Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Untuk Apa Cindy Adams ke Ploso Jombang?

Achmad RW • Jumat, 2 Agustus 2024 | 02:19 WIB
Binhad Nurrohmat, Penyair, penyuka sejarah
Binhad Nurrohmat, Penyair, penyuka sejarah

Oleh: Binhad Nurrohmat
Inisiator Titik Nol Soekarno

Soekarno berkenan riwayat hidupnya ditulis  hanya oleh seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu adalah Cindy Adams, warga Amerika Serikat yang lincah dan humoris.

Jurnalis muda itu memantik kasak-kusuk di Istana. Ia ramai dituding sebagai mata-mata CIA.

Cindy mewawancarai Soekarno sembari minum kopi tubruk di teras Istana Merdeka dan Istana Bogor sepanjang 1961-1964 untuk penggarapan otobiografi Sang Presiden.

Cindy kerap wira-wiri New York-Jakarta di masa itu ketika hubungan  antara Amerika Serikat dan Indonesia runyam.

Soekarno sepertinya menggelar siasat lewat buku riwayat hidupnya. Anak kedua pasutri Soekeni Sosrodihardjo dan Nyoman Rai itu ingin otobiografinya ditulis oleh jurnalis dari negara musuh, mungkin, agar dunia internasional lebih percaya kepada kisah hidupnya.

Menjelang Lebaran 1964 Cindy dan rombongannya tiba di Ploso Jombang dalam rangkaian kunjungan ke kota-kota lain di Jawa Timur. Ketika itu tahun terakhir masa perampungan naskah otobiografi Soekarno.

Cindy menjumpai Joyodipo, teman masa kecil Soekarno di Ploso. Mbok Suwi (Ibu Sosro), pengasuh Soekarno di masa bocahnya di Ploso, juga Cindy temui.

Joyo Suparto dan Abdoel Soekoer dan para narasumber lain di Ploso Cindy datangi pula.

Otobiografi Soekarno terbit di New York  berjudul "Sukarno, an Autobiography as Told to Cindy Adams" (1965).

Atas restu Soeharto di Jakarta terbit buku versi terjemahannya berjudul "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (1966).

Penerjemahnya seorang militer bernama Abdul Bar Salim. Dua paragraf yang tak ada di naskah aslinya "menyusup" di naskah terjemahan itu.

Kisah Soekarno di Ploso, titik awal riwayat hidupnya, tak tersuratkan di otobiografi Soekarno.   Ini menimbulkan pertanyaan.

Kenapa fase hidup Soekarno di Ploso (sejak lahir 1902 hingga 1907) dilewatkan atau dihilangkan?

Untuk apa Cindy bertemu Mbok Suwi, Joyodipo dan narasumber lain di Ploso?

Hanyakah sekedar berkunjung dan berfoto bersama mereka di depan rumah kelahiran Soekarno di Ploso?

Tiga tahun setelah kunjungan ke Ploso dan dua tahun setelah terbit otobiografi Soekarno, Cindy menerbitkan biografi Soekarno, "My Friend the Dictator" (1967) yang terbit juga dengan versi judul berbeda, "Sukarno My Friend" (1971).

Buku itu berisi kisah di balik penulisan otobiografi "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat".

Sebelumnya, sejak 1930-an, telah terbit beberapa buku biografi Soekarno oleh para penulis lain.

Di buku "Sukarno My Friend" ada selembar foto hitam-putih bernilai sejarah tinggi.

Selain menampilkan orang-orang yang tahu riwayat Soekarno di Ploso, foto itu juga rujukan bentuk awal rumah kelahiran Soekarno di Ploso.

Akan lebih rinci dengan merujuk pula foto lain yang sesuai dan semasa milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Cindy dan 15 orang lain berfoto di halaman rumah kelahiran Soekarno di Ploso pada 1964. Hanya sebagian dari mereka yang  dikenali nama atau profilnya saat ini.

Joyodipo, Suwi, Joyo Suparto dan Abdoel Soekoer diketahui identitasnya. Juga sebagian orang dari rombongan Cindy Adams, yaitu Nusjirwan dan Hutauruk, mereka sopir dan pengawal Cindy.

Baca Juga: Reformasi Birokrasi: Menuju Era Digital

Di foto itu Mbok Suwi dan Joyodipo berdiri mengapit Cindy bersama beberapa orang lain di halaman rumah bernomor 59 di Ploso.

Semuanya dalam pose berdiri menghadap ke timur, berbaris rapat arah utara-selatan, dan tampak sepenuh badan kecuali 4 orang di barisan belakang.

Semuanya pria, kecuali Cindy Adams, Mbok Suwi dan satu wanita lain yang belum terungkap identitasnya. Sebagian dari mereka berkostum aparat polisi, militer dan camat.

