Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Pesantren Transformatif

Achmad RW • Senin, 4 November 2024 | 12:40 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

IKHLAS di benak para kiai tempo dulu, diwujudkan dengan penolakan untuk berfikir tentang keberlanjutan atau sustainability pesantrennya. Begitu kata Gus Yahya Staquf.

Akibatnya, keberadaan pesantren timbul-tenggelam dari satu tempat ke tempat lain mengikuti masa hidup sang kiai.

Di masa pra kemerdekaan, peran kiai memang sangat dominan di tengah masyarakat. Relasi yang terbangun tidak hanya guru-murid dalam pesantren, tapi juga patron-client dalam komunitas sosial.

Itu menunjukkan bahwa secara individual, kiai tak hanya tempat bertanya tentang syariat Islam, tapi juga menjadi tempat mencari solusi dalam hadapi problema keseharian.

Dengan demikian, seorang kiai di masa lalu adalah figur sentral yang mumpuni dalam segala hal. Petani yang akan bercocok tanam.

Orangtua yang mau menikahkan anaknya. Orang yang sakit (apapun penyakitnya). Pedagang yang seret penjualannya.

Hingga calon lurah yang akan “njago”.  Semuanya datang ke kiai untuk meminta advice  dan “syarat” agar masalah atau kesulitannya teratasi.

Namun seiring dengan perjalanan waktu yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong terjadinya upaya pemecahan solusi berbasis riset ilmiah yang terbuka.

Semua orang bisa belajar dan menguasainya, tanpa pandang bulu. Akibatnya pengaruh kiai terdistribusikan pada individu yang memiliki kompetensi tertentu. Sekadar mengambil contoh kecil.

Dulu, bila ada orang yang sakit gigi, dibawa ke kiai. Kemudian ditulislah pada kertas tulisan rajah “pengobatan”, lalu tulisan itu dipaku di gawang.

Ndilalah kersane Gusti Allah, ( anehnya atas kuasa Allah ) lenyaplah rasa sakit itu. Begitu juga ketika petani yang sawahnya diserang hama.

Dia datang ke kiai minta air doa. Kemudian air itu dikucurkan mengelilingi pematang sawah. Atas kuasa Allah, hama pun tak menyerang lagi.

Namun ketika dokter gigi sudah banyak dan sarjana pertanian ahli hama semakin afektif perannya, masyarakat mulai perlahan meninggalkan kiai. Terjadilah pergeseran peran kiai pada domain religiositas semata.

Maka agar kehadiran para kiai tetap eksis membersamai ummat dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih kompleks, mereka dengan basis religi yang kuat menyatukan diri membentuk organisasi keagaamaan untuk mengangkat harkat dan martabat ummat di segala bidang kehidupan.

Dari situlah, para kiai mendirikan perkumpulan berpondasikan ajaran Islam, di antaranya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Pada saat kehadiran NU mulai dirasakan manfaatnya oleh ummat, menginpirasi para pengurus NU dan anggotanya untuk berjuang menjaga eksistensi jam’iyah tersebut.

Dari sinilah para aktifis NU yang rata-rata kiai, saat itu mulai berfikir : siapa yang akan meneruskan perjuangan NU sepeninggalnya kelak.?

Munculnya kekhawatiran akan bubarnya NU lantaran tidak memiliki generasi pelanjut yang mumpuni, menggugah hati para kiai untuk menyiapkan generasi yang mampu menjadi penjaga sustainability (keberlanjutan) organisasi pejuang ahlus sunnah wal jamaah di tanah air.

Maka, sejak itu para kiaipun tidak lagi fatalistik dalam memandang masa depan sehingga beliau merasa berkewajiban menyiapkan putra-putranya dengan membekali pendidikan di segala disiplin ilmu.

Ghirah  ( semangat ) para kiai untuk menjaga eksistensi NU itulah kemudian menginspirasi para kiai pemangku pesantren memikirkan keberlanjutan lembaga pendidikannya itu.

Sehingga mereka menjadikan kesiapan generasi mendatang sebagai misi  yang tak terpisahkan dengan upaya meng-istiqamahkan kemanfaatan lembaganya untuk ummat.

Dengan kata lain, konsep ikhlas yang dulu diwujudkan dengan menolak memikirkan keberlanjutan pesantren, telah dikoreksi.

Sekarang pengasuh pesantren tidak hanya memikirkan bagaimana pesantrennya pada hari ini, tapi juga bagaimana pada hari-hari yang akan datang.

Dampaknya luar biasa. Dengan perspektif para kiai bahwa NU dan pesantren harus eksis berkelanjutan, maka beliau semua memotivasi putra-putrinya untuk meningkatkan kompetensi intelektualitasnya di berbagai disiplin ilmu sebagai calon penerima tongkat estafeta perjuangan.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: NU & Dinamika Pilkada

Kita bisa melihat tokoh fenomenal KH. A. Wahid Hasyim kala itu. Putra-putrinya dididik tidak hanya di pesantren tapi juga beberapa putranya di perguruan tinggi, di dalam dan luar negeri.

Maka jika di kemudian hari ada kiai yang mengirim anak-anaknya kuliah di kampus-kampus, baik di bawah Dikti maupun Diktis (Islam), itu merupakan indikasi kuat bahwa pesantren telah mengalami tranformasi untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan ummat.

Semakin pesantren itu mampu memenuhi kebutuhan yang terus berkembang, semakin besar peluangnya untuk bertahan hidup secara berkelanjutan.

Alhamdulillah saat simposium pesantren di UGM itu pesertanya banyak yang berusia muda. Sehingga Gus Yahya memperkenalkan saya sebagai “sesepuh” pesantren imajiner di UGM :).

Mayoritas mereka memang para “gawagis dan nawaning” putra-putri kiai yang masih fresh. Bahkan ada yang baru lulus pasca sarjana Unipdu.

Realitas yang memberikan optimisme akan keberlanjutan pesantren untuk tetap eksis dalam pergulatan menghadapi sang waktu yang tak kenal kompromi.

Karena itu, pesantren harus senantiasa menyambung juang untuk merengkuh masa depan. Wallahu-a’lam bishshawab. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #NU #Pesantren #transformatif #kiai