Ketiga, ‘ailulah, yaitu tidur setelah waktu asar atau menjelang matahari terbenam.
‘Ailulah, ‘illah, ‘ilal artinya penyakit. Yaitu tidur tidak sehat yang berpotensi si pelaku jatuh sakit, terkena penyakit, utamanya syaraf.
Makanya, orang yang sedang sumpek, dirundung persoalan berat, mohon jangan sering-sering bengong, apalagi tidur setelah asar, akibatnya nambah nemen dan bisa-bisa perlahan menjadi gila.
Kata wong Jowo: ’’Ojo turu wayah asar, garahi blenger.’’ Jangan suka tidur waktu asar, itu menyebabkan linglung, tidak waras.
Sebagai illustrasi, dulu wong Arab sering tidur waktu asar, demi ambil istirahat setelah seharian kerja di perkebunan, di terbajan dan lainnya.
Bahkan, sebagian malah ngobrol ngalor-ngidul tanpo guno. Lalu surah ini turun sebagai teguran, sekaligus mengarahkan ke tindakan lebih baik.
Orang beriman dituntut memanfaatkan waktu asar sebaik-baiknya.
Mendekatkan diri kepada-Nya pada sari waktu siang hari ini.
Bahkan pada wirid tertentu, acap kali para kiai mengijazahkan kepada santrinya agar dikerjakan pada waktu asar, penuh, sampai magrib tiba.
Misalnya, siapa pingin rezekinya berlimpah, maka bacalah surah al-Waqi’ah secara khusyuk pada waktu asar, penuh. Tidak usah dihitung berapa kali. Lalu tutup dengan doa.
Dikerjakan selama empat puluh sembilan hari, biasanya sudah ada perubahan menakjubkan. Lalu lanjutkan, istiqamahkan sebagai wiridan sebisa-bisanya.
’’Wa al-‘ashr.’’ Memang banyak ustad atau penceramah yang mentakwilkan surah ini sebagai nada sindir, bahwa zaman Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, zaman surah ini turun, Tuhan mengisyaratkan bahwa kala itu dunia sudah berada pada waktu asar.
Artinya, sebentar lagi datang waktu magrib, matahari terbenam alias hari kiamat sudah sangat dekat.
Ya, boleh-boleh saja mengartikan demikian. Tapi bagaimana jika Tuhan bersumpah dengan waktu Fajar (wa al-fajr), dengan Subuh (wa al-Subh), dengan waktu Duha (wa al-Duha).
Berarti hari kiamatnya masih lama. Dan, jika Tuhan bersumpah dengan waktu malam, (wa al-Lail), apa hari kiamat sudah berlalu..?
Yang lebih relevan, Allah SWT sering kali bersumpah menggunakan waktu, di antaranya waktu siang (wa al-nahar), waktu malam (wa al-Lail), Fajar, Subuh, Duha, Asar.
Bahkan bersumpah dengan planet-planet yang kerja edarnya berkaitan dengan waktu.
Seperti bersumpah dengan matahari (wa al-Syams), rembulan, bintang, bumi, langit dan sebagainya.
Itu semua adalah peringatan atas umat manusia, bahwa waktu itu sangat dan sangat berharga, maka jangan sekali-sekali disia-siakan.
Tidak pandang anda siapa dan apa keyakinannya. Semua orang sukses, pengusaha besar, pasti sangat disiplin dalam memanfaatkan waktu.
Pepatah Arab berkata, ’’al-waqt ka al-saif, in lam taqtha’hu qatha’ak”. Waktu itu
bagai pedang super tajang. Jika anda tidak mematahkannya, menggunakannya
dengan baik, maka anda sendiri akan ditebas oleh pedang itu. (bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Achmad RW