Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: NU & Dinamika Pilkada

Achmad RW • Senin, 2 September 2024 | 14:12 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

ARAHAN PBNU dalam pelantikan PCNU Jombang, yang disampaikan KH Anwar Iskandar, sangat jelas dan tegas. Meski dengan bahasa yang santai.

Saya menyimak serius, karena saya termasuk salah satu yang terlantik.

“Jam’iyah NU harus solid. Tanpa kesolidan kita hanya akan menemui kesulitan. Soliditas harus tercipta dengan seluruh banom (badan otonom) dan organisasi yang terlahir dari NU."

"Harus koheren ( satu kesatuan langkah dan bahasa yang sama) dari atas sampai ke bawah."

Kita jangan terpecah hanya gara-gara pilihan politik. Karena jam’iyah NU akan menjadi rebutan para kontestan pilkada."

"Maka, kalau milih bupati pilihlah yang paling besar manfaatnya untuk NU ” begitu antara lain isi wejangan wakil Rois Am tersebut.

Kebetulan duduk di baris terdepan adalah para kandidat bupati Jombang. Sehingga bergemuruhlah tepuk tangan para hadirin.

Bersamaan dengan suara tepuk tangan,  saya langsung teringat akan nasib adik saya ( Zahrul Azhar / Hahan) yang direkom Golkar Pusat dan Propinsi untuk berkontestasi di pilkada Jombang tapi tidak direspons oleh Golkar Jombang.

Terus terang kami sangat menyesali sikap tersebut. Mengingat perjuangan ayah kami dulu yang turut membesarkan Golkar sejak awal.

Tapi kami sadar, bahwa berpolitik itu tidak boleh baper ( bawa perasaan), karena masing-masing orang punya hitung-hitungan sendiri dalam mengambil keputusan. Sehingga kami pasrah saja pada Sang Penentu takdir.

Pada saat pembacaan doa penutup oleh KH. Masduqi al Hafiz, HP saya bergetar.

Selesai doa baru saya lihat, ternyata pesan rekaman suara dari Hahan di WhatsApp group keluarga. Panjang sekali, 10 menitan.

Sehingga saya tidak mungkin membuka di tengah kerumunan bubaran acara. Baru ketika di mobil perjalanan pulang, jam 16.33 saya buka.

Ternyata rekaman suara diskusi Hahan dengan orang dekat bu Risma -sebut saja Fulan- terkait dinamika internal PDIP dalam mencari bacawagub pendamping mantan walikota Surabaya itu.

Fulan menyampaikan bahwa mereka sedang mendiskusikan pendamping bu Risma yang sebaiknya tidak dari kader partai sendiri. Karena akan  kesulitan mendongkrak suara.

Untuk itu harus dicari pendamping yang bernuansa hijau.  Yang bisa diterima komunitas NU dan generasi milenial.

Si Fulan menjajaki kesediaan Hahan. Dia  sempat menolak dan menyilahkan cari kader Nahdhiyin yang lain, bahkan sempat terdengar nama seorang gus.

Karena saat itu Hahan juga harus mempertimbangkan posisinya di Golkar.

“Sudahlah gus, gini saja, nama jenengan dan yang lain nanti saya serahkan bu Risma. Nanti terserah ibu pilih siapa.” Pungkas si Fulan, yang dijawab Hahan : “Oke, saya juga mau musyawarah dengan istri dan saudara-saudara saya dulu..”  

Di tengah musyawarah keluarga yang hangat akibat mempertimbangkan banyak hal, jam 20.26 tiba-tiba bu Risma nelpon Hahan yang memintanya untuk segera mohon restu orangtua dan keluarga untuk berjuang bersama.

Sesaat kemudian, Pak Hasto sekjen PDIP video call untuk meyakinkan adik bungsu saya agar siap maju.

Terus terang, pada saat itu kami masih belum “sadar” antara mimpi dan kenyataan. 

Betapa tidak. Membayangkannya saja tidak pernah, apalagi membahas.

Maka setelah mendengar suara sekjen PDIP bahwa ibu Ketum menyetujui usulan bu Risma, kami sekeluarga akhirnya sepakat, bismillah berangkat.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Bupati Seleraku

Karena posisi adik kami tidak mengejar jabatan, maka jika amanat itu datang, kami harus mendorongnya untuk melaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Dari peristiwa tanggal 28 Agustus itu, saya mendapat pelajaran penting.

Pertama, betapa suara NU di Jawa Timur sangat dominan dan berpengaruh sehingga menjadi rebutan.

Ini terbukti, meski kedua kontestan pilgub :  Bu Khofifah dan Bu Luluk jelas-jelas memperebutkan ceruk suara dari komunitas yang sama: Nahdliyin, ternyata Bu Risma masih melihat peluang  untuk mendapat suara limpahan  dari jam’iyah bintang sembilan ini.

Coba lihat pilgub di Jakarta, Jabar, dan Jateng, PDIP mantab dengan kader sendiri, tapi di Jawa Timur, Ibu Mega tampaknya merasa kurang sreg tanpa figur representasi NU.

Kedua, dinamika politik kita sangat cair. Peta politik bisa berubah sewaktu-waktu.

Saking cairnya, bisa jadi di permukaan membawa bendera pendukung X, tapi yang dipilihnya justeru rival dari X.

Di sinilah pendapat yang mengatakan bahwa jumlah partai pendukung tidak linier dengan jumlah perolehan suara, bisa terkonfirmasi.

Bagaimana dengan pilkada Jombang..? Sama, para paslon juga berebut suara Nahdhiyin.

Tapi karena hanya dua pasang, pertandingan menjadi kurang menarik.

Saya dulu sempat merasa senang ketika pak Sugiat mau maju. Supaya masyarakat punya alternatif yang lebih fresh.

Maka begitu dia gagal mengantongi rekom, saya langsung bilang ke istri saya : wah berarti yang akan menang ya ini, sambil menunjuk gambar  paslon di Radar Jombang.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Jum'atan Bergelombang

Karena dia tanya argumentasinya, maka saya jelaskan peta politik masing-masing. Termasuk faktor resistensinya.

Alhamdulillah istri saya paham. Tapi sayang tidak bisa saya jelaskan di sini.  Salam sehat penuh rahmat. (*)

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #pcnu #Jombang #pilkada