Radarjombang.id - Penggunaan smartphone saat ini menjadi sebuah ketergantungan di mana keberadaannya tidak akan lepas dari aktivitas manusia dari segala golongan usia, baik dari kalangan dewasa hingga anak-anak sehingga menumbuhkan beberapa kebiasaan baru.
Selain sebagai alat komunikasi, smartphone menawarkan beberapa aplikasi hiburan dari mulai sosial media, platform hiburan hingga permainan atau game yang membuat kecanduan. Game online muncul dan sangat digemari oleh remaja hingga dewasa menyajikan berbagai mode dan jenis dari mulai Massively Multiplayer Online First Person Shooter (MMOFPS), Simulation, Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) hingga Battle Royale.
Namun, di balik kesenangan dan kegembiraan yang ditawarkan oleh game, terdapat fenomena yang sering diabaikan: perilaku toxic dan trash talking. Lebih dari sekadar mengganggu, perilaku ini sebenarnya merupakan polusi akhlak yang merusak di dalam komunitas game online. Toxic atau racun dalam konteks game online merujuk pada perilaku yang merugikan, beracun, dan hal yang tidak pantas. Hal ini dapat mencakup berbagai perilaku negatif, mulai dari menyindir, menghina, hingga melakukan pelecehan verbal terhadap sesama pemain. Sedangkan, trash talking adalah bentuk komunikasi agresif yang sering kali digunakan untuk merendahkan lawan atau pemain lainnya dalam sebuah permainan.
Tidak hanya itu, polusi akhlak di dalam game juga dapat memperkuat dan memperluas pola perilaku negatif di kehidupan nyata. Para pemain yang terbiasa dengan perilaku toxic dan trash talking di dalam game cenderung untuk mengadopsi perilaku serupa dalam interaksi mereka di dunia nyata. Hal ini bisa mengancam kesehatan sosial dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat di sekitar mereka. Kebiasaan berkata buruk, menghina, serta tindakan agresif lainnya sama sekali tidak mencerminkan akhlaqul karimah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mirisya di era saat ini para remaja sering dan dengan bangga memakai kata-kata buruk dalam kehidupan sehari-hari sehingga melupakan kalimah thayibah atau tasbih yang diajarkan oleh agama Islam.
Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa perilaku toxic dalam game tidak hanya merugikan bagi individu, tetapi juga dapat merusak hubungan antarmanusia, serta melanggar nilai-nilai agama dan akhlak yang dijunjung tinggi dalam masyarakat. Penting bagi kita semua untuk menyadari dan mengakui bahwa perilaku toxic dan trash talking dalam game online bukanlah hal yang sepele. Ini adalah bentuk polusi akhlak yang serius dan harus ditangani dengan serius. Para pengembang game, moderator komunitas, dan pemain sendiri memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif dan ramah meskipun di dalam game. Hanya dengan bersama-sama mengambil tindakan yang tepat, kita dapat membersihkan polusi akhlak ini. (*)
Oleh: Lintang Nanda Hidayah,S.Pd
Ahli Pertama-Guru Aqidah Akhlaq MTs Negeri 9 Jombang
Editor : Anggi Fridianto