Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Selamat Datang di Jombang

Achmad RW • Senin, 29 Juli 2024 | 12:53 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Terdapat dua entitas yang saat ini menjadi pendatang baru di Jombang, sehingga saya merasa harus menyambutnya dengan ucapan selamat.

Yang pertama entitas personal atau perseorangan, yaitu penjabat bupati baru.

Kedua, entitas komunal atau kelompok, yaitu para santri baru.

Dua-duanya penting karena yang pertama sebagai simbol pemerintahan, yang kedua sebagai ikon kultur sosiologis masyarakat Jombang.

Penjabat bupati Jombang yang baru bernama Teguh Narutomo. Dia menggantikan pak Sugiat yang akan maju dalam kontestasi pilkada. 

Berbeda dengan pak Sugiat -yang lahir dan sekolah di Jombang-  pak Teguh dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Maka bila membandingkan kedua penjabat itu dari perspektif adaptif, kemampuan beradaptasi dengan kultur masyarakat Jombang, tentulah tidak fair.

Pak Sugiat ditugaskan di Jombang sejatinya pulang kampung, sehingga bisa tiap hari reuni tipis-tipis dengan teman sekolahnya dulu.

Di antaranya dengan cak Muhdhor, MC andalan Ansor itu.

Sementara bagi pak Teguh, penugasan di Jombang ini lebih merupakan proses membuka lembaran baru untuk membangun jaringan silaturrahim dengan masyarakat Jombang yang beragam tapi penuh harmoni.

Ijo dan Abang yang menyatu tapi tetap bertahan dengan rasa hormat pada warna masing-masing.

Kalaupun sebelumnya dia pernah ke Jombang, mungkin saja saat itu pak Teguh dapat penugasan dari inspektorat jenderal Kemendagri untuk melakukan inspeksi.

Saya sedikit mengetahui latar belakang beliau dari teman kuliah yang menjadi staf khusus Mendagri, DR Kastorius Sinaga.

Maka sebagai anggota masyarakat, saya berdoa semoga pak Teguh dapat mengemban tugas dengan amanah dan bisa menjadi “berkah” bagi seluruh warga Jombang.

Sambutan selamat datang selanjutnya adalah kepada para santri yang datang di Jombang dari segala  penjuru tanah air.

Mereka dengan niat yang kuat untuk belajar berbagai ilmu di lingkungan pesantren.

Jumlah pesantren di Jombang, kurang lebih 155 unit, baik pesantren besar, sedang maupun kecil.

Kategori besar memiliki lebih dari 5.000 santri. Yang sedang, dengan 1.000 – 5.000 santri. Kategori kecil, kurang dari 1.000 santri. 

Kehadiran para santri itu harus dilihat sebagai wujud masih tebalnya kepercayaan masyarakat luar Jombang terhadap tata kelola pesantren secara umum. 

Hal itu mengingat citra pesantren yang kian ke sini kian mendapat sorotan negatif akibat tersebarnya informasi di media tentang kekerasan fisik maupun gender yang terjadi di beberapa pesantren.

Oleh karena itu, adalah tanggungjawab semua pemangku kepentingan untuk merawat kepercayaan masyarakat tersebut.

Agar pesantren-pesantren di Jombang tetap berjalan sesuai idealisme para pendiri (mu’assis) terdahulu : sebagai tempat membina akhlak mulia.

Pemerintah harus selalu pro aktif melakukan kordinasi dan fasilitasi atas kinerja perjalanan pesantren.

Karena kehadiran pesantren di jombang memiliki multi effect yang positif dalam berbagai aspek.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Mungkinkan PTN Kembali ke Khitah

Dari aspek sosiologis, pesantren merupakan wadah pembentuk sikap hormat atas keragaman. Baik keragaman status sosial maupun kultural.

Hal ini tentu akan menjadi modal yang penting dalam melahirkan semangat persatuan Indonesia.

Sementara itu, dari aspek ekonomis, pesantren adalah “pasar” raksasa yang diam.

Berapa kontainer sembako dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan konsumsi santri.

Berapa ratus keluarga yang terlibat dalam menyiapkan kebutuhan harian mereka.

Bayangkan kalau puluhan ribu santri se Jombang mogok makan tahu-tempe. Berapa perajin tahu-tempe yang harus kehilangan pekerjaan.

Sehingga dulu, ayahanda ( Alm. K. As’ad Umar ) pernah didatangi ketua paguyuban pedagang pasar Peterongan.

Dia curhat bahwa kalau pondok Darul’Ulum libur, omzet dagangan mereka menurun.

Maka dia memohon, agar kalau meliburkan santri jangan lebih dari seminggu. Ayah saya senyum saja, sambil menjawab : lha sing ngatur prei iku negoro e..

Karena sejak dulu kalender pendidikan di Darul’Ulum memang mengacu pada kalender pendidikan nasional, meski ada beberapa penyesuaian.

Selain aspek sosiologis dan ekonomis di atas, juga aspek ideologis, aspek yang sepertinya kurang diperhitungkan oleh pemerintah.

Sepengetahuan saya, mayoritas pesantren -terutama pesantren besar- di Jombang sangat menjunjung tinggi ideologi kebangsaan kita, Pancasila.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Berdamai dengan Masalah

Maka negara tidak perlu susah payah mengajarkan moderasi beragama pada para santri.

Karena spirit tasamuh (toleransi), tawasut (moderat), tawazun (berimbang) sudah ditanamkan sejak dini pada para santri untuk bekal kehidupan bermasyarakat dalam menjaga tegaknya NKRI.

Oleh karena itu, komunitas santri sangat siap bila harus menghadapi pengganggu RI sebagaimana tecermin dalam lagu “Subbanul Wathon” itu.

Maka selamat datang para santri baru di Jombang.

Kerelaanmu meninggalkan kesenangan dan kenyamanan di rumah, demi menuntut ilmu yang akan mendekatkanmu pada Sang Khaliq.

Semoga membuahkan keberkahan dan kemulian bagi dirimu dan sesiapa pun yang membersamaimu dalam berproses.

Sesungguhnya Allah bersama kita semua. Amiin. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #selamat datang #Jombang