SEORANG wali santri yang baru terpilih kembali sebagai anggota dewan, curhat.
Bahwa para pemilih sekarang tidak hanya cerdas tapi juga sadis.
Dia menceritakan perolehan suaranya yang menurun dibanding periode lalu.
Padahal selama dia menjadi anggota dewan, dia selalu “merawat” konstituen di dapilnya dengan beragam program “pembinaan”.
Dia bahkan selalu menjadi penyandang dana utama dalam setiap kegiatan ormas tersebut.
Menurut perhitungannya, harusnya suaranya bertambah atau minimal sama dengan pileg 5 tahun lalu. Tapi kok malah berkurang.
Usut punya usut, ternyata amplop “transpot” yang diberikan kepada pemilih melalui pimpinan ormas, tidak sampai ke sasaran.
Selain itu, kalaupun sampai ke sasaran, tidak menjamin si penerima mencoblosnya.
Karena mereka siap menerima amplop dari beberapa caleg dan menjanjikan dukungan suara pada semua pemberinya yang berkontestasi.
Betapa sadisnya pemilih seperti ini. Siapa yang salah?
Yang salah adalah kita yang berharap dinamika politik kita berkembang ideal seperti di ruang hampa.
Padahal kehidupan politik kita ini sangat cair. Nyaris tidak ada gumpalan ideologis yang bisa kita baca.
Bayangkan, kemarin menjadi lawan yang dihadapi dengan kekuatan perlawanan melalui segala sarana dan tema.
Tapi hari ini, mereka bisa berkawan dengan saling memuji demi lampiaskan gairah kekuasaan yang belum terpenuhi.
Dengan demikian, warna-warna bendera parpol pengusung itu sama sekali tidak melambangkan warna idealisme partai, melainkan sekadar laksana umbul-umbul promosi mobil yang aneka warna.
Saking cairnya dinamika politik kita, maka masih lebih mudah menebak tim kesebelasan negara mana yang akan menjadi juara piala Eropa.
Dibanding siapa yang akan diusung partai X sebagai pasangan calon dalam pemilihan kepala daerah.
Hal itu akibat dari eksistensi partai yang belum menjalankan fungsi rekrutmen dan kaderisasi dengan serius.
Rekrutmen terkait upaya penambahan jumlah anggota partai sebanyak mungkin.
Kaderisasi berhubungan dengan “penggemblengan” anggota partai untuk menjadi aspirator dan motor pejuang partai agar nilai-nilai dan ideologi partai terjamin keberlangsungannya.
Kegagalan fungsi rekrutmen, menjadikan pengurus partai tak punya data kekuatan dukungan populis anggotanya.
Sementara bila kekuatan dukungannya itu ditakar dari jumlah anggota yang duduk di legislatif, akan terjadi jebakan Batman.
Karena massa pemilih anggota dewan tersebut tidak memilih atas dasar ketertarikan pada partai tapi pada figur yang rawan pindah ke lain hati.
Adapun kegagalan kaderisasi, bisa dilihat dari kurang transparannya aturan main suksesi sehingga memperlambat sirkulasi kepemimpinan internal partai.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Ahli juga Manusia
Hal itu bisa jadi akibat dari belum terstrukturnya jenjang-jenjang pembinaan anggota dalam pembentukan kader partai yang militan dan berintegritas di tiap tingkat kepengurusan.
Bila kedua kegagalan itu menyatu, maka pada momentum pilkada di mana pun berada, kita akan sering melihat:
partai yang memenuhi syarat untuk mengusung pasangan cakada, justru mengusung calon dari luar kader partainya.
Kalau partai yang punya 20% kursi legislatif saja bisa mengusung kader partai lain, apalagi partai yang perolehannya di bawah itu.
Maka jadilah seperti yang saya analogikan di atas, bendera partai sudah mirip umbul-umbul promosi mobil.
Siapa pun bisa membeli mobil itu. Yang penting memenuhi “syarat”.
Kalau tidak bisa membeli tunai, bisa kredit. Bahkan bisa sekadar menyewa dengan tarif tertentu.
Sudah se-transaksional itu, perilaku partai politik kita.
Maka ketika wali santri tadi mengatakan bahwa masyarakat pemilih sekarang cerdas dan sadis, saya jadi berfikir : mereka itu sebagai sebab atau akibat?
Jika sebagai sebab, berarti mereka melihat semua kontestasi politik itu sekadar sebagai momentum “sedekahan” para aktor politik.
Maka para caleg atau cakada selain harus kuat logistik juga harus lapang dada.
Jika sebagai akibat, berarti para pemilih adalah pembelajar yang baik.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Sopir dan Penumpangnya
Terbukti mereka selama ini mencermati aturan main dalam partai yang segalanya serbaada hitung-hitungannya.
Sehingga mereka sekadar mengikuti pola permainan itu.
Seolah mereka berkata: mosok partai thok sing oleh rejeki, masio aku lak yo gelem rek..
Mohon diingat, gambaran perilaku politik masyarakat dan partai di atas adalah realitas yang terjadi di daerah-daerah lain.
Kebetulan wali santri yang curhat berasal dari luar Jombang.
Maka, jika Anda bertanya bagaimana dinamika di Jombang, bedakah..?
Saya akan balik bertanya : mau tau banget atau mau tau aja..hehe. Wallahu-a’lam bishshawab. (*)
Editor : Achmad RW