RadarJombang.id - Ketika kenyataan yang kita hadapi berbeda dengan harapan, itulah masalah.
Tak seorang pun terbebas darinya. Karena setiap manusia normal pasti memiliki harapan.
Dan tak semua harapan mewujud dalam kenyataan. Misal, kita hendak pulang menjelang Maghrib.
Dengan harapan bisa berbuka bersama isteri di rumah. Tetiba di tengah jalan ada kecelakaan, sehingga menghambat perjalanan kita.
Akibatnya kita terpaksa berbuka Aqua di kendaraan dan video call dengan isteri untuk menghilangkan kecemasannya.
Itu berarti kita sudah berdamai dan bahkan mengatasi masalah.
Bagaimana dengan sikap isteri..? Jika dia marah sambil mengatakan: berangkatnya terlalu mepet buka; harusnya lewat jalan alternatif; polisinya tidak becus mengatur jalan dan seterusnya, berarti dia belum bisa berdamai dengan masalah.
Ia terlalu asyik dengan kehendaknya sendiri. Sehingga apa yang dia kehendaki harus terwujud.
Bila tidak, maka dia akan menyalahkan semua pihak yang diingatnya.
Pribadi yang sulit berdamai dengan masalah itu biasanya sepi dari sifat sabar dan ikhlas.
Sudah begitu, selalu merasa paling benar. Akibatnya, bila mendapat masalah, dia suka outward looking melihat keluar untuk mencari pihak-pihak yang bisa disalahkan.
Maka dia ringan sekali menyalahkan siapapun yang tidak se-frekuensi dengannya karena dianggap sebagai sumber masalah.
Kepribadian demikian ini bisa hinggap pada siapa saja, tanpa pandang tingkat pendidikan seseorang.
Bisa dari yang tidak lulus SD hingga yang gelar akademiknya berderet.
Oleh karena itu tidak ada jaminan kalau orang berpendidikan sangat tinggi berkemampuan tinggi pula untuk berdamai dengan masalah.
Demikian juga sebaliknya. Sebab berdamai dengan masalah adalah persoalan bagaimana mengelola hati di saat kita menerima ujian Allah.
Bukan soal intelektualitas. Maka dari itu, yang sering kita tonton di TV saat ini justru orang-orang yang berpendidikan tinggi bahkan para guru besar yang sedang mengekspresikan tata kelola hatinya antara mereka yang tak mampu berdamai dengan masalah melawan yang telah berdamai.
Sederhana sekali memosisikannya.
Lepas dari realitas dinamika di atas, saya ingin mengajak pembaca setia kolom ini untuk sama-sama belajar mengelola hati dalam berdamai dengan kenyataan pahit atau masalah yang sejatinya merupakan ujian Allah.
Karena sebuah penyangkalan justru menjauhkan kita untuk mendapatkan solusi-Nya.
Padahal, Allah menciptakan kematian dan kehidupan semata untuk menguji : siapa di antara kita yang baik perbuatannya.
Ini berarti : selama nyawa dikandung badan, ujian Allah kan selalu datang.
Oleh karena itu, agar hati kita terkelola dengan baik dan istiqamah dalam menempuh jalan yang diridhai Allah.
Sehingga kita bisa berdamai dengan masalah dan bercengkerama dengan ujian Allah, sebaiknya kita mengikuti nasihat Syekh Ibnu Atho’illah dalam Kitab Hikam.
Beliau memberikan beberapa kiat singkat yang dapat membantu kita menghadapi masalah atau ujian :
Pertama, memahami bahwa Allah-lah yang memberi ujian.
Menyadari bahwa segala ujian datang dari Allah dan bahwa Dia tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita.
Kedua, menerima dengan sabar. Menerima ujian dengan sabar dan tidak mengeluh, karena sabar adalah kunci untuk mendapatkan bantuan solusi dari Allah.
Ketiga, mencari hikmah. Setiap ujian memiliki hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik.
Dengan hikmah yang kita dapatkan, membuat kita tumbuh lebih kuat dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Keempat, tawakkal kepada Allah. Bertawakkal atau menyerahkan segala urusan kepada Allah, meyakini bahwa Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita.
Sehingga apa pun ujian yang kita hadapi, itulah pilihan Allah yang terbaik untuk kita terima.
Kelima, bersyukur dalam segala keadaan. Bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Ini misalnya kita sakit kepala. Kita tetap bersyukur karena itu pertanda bahwa kita masih berkepala.
Syekh penulis 20 kitab berbagai topik itu juga mengingatkan kita bahwa Allah sering kali memberikan ujian sebagai cara untuk membersihkan dan menguatkan hati kita, serta untuk mengingatkan kita akan kekuasaan dan kasih sayang-Nya.
Oleh karena itu, sikap terbaik yang bisa kita ambil adalah dengan bersabar, bertawakkal, dan selalu berusaha mencari hikmah di balik setiap ujian dan masalah yang kita hadapi.
Oh iya, kembali ke isteri yang di rumah tadi.
Bila dia di layar HP kita justru tersenyum dan berkata : “ga papa mass sabar saja.. kalau gitu aku berbuka dengan air juga.. makannya nanti saja bareng kangmas.. soalnya aku tadi bikin lauk kesukaan kangmas.. hehe... ayo doa bareng-bareng seperti biasanya.... Allahumma jann.... eh salah...hihi..”
Berarti dia tidak hanya isteri yang bisa berdamai dengan masalah tapi justru bisa memecahkan masalah.
Sehingga memotivasi kita untuk cepat sampai rumah. Bersyukurlah kita, karena Allah telah mengirimkan hamba-Nya yang menentramkan hati. Alhamdulillah. (*)
Editor : Ainul Hafidz