Foto langka yang jarang diketahui orang itu dibuat pada 1964. Yang beredar luas saat ini, ada tiga foto rumah itu hasil jepretan kamera pada 2010 dan 2012 milik Kushartono, kerabat Soekarno dari Kediri, dan dua foto lain karya Husnu Mufidz, penulis dari Surabaya.

Di selembar potret lawas itu rimbun mangga gadung tampak di kanan-kiri rumah kelahiran Soekarno di Ploso dan masih bisa disaksikan pohonnya saat ini.

Lebih dari separuh abad kemudian setelah pemotretan. Di masa kecil Soekarno, warga Ploso lazim mengolah pelog (biji buah mangga gadung) untuk jenang pelog.

Di foto-foto yang lebih baru, penampakan rumah itu berbeda dari foto di buku "Sukarno My Friend".

Dinding separuh tembok berubah menjadi gedeg (anyaman bambu) sepenuhnya. Plakat nomor rumah 59 pun hilang. Yang lebih banyak beredar sekarang foto dan video hanya fondasi rumah itu.

Selembar foto udara dari masa 1947 memperlihatkan atap rumah kelahiran Soekarno di Ploso. Tampak jalan setapak di depan rumah itu terhubung ke jalan raya.

Terlihat rangkaian gerbong kereta api dan stasiun Ploso tak jauh dari rumah yang kini berada di Gang Buntu, Rejoagung, Ploso, Jombang.

Rumah bersejarah itu rubuh pada 2013. Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di situ saat bangunan itu masih tegak-utuh di ujung gang yang kini seperti terkepung sungai dan bekas jalur rel  warisan kolonial yang telah lama tak beroperasi.

Rumah itu belum dipugar. Hanya terlihat petak fondasi 10 meter x 6 meter serta sumur dan kamar mandi. Puing dapur di belakang rumah ternyata bangunan tambahan pada 1960-an.

Baca Juga: RUU Penyiaran: Dampak pada Jurnalisme Terhadap Demokrasi dalam Sistem Good Governance

Media online, media cetak dan media sosial sejak Juli 2019 meliput lokasi rumah kelahiran Bapak Bangsa itu.

Bupati Jombang Mundjidah Wahab ke lokasi itu pada 21 November 2019 dan ini kunjungan pertama pejabat publik ke situs bersejarah itu.

Sebelum ada kandang kambing dan angsa, di atas fondasi itu kerap digelar peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, kelahiran Soekarno 6 Juni,  Tasyakuran Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus dan haul Soekarno 21 Juni.

Soekarno meninggalkan Ploso pada November 1907. Rumah beratap limasan dan beratap genting di Gang Buntu itu dihuni bergantian oleh Dawam (polisi), Salekan (guru) dan Minto (masinis).

Sejak 1976 rumah dan kebun di sekitarnya dirawat sejumlah orang atas izin keluarga Salekan. Di buku desa tercatat lahan tempat berdiri rumah itu atas nama Salekan.

Fondasi rumah kelahiran Soekarno tak sendirian. Tak jauh dari fondasi itu, di Desa Losari, ada gedung tua separuh hancur bekas Sekolah Ongko 2 tempat Soekeni bekerja sebagai mantri guru.

Di utaranya dulu berdiri Sekolah Desa tempat pertama kali Soekarno sekolah, kini tanpa bekas sejak jadi lokasi Terminal Ploso pada 1998. 

Rumah kelahiran Soekarno di Ploso pada 2013 rubuh secara alamiah. Bahan konstruksinya  lapuk dimakan waktu.

Berbeda nasib dengan  rumah Soekarno di Jakarta tempat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 1945 dirubuhkan atas instruksi Soekarno sendiri pada 1960-an.

Pegiat Titik Nol Soekarno berinteraksi dengan warga Ploso dan intensif menggali data dan cerita tutur ihwal kelahiran Soekarno di Ploso.

Warga tergerak mematok plakat informasi di situs-situs sejarah Soekarno di Ploso.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang berupaya situs rumah kelahiran Soekarno direkomendasi untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

Baca Juga: Bukti Universalitas Idul Adha dan Tafsir Soal Pengelolaan Hasil Kurban di Makkah

Warga dan aparat lokal di Ploso pada 23 Juni 2024 menggelar Kirab Titik Nol Soekarno sebagai ungkapan kesadaran sejarah dan kebanggaan warga yang di wilayahnya, dulu pada 6 Juni 1902 lahir bakal pendiri negara dan berharap situs itu dipugar segera.

Rupanya panitia lupa mengundang Cindy datang ke acara kirab itu. (*) 

 

Editor : Achmad RW
#cindy adams #Ploso #Jombang #soekarno