Jombang baru saja memiliki PCNU definitif masa khidmat 2024-2029 hasil Konfercab tanggal 5 Mei 2024 di Pondok Pesantren Darul’Ulum.
Alhamdulillah perhelatannya berjalan lancar. Saya adalah termasuk orang yang sangat mensyukuri kelancaran Konfercab tersebut.
Mengingat dinamika sebelumnya yang begitu meresahkan nahdliyin.
Akibat adanya perlawanan hukum berupa somasi terhadap PBNU.
Sehingga saya sempat menguatirkan akan terulangnya peristiwa tahun 70-an ketika muncul PCNU tandingan yang dijuluki PCNU Bangladesh.
Julukan yang dianalogikan dengan pemisahan wilayah Pakistan Timur dari Pakistan menjadi negara Bangladesh.
Maka, seandainya somasi dulu itu berlanjut diproses menjadi sengketa perdata, bisa jadi tahun lalu muncul PCNU Brexit (Britain Exit).
Mengacu pada keputusan Inggris (Britain) untuk keluar (exit) dari Uni Eropa.
Namun alhamdulillah, semua pihak mampu lebih mengutamakan menjaga marwah jam’iyah daripada kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga apa yang saya kuatirkan tidaklah terjadi.
Terkait dengan Brexit, alhamdulillah sepuluh hari pasca perhelatan konfercab, saya terbang ke Inggris.
Saya ingin melihat langsung perkembangan organisasi NU di sana.
Maka, saya pun berkomunikasi dengan ketua PCI (Pengurus Cabang Istimewa) NU Inggris (UK) di London, melalui anak perempuan yang aktif mengikuti kegiatan NU di sela studinya di University of Leeds.
Ketua tanfidhnya masih sangat muda. Namanya Rosyid Jazuli ( 34 tahun), mahasiswa PhD di University College London.
Dosen di Universitas Paramadina Jakarta. Sebelum di Inggris, dia ambil Master di Australia.
Karena lama di luar negeri, maka sebagaimana orang barat memperlakukan orang yang dihormatinya, begitu saya tiba di London, dia mengundang kami untuk dinner di tempat tinggalnya.
Di saat makan malam itulah kami diskusi panjang lebar tentang kiprah NU di UK.
Dia menyampaikan bahwa hingga saat ini ada sekitar 300-an lebih keluarga Nahdliyin yang aktif.
Dari segi strata sosial, NU UK menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
Mulai dari pekerja, siswa, hingga mahasiswa (S1, S2 maupun S3).
Kegiatan NU bersama Muslimat dan Fatayat di UK juga beragam.
Mulai dari yasinan-tahlilan setiap minggu (sudah berjalan 2 tahun lebih) dan kegiatan perayaan.
Misalnya pengajian Ramadan dan mendukung KBRI dalam penyelenggaraan shalat Idul Fitri.
Di luar kegiatan ritual peribadatan, banyak kajian dilaksanakan baik di bidang keagamaan (tafsir, fiqih dsb) maupun yang bersifat pendidikan dan riset (beasiswa, tip2 mencari supervisor, mencari akomodasi dll).
Maka sebagai “pembuktiannya”, saya diminta untuk memberi mauidhah dalam acara yasin-tahlil secara daring pada Jum’at jam 20.00 ( Maghribnya jam 21.23 ).
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Berdamai dengan Masalah
Alhamdulillah bergabung juga Rois Syuriyah : Mas Fitra Roman Cahaya, Ph.D (dosen akuntansi di Essex University) dan ibu-ibu pengurus Muslimat maupun Fatayat.
Oh iya, mencermati ibu-ibu Muslimat, ternyata mereka sangat aktif mengampu pengajian bulanan yang rutin diadakan di Indonesian Islamic Center.
Muslimat UK betul-betul menjadi pilar yang kokoh dalam menjaga tradisi jamiyah NU, termasuk lewat tim rebananya.
Terbukti tahun 2024 ini untuk kedua kalinya mereka tampil di Trafalgar Square dalam peringatan Eid in the Square yang merupakan ajang tahunan pemerintah Kota London.
Memang kaum ibu itu, tidak di UK tidak di Indonesia, kalau sudah soal tampil-menampil, selalu terdepan.
Berbeda dengan PCNU di tanah air, masa khidmat PC Istimewa hanya 2 tahun.
Selain itu ada perbedaan lain yang sangat mencolok, yaitu dalam hal political positioning & bargaining (nilai tawar dan posisi politik).
Di luar negeri, PCI tidak memiliki nilai tawar dan posisi politik yang strategis dalam memengaruhi pemerintah Indonesia apalagi pemerintah setempat untuk menyikapi kebijakan tertentu.
Sebaliknya, PCNU memiliki nilai tawar dan posisi politik sangat tinggi di daerah.
Apalagi mendekati pilkada seperti sekarang.
Pengurus akan menjadi jujugan kunjungan para kontestan pilkada untuk dimintai restu dan dukungan.
Biasanya bila mereka silaturrahim lazim membawa “pembuka pintu” dan janji-janji manis, bila meraih kemenangan.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Ojo Kagetan..
Pada situasi inilah potensial melahirkan friksi atau gesekan antar pengurus PCNU sendiri maupun dengan komunitas tokoh NU kultural (non struktural).
Friksi akan semakin menajam manakala di antara kontestan pilkada itu ada yang dari PKB tapi tidak “sepersepsi” dengan pengurus PCNU setempat.
Dalam skala besar, kita dapat mengambil contoh dari dinamika pilpres yang baru lalu, bagaimana “godaan politik” itu membuat sesama nahdhiyin saling bersitegang dan sama-sama mengklaim memperjuangkan NU.
Maka, jika saya menggunakan “godaan politik” sebagai variabel pembeda di antara kedua jenis Pengurus Cabang tersebut, menurut hemat saya PC Istimewa lebih aman dari godaan, dibanding PCNU di dalam negeri.
Bisa dimaklumi bila PCNU digoda, karena punya massa pemilih.
Hanya saja, saran saya, agar marwah jam’iyah tetap terjaga, hindari menampilkan kegenitan sikap politik yang seoalah berkata: godain kite dong.
Nenek bilang: Itu berbahaya. (*)
Editor : Achmad RW