RadarJombang.id - Manusia tentu menghajatkan kebahagiaan, dan untuk menujunya dihajatkan akhlak mulia dengan memoderasi potensi kemanusiaan.
Akhlak mulia itu adalah empat potensi daya utama atau empat induk keutamaan.
Yaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (syaja’ah), pemeliharaan diri (‘iffah), dan keseimbangan (‘adalah).
Imam Al-Ghazali (w. 505 H) menyatakan, jiwa moderat (al-‘adalah) itu cerminan keberhasilan memadukan tiga daya manusia.
Daya akal yang dimoderasi akan membuahkan akhlak yang penuh hikmah (bijaksana).
Daya ghadhab (emosi) yang dimoderasi akan melahirkan akhlak syaja’ah (keberanian).
Serta daya syahwat (hasrat) akan melahirkan akhlak ‘iffah (penjagaan diri).
Kebijaksanaan adalah moderasi kekuatan akal. Keberanian adalah moderasi kekuatan nafsu amarah.
Pemeliharaan diri adalah moderasi daya syahwat. Dan moderasi ketiganya disebut tawasuth, atau proposional.
Moderasi akal yang melahirkan hikmah, selaras dengan surah An-Nahl ayat 125; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan.
Maksudnya adalah mengajak dengan hikmah ilmu, dan bukan dengan kebodohan.
Baca Juga: Cara Belajar Berpuasa Asyik Bersama si Kecil
Akal yang dimoderasikan akan melahirkan hikmah atau kebijaksanaan.
Dengan demikian capaian puncak akal atau capaian tertinggi kecerdasan itu kebijaksanaan.
Abdullah Ibnu Abbas (w. 68 H), pakar tafsir Alquran, sepupu Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, pernah menyatakan bahwa puncak akal itu ada tiga.
Sebagaimana antara lain tersebut dalam karya Syekh Abu Laits as-Samarqandy (w. 393 H), Tanbihul Ghafilin,
Abdullah ibnu Abbas suatu saat ditanya, ’’Wahai Ibnu Abbas, apakah puncak akal itu?’’
Ibnu Abbas menjawab (tiga hal): Pertama, ketika seseorang memaafkan orang yang menzaliminya.
Kedua, ketika ia merendahkan hati pada orang yang di bawahnya. Ketiga, ketika ia menimbang pikir kemudian baru berkata.
Demikianlah, manusia yang mendayagunakan akalnya dengan proposional akan melahirkan akhlak yang mulia yaitu menjadi sosok pemaaf, rendah hati, dan bijaksana sebagaimana dinyatakan Ibnu Abbas.
Sehingga, agar manusia senantiasa bahagia jiwanya, ia hendaknya menyeimbangkan pendayagunaan tiga potensi, yaitu akal, emosi, dan hasrat.
Akal yang tidak didayagunakan secara baik akan melahirkan manusia yang sombong dan durhaka.
Emosi yang tidak digunakan dengan baik akan membawa manusia pada kesembronoan tindakan.
Dan hasrat yang tidak terkendali akan membawa manusia pada pemuasan nafsu kebinatangan.
Baca Juga: Tradisi Ngabuburit Era Generasi “Z” di Jombang
Keseimbangan potensi akal, emosi, dan hasrat akan membawa manusia pada keutamaan jiwa atau empat kebajikan utama yang meliputi kebijaksanaan, keberanian, dan keterjagaan diri.
Serta moderasi ketiga potensi itu akhirnya membawa pada proposionalitas akhlak dan sikap. (*)
Penulis
Dr Yusuf Suharto
Ketua Komisi Ukhuwwah Islamiyah
MUI Jombang