TETIBA ada seseorang yang mengajak kita bertengkar, gegara kita tak sengaja menyenggol tasnya saat antre boarding di bandara.
Kita sudah minta maaf, tapi dia masih ngomel terus. Ukuran tubuhnya lebih kecil dari tubuh kita.
Seandainya adu fisik, kita yakin menang karena kita pendekar silat.
Namun dari berondongan omelan itu, kita tak meladeninya dan hanya menjawab dengan menangkupkan tangan di dada : maaf, saya sedang berpuasa.
Bila perilaku itu yang kita kedepankan, berarti ibadah puasa yang kita lakukan efektif menjadi pengendali nafsu kita. Itulah puasa sesungguhnya.
Tidak sekadar menahan makan dan minum di siang hari. Tapi menahan segala hal yang membuat ego kita meledak keluar.
Maka sangat disayangkan kalau di saat berpuasa, kita justru meletupkan si ego sehingga tampil menjadi sosok yang “haus” perhatian atau perlakuan khusus dari orang lain sekitar kita.
Di sinilah sebenarnya titik kritis ujian kita. Maka kalau kita menuntut hak istimewa atas ke-puasa-an kita, itu menandakan kualitas puasa kita masih dalam taraf amatir belum “profesional”.
Oleh karena itu, saya termasuk orang yang sangat kagum pada pemain bola muslim di liga Belanda, Inggris, dan Jerman yang masih mempertahankan puasanya ketika berlaga.
Mereka sangat berterimakasih pada wasit ketika diberi jeda waktu 2-3 menit untuk berbuka dengan air mineral.
Sayangnya kebijakan itu tidak diikuti FFF ( PSSI-nya Perancis). Bahkan di negeri Zidane itu sejak tahun lalu menegaskan larangan pada wasit agar tidak menjeda pertandingan bagi pemain muslim untuk berbuka.
Maka saya pikir, terkait dengan lebih beratnya ujian yang mereka hadapi di sana dibanding di negeri ini yang sangat mengistimewakan Ramadan.
Pahala puasanya muslim di negara yang mayoritas non-Islam tentunya lebih besar dibanding kita di sini.
Betapa tidak. Mulai regulasi imbauan untuk menghormati bulan puasa bagi warung-warung makan, pusat-pusat hiburan malam hingga perubahan jam layanan publik, adalah refleksi dari pengistimewaan bulan puasa.
Sadar atau tidak, hal itu malah cenderung memanjakan masyarakat yang berpuasa. Ibarat pertandingan tinju, kita melawan petinju yang sudah disuntik lemas oleh sistem kultur kita.
Sehingga kalau pun menang, tidak berdampak pada menguatnya otot daya pukul kita pascatanding.
Oleh sebab itu, orang boleh curiga: jangan-jangan kita puasa mampu menahan nafsu untuk tidak makan dan minum bukan karena Allah, tapi karena warung tidak ada yang buka.
Namun demikian, dengan prinsip peribadahan dalam Islam yang tidak memberatkan ummat.
Sehingga selalu ada pilihan untuk mengganti puasa dengan bentuk ibadah lain bagi yang sakit dan musyafir.
Maka Allah memberi rukhshah ( dispensasi / kemurahan ) bagi mereka untuk tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan meng-qadha (mengganti) hari lain atau membayar fidyah (memberi makan fakir miskin).
Bagaimana kalau sakitnya ternyata “sengaja” ditepatkan pada bulan Ramadhan..? Ya itu urusan dia sendiri dengan Gusti Allah.
Kita tidak perlu mencampurinya. Kita fokus saja pada keabsahan puasa kita sendiri.
Supaya puasa kita betul-betul berdasar keimanan dan pengharapan balasan dari Allah semata ( ihtisaban ). Agar dosa kita terampuni.
Bagaimana dengan orang yang berpura-pura puasa di depan kita..? Sudahlah, kita fokus saja pada puasa kita sendiri.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Mendalili Ijtihad Politik
Kita berfikir positif saja, bahwa dia sebenarnya sangat ingin puasa akan tetapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Tak perlu kita ber-suudhon pada orang lain.
Bagaimana dengan orang yang sengaja memamerkan ketidak-puasaannya di depan kita atau naik sepeda motor sambil merokok dengan sikap jumawa...? Ya santai saja.
Kalau kita marah berarti puasa kita belum menundukkan ego dalam diri ini. Kita justru harus mengasihaninya atas ketandusan hatinya dari kasih sayang Allah.
Kita senyumi saja. Karena kita harus puasa dengan hati bahagia dan riang gembira.
Bukankah kanjeng Nabi sudah dawuh :”Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhan.” (muttafaq ‘alaihi).
Selamat berpuasa dengan bahagia dan riang gembira, semoga Allah menerima ibadah Ramadhan kita. Amiin Ya Robbal’alamiin. (*)
Editor : Achmad RW