jailani : letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu.  

Agar hati kita hanya dipenuhi dengan dzikir untuk menambah rasa cinta pada sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Salam seneng bareng. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #calon #Gubernur #pilkada #kotak suara #Bupati #hati #walikota