“MASAK baru kali ini ke Kaltim, pak.?” Sergah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, seolah tak percaya ucapan saya.
Bahwa siang tanggal 14 September kemarin adalah kunjungan perdana saya di provinsi yang berjuluk Bumi Etam, penghasil aneka tambang itu.
Saya dijemputnya di VIP Room bandara Samarinda. Kebetulan bersamaan dengan kedatangan Sekdaprov NTB, Lalu Gita Ariadi untuk menghadiri acara penutupan MTQ Nasional.
Dari bandara langsung menuju resto Kampung Kecil mengikuti jamuan makan siang. Lanjut ke hotel Mercure.
Tiba di hotel istirahat sebentar, karena tepat jam 16.00 saya akan dijemput alumni Darul’Ulum untuk hadiri selamatan pembukaan warungnya sambil silaturrahim dengan para alumni yang sudah lama tidak ke almamaternya.
Saya tidak menduga yang hadir cukup banyak. Padahal undangannya dadakan dan rumah mereka berjauhan.
Ingat bahwa luasan kabupaten di Kaltim bila dibandingkan dengan di Jawa, bisa berkali lipat.
Misal, Kabupaten Kutai Kartanegara luasnya 27.263 Km2, bandingkan dengan Jombang yang hanya 1.159 Km2.
Maka, kalau mereka datang dari luar Samarinda, berarti mereka menempuh perjalanan minimal satu jam. Alhamdulillah mereka ceria dan bahagia semuanya.
Tampak kerinduan di wajahnya pada pesantren yang pernah menggembleng mereka.
Saya jadi ingat dawuh para sesepuh dulu, salah satu tanda keberkahan ilmu yang diperoleh di pesantren adalah terawatnya rasa rindu pada para kiai dan guru yang pernah membimbing mereka.
Dari rasa rindu itulah selalu termohon doa-doa terbaik untuk para murabbinya. Bukankah rasa rindu adalah doa terbaik yang tak terucap untuk yang dirindukan?
Dari acara tersebut diperoleh kesepakan untuk mengadakan pertemuan alumni secara rutin dwiwulanan pada minggu kedua.
Dengan kegiatan utama silaturrahim dan istighotsah yang pembukaannya akan diselenggarakan di rumah saudara Fuad, anggota DPRD Kaltim.
Selesai acara selamatan dengan alumni, saya diajak ibu Kadis menikmati keindahan malam di beberapa destinasi wisata Samarinda.
Objek pertama adalah Teras Samarinda yang baru diresmikan 9 September lalu.
Tepian Sungai Mahakam yang didesain bagai teras atau selasar sepanjang (rencananya) 6,3 Km yang akan membentang dari Jembatan Mahakam hingga kawasan Klenteng Thien Ie Kong.
Lokasi wisata ini berupaya mengekplorasi keindahan pemandangan sungai dengan melihat kapal hilir-mudik menyusuri Sungai Mahakam.
Venue ini sepertinya diilhami pengelolaan river side sungai Thames di Inggris yang menjadi jujugan utama para wisatawan dengan pemandangan iconic Tower Bridge-nya. Sementara di Samarinda dengan Jembatan Mahakam-nya.
Dari tepian sungai, kami menyeberang jalan menuju Islamic Center Baitul Muttaqien yang merupakan salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara dengan daya tampung 45.000 jamaah.
Bila Masjid Akbar Surabaya didominasi warna biru, masjid kebanggaan masyarakat Kaltim yang menara utamanya setinggi 99 m itu didominasi warna coklat pasir gurun. Khas warna arsitektur maghribi.
Di halamannya yang luas, malam itu tertata rapih puluhan tenda booth UMKM untuk memeriahkan event MTQN ke 30.
Ramai sekali pengunjungnya, karena pas malam Minggu.
Setelah itu kami bergegas menuju Jembatan Mahakam yang tadi tampak dari Teras Samarinda.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Selamat Datang di Jombang
Untuk dapat angle yang bagus melihat keindahan jembatan yang bersinar, saya disilakan naik ke lantai 5 hotel Harris.
Betul juga. Dari ketinggian dan jarak yang pas, saya bisa melihat landscape jembatan lebih utuh, baik sisi terang maupun gelapnya.
Saya jadi teringat kata guru saya : bila engkau ingin menilai sesuatu secara faktual, maka kamu harus berjarak dan lebih tinggi dari objek yang kamu nilai.
Ini kalau dikupas, luas sekali maknanya. Dari sinilah kami tidak hanya menikmati pesona cahaya hijau Jembatan Mahakam sepanjang 400 m, tapi juga gemerlap kota Samarinda yang warna-warni.
Sesekali di malam itu masih tampak kapal-kapal tongkang pembawa batubara menggunung menuju dermaga dalam dan luar negeri.
Berarti 24 jam sehari, mas hitam-nya Kaltim dieksploitasi tanpa henti. Belum lagi tambang minyaknya yang disedot dari Blok Mahakam dan gas buminya.
Maka kalau pemerintah pusat tidak memperhatikan akselerasi pembangunan di wilayah tersebut, rasa keadilan mereka pasti akan terusik.
Sehingga akan memicu instabilitas. Oleh karena itu, ketika pemerintah dan DPR menetapkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur, masyarakat setempat sangat antusias mendukung.
Ini terbukti dari obrolan saya dengan beberapa tokoh masyarakat di sana.
“Alhamdulillah, dulu kami dipunggungi, sekarang semua pandangan mata warga Indonesia mengarah ke daerah kami. Jalan-jalan yang dulu sulit kami lalui sekarang diperlebar dan diperhalus. Belum lagi pembangun ruas-ruas jalan tol yang panjang. Kami bersyukur sekali..” ujar seorang tokoh transmigran yang ditempatkan di Tenggarong pada tahun 80’an.
Ungkapan itu makin memotivasi saya untuk berkunjung ke Sepaku, tempat IKN sedang berproses.
Kisah perjalanannya insya-Allah saya sajikan di kolom saya mendatang. Wallahu-‘alam bishshawab. (*)
Editor : Achmad RW