RadarJombang.id - Saking universalnya pesta kurban ini, di kalangan ulama’ ada perdebatan soal daging kurban yang ada di tanah suci Makkah Arab Saudi yang begitu melimpah dan sangat banyak.
Pastinya, penduduk sekitar tidak akan mampu menghabiskan dan sudah kenyang-kenyang.
Bolehkah didistribusikan ke luar tanah Haram..?
Pertama, pandangan ashlahiyah yang dipilih umumnya fuqaha’.
Bahwa, karena banyak manusia di luar tanah haram yang sangat membutuhkan asupan daging, maka daging melimpah di tanah haram lebih baik dibagikan ke luar, ke siapa saja yang membutuhkan.
Sekarang ke penduduk Palestina atau negara lain yang kelaparan. Itu lebih manfaat.
Kedua, pandangan ulama sufistik. Tidak boleh, sebab masing-masing sudah ada jatah dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri.
Lagian, daging kurban itu tidak hanya untuk manusia, bahkan untuk semua makhluk Tuhan yang doyan.
Termasuk srigala, anjing, macan, harimau, buaya dan lain-lain.
Id al-nahr ini adalah pesta Tuhan teruntuk semua makhluk ciptaan-Nya.
Baik yang berakal maupun yang tidak, yang beriman atau kafir, yang kaya maupun yang miskin.
Baca Juga: Tafsir dan Keutamaan Kautsar yang Diturunkan Allah Pada Nabi Muhammad
Ini adalah pesta langit, hidangan langit yang diturunkan ke bumi secara gratis dan bebas.
Jika daging kurban tanah haram didistribusikan ke luar, maka para penghuni padang pasir yang terlihat dan yang tidak terlihat akan kecewa dan tidak rela.
Hewan-hewan di padang pasir itu kecewa, termasuk kawanan jin sekitar situ.
Kawanan jin sudah menunggu satu tahun pesta, karena ini pesta besar, fresh dan gratis.
Perkoro gimana cara jin menikmati daging..? Yo terserah maunya mereka,
bah.. disesepi, opo disate.. Yang jelas, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pernah mengomentari kawanan jin yang mengkonsumsi daging, bahkan tulang belulang.
’’Hadza tha’am sahibikum” (ini makanan teman kalian. Jin, maksudnya).
Hal demikian setelah sahabat menyodorkan tulang kepada Rasulullah SAW untuk digunakan istinja’.
Dan beliau menolak dengan alasan tersebut.
Meskipun pesta daging ini umum, yang kaya dan sudah sering mengkonsumsi daging yo kudu ngerti, harus pengertian.
Jangan banyak-banyak mengambil bagian. Sedangkan yang tidak doyan daging, mohon agak memaksa diri, makanlah walau sedikit.
Itu digawe syarat agar berbarakah.
(bersambung, insya Allah).
Editor : Achmad RW