Saat observasi awal pada Oktober 2019, rumah tempat lahir Soekarno telah rubuh.
Tak terdengar heboh besar ketika itu maupun setelahnya.
Kisah rumah itu tak seterang sekarang, hanya desas-desus samar ada kaitannya dengan sejarah kelahiran dan masa kecil Soekarno.
Tak sedikit bahkan orang mencibir dan menuduhnya bualan. Sebelum ambruk, rumah lawas itu sejak era kolonial dihuni berganti-ganti oleh para pegawai pemerintah.
Lokasinya di ujung gang buntu di Desa Rejoagung (semula bernama Desa Ngelo) Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.
Hunian lawas berdinding anyaman bambu (gedeg) dengan rangka kayu dan atap genting itu tertimpa sebatang pohon juwet tua pada suatu dini hari pada 2013. Tanpa korban jiwa.
Selembar foto hitam putih menunjukkan dulu rumah itu bernomor 59. Foto itu muncul di buku "My Friend The Dictator" (1967) dan "'Sukarno My Friend" (1971) karya Cindy Adams, penulis dari Amerika Serikat.
Hingga bertahun-tahun kemudian setelah rumah itu rubuh, sisa sepetak fondasinya berbahan semen, batu dan bata merah bertahan di sebidang kebun yang tatkala itu diakui sebagai milik seorang warga.
Seorang pedagang rokok menumpang tinggal di situ menjadi penghuni terakhirnya.
Di atas fondasi itu kemudian dibangun kandang kambing dan angsa sejak 2022.
Saat observasi awal itu, menjelang pandemi Covid-19, status historis bangunan di Ploso tersebut sebenarnya telah diyakini oleh sebagian kecil orang dan penulis sejarah sebagai "rumah masa kecil Soekarno" (Dian Sukarno, 2013).
Baca Juga: Seleksi CASN 2024 Bebas Titipan Orang Dalam, Singgung Pemerintah Indonesia
Dan sebelumnya muncul juga dugaan ’’Soekarno lahir di Ploso’’ (Tadjoer Rizal Baiduri, 2012).
Secara mandiri, observasi berlangsung sekian kali dan berlanjut ke penelusuran beragam sumber dokumen dan cerita tutur masyarakat.
Lalu ditempuh pembacaan ulang buku-buku biografi dan otobiografi, juga koran-koran, majalah dan dokumen sejak era kolonial.
Juga wawancara sejumlah saksi mata dan narasumber. Semua ini dilakukan hingga tahun 2024.
Temuan-temuan fakta dan informasi baru sedikit demi sedikit kian menyingkap sejarah rumah di ujung gang buntu itu.
Kemudian semua itu diuji lewat presentasi di sejumlah forum dan diskusi publik di Jombang.
Sumojani, yang dituturkan oleh kerabat Soekarno sebagai penanam ari-ari Soekarno, terlacak foto, profil serta rumah tinggal dan kuburannya di Geneng, Kelurahan Jombatan, Jombang.
Sumojani wafat 1969. Sedangkan Mas Kiai Surosentono yang wafat pada 1949 di Yogyakarta.
Disebutkan dalam sebuah biografi dan cerita tutur keluarga sebagai orang yang membantu persalinan Soekarno juga ditemukan foto dan rumahnya di Jalan Juanda (dulu Jalan Sencaki), Kelurahan Kepanjen, Jombang.
Dua temuan itu kemudian dikaitkan dengan besluit (SK) Soekeni Sosrodiharjo, ayahnya Soekarno, yang sejak 28 Desember 1901 menjadi mantri guru di Sekolah Ongko II (Tweede Inlandsche School) di Ploso (sekarang masih bertahan sebagian bangunannya di Desa Losari, Ploso).
Yang kala itu masih kawedanan di karesidenan Surabaya.
Sekitar enam bulan setelah besluit itu terbit, Soekarno lahir di Ploso dengan nama Koesno pada mulanya.
Baca Juga: Tafsir Surat Al Kautsar dan Tradisi Berpesta dalam Perayaan Idul Adha
Nama Sumojani sebenarnya muncul sekian tahun lalu (Dian Sukarno, 2013), namun masih "gelap" data historisnya.
Nama Surosentono telah terungkap di sebuah biografi (Sholichin Salam, 1966), namun sangat minim data historisnya.
Dokumen terawal data diri Soekarno yang ditemukan di buku induk kampus ITB menyebutkan ia lahir 6 Juni 1902 di Surabaya.
Catatan keluarga yang disusun Soekeni menyebutkan Soekarno lahir 6 Juni 1902.
Demikian juga data Soekarno di HBS (setingkat sekolah lanjutan atas) lahir tahun 1902.
Entah kenapa sejak 1930-an sejumlah koran, majalah dan buku menyebutkan kelahiran Soekarno 1900 dan 1901.
Tanggal dan bulannya ada yang menyebut 23 Mei, 6 Juni dan 6 Juli.
Tempat lahirnya pun beragam: di Tulungagung, Blitar, Surabaya dan Kota Surabaya.
Lalu Ploso. Kapan dan di mana sebenarnya Soekarno lahir?
Di Ploso beredar cerita tutur tentang Mbok Suwi (Ibu Sosro) yang mengasuh Soekarno dan Mbah Joyodipo teman sekolah dan teman masa kecil Soekarno di Ploso.
Kuburan dan bekas rumah Mbok Suwi dan Mbah Joyodipo ditemukan di Desa Rejoagung, Ploso, Jombang.
Dua nama itu sesuai dengan informasi dokumen dan foto di buku "My Friend the Dictator" dan "Sukarno My Friend" itu.
Baca Juga: Idul Adha: Meningkatkan Kesadaran dan Kesejahteraan dengan Berkurban
Dokumen dari era pendudukan Jepang menyebutkan Soekarno mula-mula belajar di Sekolah Desa di Ploso, Jombang (sekarang Terminal Ploso).
Dan, di buku "My Friend The Dictator " dan "Sukarno My Friend" foto dua figur di masa kecil Soekarno itu muncul.
Bersama Cindy Adams mereka berfoto di halaman rumah kelahiran Soekarno di ujung gang buntu di Ploso.
Dokumen data diri terawal Soekarno dan cerita-cerita tutur di Ploso dan sekitarnya mengarah dan menguatkan fakta "titik nol" Soekarno di Kawedanan Ploso, Karesidenan Surabaya, 6 Juni 1902.
Ploso adalah kampung kelahiran Soekarno.
Setelah proses sekitar lima tahun observasi di lapangan, riset data dan wawancara saksi mata dan narasumber, pada 23 Juni 2024 warga Ploso menggelar Kirab Titik Nol Soekarno.
Setahun sebelumnya masyarakat melaporkan jejak-jejak sejarah Soekarno di Ploso ke Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Jombang melalui tim pendaftar cagar budaya.
Kemudian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang mendalami laporan itu lewat kajian serta instensif berkomunikasi dan berdiskusi dengan keluarga Soekarno di Blitar, Kediri, Bali dan Jakarta.
Penulis:
Binhad Nurrohmad
Penyair, inisiator Titik Nol Soekarno
Editor : Achmad RW