Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Mana yang Lebih Baik, Sedekah ke Fakir Miskin, Masjid atau Pondok Pesantren? Begini Penjelasannya

Achmad RW • Jumat, 5 Juli 2024 | 13:08 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

RadarJombang.id - ’’Wa inhar.’’ Ibadah sosial.

Penderma, penyantun, pekerja sosial yang tidak beriman tetap mendapatkan balasan dari Tuhan sesuai kurikulumnya, yaitu hanya di dunia saja.

Mereka akan memperoleh kebajikan dari Tuhan, mendapatkan balasan baik saat di dunia, tetapi hampa di akhirat.

Ya, karena tidak percaya kepada Tuhan, Sang Penguasa akhirat.

Bersedekah, mana yang lebih baik: Diberikan ke masjid, musala, pondok pesantren atau diberikan kepada fakir, miskin dan para duafa’ untuk membantu kelaparan mereka..?

Bila memungkinkan, maka harus didistribusikan secara adil dan seimbang.

Fakir dan miskinnya tetap tercukupi dan sarana untuk ibadah dan pendidikan juga memadahi.

Biasanya orang-orang lebih suka ke pembangunan rumah ibadah dan kurang memperhatikan perut si miskin. Ini tidak bagus.

Perut lebih wajib diisi lebih dahulu ketimbang merenovasi rumah ibadah atau sarana pendidikan.

Al-imam al-Ghazali pernah berkata tegas setelah menyaksikan fenomena ini, dengan terma yang masyhur:

’’Luqmah fi bathn ja-i’ khair min bina alf jami.’’

Sesuap nasi di perut orang kelaparan lebih baik ketimbang membangun seribu masjid.

Ya, tapi salat tetap yang utama, meski masjid tidak bagus.

Jika ada orang suka bersedekah, menyantuni anak yatim, orang-orang duafa, menolong sesama manusia tanpa pandang agamanya apa, tetapi kalau tidak salat, maka sangat disayangkan.

Inilah potret orang yang baik di dunia dan akan mendapatkan kebaikan di dunia pula.

Inilah orang yang menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, tetapi tidak menjalin hubungan dengan Tuhan.

Pasti, di akhirat nanti merugi dan hampa. Andai dia menagih, maka Tuhan akan menjawab:

’’Kamu berbuat baik untuk manusia, bukan atas dasar Aku dan sudah Aku bayar kontan di dunia."

"Kalau kurang, ya mintalah balasan kepada manusia yang kamu baiki."

"Salah alamat kamu meminta pahala kepada-Ku di akhirat ini."

Makanya, dalam agama, amal saleh itu ada dua.

Pertama, amal saleh yang diridai Tuhan dan kedua amal saleh yang tidak diridai Tuhan.

Yang pertama, sudah maklum, yaitu amal kebajikan dengan niatan ikhlas, hanya karena Allah SWT saja.

Tandanya, si pelaku tidak suka dipublis, apalagi ngomong-ngomong ke orang lain.

Baca Juga: THE HORSE (33)

Sedangkan amal saleh yang tidak diridai Tuhan seperti bagi-bagi sembako, bingkisan, uang menjelang pemilihan umum, pilpres, pilkada dan sebangsanya.

Sedekah uang, beras, sudah pasti baik, pasti amal saleh. Tetapi apakah Tuhan menyukai itu..?

Karena tendensinya bukan Tuhan, melainkan lebih untuk keterpilihan diri sendiri, maka Tuhan pasti tidak mengapresiasi.

(bersambung, in sya’ Allah)

 

Editor : Achmad RW
#sosial #ibadah #bersedekah #masjid #Fakir Miskin