SEEKOR ular kobra siang hari keluar dari liangnya. Ia haus. Dilihatlah di atas batu ada kaleng susu Bear Brand.
Teguling dan masih meneteskan sisa isinya. Ular itupun menjilati tetes demi tetes.
Begitu tetesan berhenti, ia masih merasa haus sehingga memasukkan kepalanya ke lubang kaleng yang sebesar jari manusia itu.
Maksudnya ingin menikmati susu segar lagi, tapi di dalam kaleng justru merasakan suhu sangat panas. Paniklah ia.
Maka dengan kepanikan itu, ia berusaha menarik kepalanya keluar.
Celakanya, bila panik, merasa terancam atau marah, kepala kobra secara alami membesar dan makin besar seiring kadar kemarahannya.
Akibatnya, berjam-jam ia bergulat dengan kaleng hampa hingga lemas tak berdaya.
Orang-orang yang lewat tak satupun yang tergerak hatinya untuk menolong melepaskannya dari perangkap itu. Innalillahi, ia akhirnya mati akibat ulahnya sendiri.
Dari kisah fabel di atas, terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita petik.
Pertama, tidak ada satu permasalahan pun yang bisa terselesaikan dengan baik bila kita panik apalagi penuh amarah.
Maka para arif senantiasa berpesan : jangan membuat keputusan selagi marah.
Karena hanya akan menghasilkan keputusan yang tidak logis dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Untuk itu ajaran jawa mengistilahkan: kita harus “meneb” (mengendap) agar bisa noto roso dan noto pikir dalam menyikapi kehidupan, supaya kita bisa mengurai permasalahan yang kita hadapi.
Bagaimana kita bisa memecahkan masalah, bila kita sendiri tidak memahami secara utuh akar dan batang tubuh masalahnya.
Jika demikian, justru kita sendirilah biang permasalahannya.
Maka dari itu, ketika saya menangkap realitas saat ini, orang-orang yang dengan ringannya menggunakan bahasa amarah dan caci maki di media sosial, saya dapat menilai, mereka itu dalam kondisi jiwa yang belum “meneb”.
Hatinya bergolak terus. Belum bisa move on. Bagaikan aquarium yang diaduk-aduk.
Membuat sulit melihat keindahan warna sisik ikan koi, louhan, neon tetra dan sebaginya.
Yang tampak hanya kekeruhan air saja. Sudah begitu, mereka menghujat kualitas airnya, padahal dia sendiri yang tak henti meludahinya.
Kedua, kita hidup sebagai mahluk sosial ini tentulah saling bergantung.
Tak seorangpun bisa hidup normal tanpa bantuan pihak lain.
Oleh karena itu, sudah menjadi kelaziman kita untuk hidup bersama dengan semangat saling menolong.
Dari situlah permasalahan-permasalan yang kita hadapi dalam keseharian, lebih mudah kita pecahkan bila banyak pihak yang merasa terdorong untuk berbuat baik meringankan beban kita.
Tapi kita harus mulai dari diri kita sendiri dulu. Kita harus buktikan kepada sesama, bahwa kita adalah orang yang selalu berbuat baik pada siapa pun.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Rental Mobil Partai
Semakin sering kita menanamkan kebaikan, semakin banyak pihak yang dengan senang hati berbuat baik pada kita.
Meski tidak secara langsung. Anda berbuat baik pada saya, bisa jadi yang membalas kebaikan Anda bukan saya tapi orang lain yang tidak saya kenal.
Itu sudah menjadi sunnatullah, hukum alam. Maka jangan sampai kita bernasib seperti kobra di atas.
Orang hanya lewat begitu saja melihat perjuangan hidup-mati melepaskan diri dari perangkap kaleng.
Kita pun bila menemui kejadian seperti itu, alih-alih menolong, boleh jadi malah menyukurkan. Mengapa..?
Karena kita punya kenangan betapa jahatnya dia. Betapa berbahaya gigitannya.
Betapa mematikan bisanya. Kalau saja yang terperangkap itu kucing atau burung jalak.
Pasti kita akan berebut menyelamatkannya. Karena dalam ingatan kita, kucing itu lucu, burung jalak itu menyenangkan.
Oleh sebab itu, jangan main-main dengan daya ingat orang lain.
Memang setiap orang bisa saja dengan mudah bilang memaafkan kesalahan kita, tapi percayalah, belum tentu mereka bisa melupakan ucapan dan tindakan kita yang pernah menyakitinya.
Maka dari itu, dalam momentum hari kemerdekaan ini, saya sekadar ingin mengimbau.
Bahwa, janganlah atas nama kemerdekaan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, kita merasa bebas merdeka melakukan dan mengatakan apa saja.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Mungkinkan PTN Kembali ke Khitah
Justru dari kemerdekaan itu, orang yang terpuji perilaku dan sikapnya adalah mereka yang faham akan batas-batas kepatutan dalam bertutur, baik lisan maupun tulisan.
Semakin orang itu hatinya “meneb” semakin jernih dia berpikir tentang pilihan diksi, kemanfaatan isi tuturnya hingga dampak-dampak yang mungkin akan ditimbulkannya.
Jangan sampai terjadi : beberapa bulan lalu mereka merendahkan seseorang, bulan ini mereka memuji-muji dan datang bersimpuh untuk minta dukungannya.
Bila saya berjumpa orang-orang seperti itu, saya akan katakan : Sampean gak isin tah..
Merdeka..! (*)
Editor : Achmad RW