Namun di balik itu, ada aspek lain yang sangat penting, yaitu kemampuan literasi.
Ini meliputi kemampuan memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi yang merupakan keterampilan vital dalam menentukan apakah Indonesia mampu bersaing di panggung global di abad ke-21 ini.
Bayangkan sebuah negara di mana setiap warga negaranya tidak hanya mampu membaca dan menulis.
Tetapi juga mahir dalam literasi digital, finansial, dan sains. Inilah Indonesia yang kita impikan di tahun 2045.
Namun, mimpi ini tidak akan terwujud tanpa tindakan nyata, terutama di sektor pendidikan.
Beberapa sekolah di Indonesia telah mulai mengimplementasikan program literasi yang menjanjikan.
Misalnya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang berhasil meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswanya.
Kegiatan di dalamnya meliputi program 15 menit membaca buku non-pelajaran di pagi hari.
Program pojok baca dengan koleksi buku yang beragam. Program jurnal baca, serta Lomba literasi seperti menulis cerita pendek dan resensi buku.
Kita membutuhkan revolusi literasi yang dimulai dari sekolah.
Baca Juga: Tafsir Menjelaskan Mengapa Alah Bersumpah Menggunakan Waktu di Surat Al Ashr
Hal ini bukan hanya tentang menambah jam membaca atau memperbanyak buku di perpustakaan.
Namun juga mengubah cara kita memandang dan mengajarkan literasi.
Literasi di era modern mencakup kemampuan untuk memahami data, menggunakan teknologi secara efektif, dan berpikir kritis terhadap informasi yang membanjiri kita setiap hari.
Tanpa keterampilan ini, generasi muda kita akan kesulitan bersaing di pasar kerja global yang semakin kompetitif.
Ini adalah tugas kita semua. Setiap warga negara harus mengambil perannya masing-masing.
Perusahaan dapat bermitra dengan sekolah untuk memberikan pengalaman praktis.
Komunitas dapat menyelenggarakan program literasi di lingkungan mereka.
Orang tua dapat menanamkan kebiasaan membaca dan belajar di rumah.
Mari kita jadikan literasi sebagai gerakan nasional. Karena hanya dengan membangun fondasi literasi yang kuat, kita dapat membuka pintu menuju Indonesia Emas 2045 yang kita impikan bersama.
Di MTsN 9 Jombang, siswa tidak hanya dibiasakan menulis dan membaca buku. Namun juga membaca Alquran.
Setiap hari para siswa bersama-sama membaca empat halaman Alquran. Dua halaman setelah jamaah salat Duha.
Serta dua halaman setelah jamaah salat Duhur. Literasi Alquran ini sangat penting karena dengan membaca Alquran kita akan mendapatkan semua manfaat membaca.
Baca Juga: Inovasi dalam Rencana Aksi Perubahan Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam adalah pemimpin paling sukses di dunia.
Dan satu-satunya yang dia baca adalah Alquran. Idealnya, kita setiap hari membaca Alquran dan membaca buku.
Namun jika tidak, minimal setiap hari kita harus membaca Alquran yang memberikan kita semua ilmu yang diperlukan dalam kehidupan. (*)
Oleh:
Nur Alawi Hudayana SPd MPd
Guru MTsN 9 Jombang