Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Megengan, Antara Tradisi dan Religi

Achmad RW • Rabu, 13 Maret 2024 | 14:00 WIB
Ahmad Yasin SPd MPdI, Guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Jombang
Ahmad Yasin SPd MPdI, Guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Jombang

Ramadan sudah tiba. Seluruh umat muslim di dunia menyambutnya dengan penuh suka cita.

Di Indonesia,  setiap menjelang Ramadan, ada sejumlah tradisi unik yang digelar masyarakat.

Salah satunya tradisi dari Jawa, khususnya Jawa Timur, yang dikenal dengan ‘megengan’.

Dari bahasa Jawa ‘megeng’ yang artinya menahan. Memiliki filosofi menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.

Seperti makan, minum, marah dan hawa nafsu lainnya yang tidak diperbolehkan selama menjalankan puasa.

Tradisi Islam Jawa yang akulturatif kebanyakan datang dari Kanjeng Sunan Kalijaga, salah satu walisongo.

Mereka dikenal ramah dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Mereka banyak menggunakan cara-cara simbolik yang dekat dengan budaya masyarakat saat itu.

Tradisi megengan sendiri disinyalir merupakan akulturasi antara budaya yang kental dengan masyarakat Jawa dan ajaran Islam.

Di masa-masa awal penyebaran Islam di nusantara, masyarakat masih sangat kental dengan beragam tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan mereka.

Jika Islam diajarkan secara frontal, dikhawatirkan masyarakat akan menolak. Di situlah bukti kebijaksanaan walisongo.

Baca Juga: Luluk Habibah Triwijayati: Menghafal Alquran, Alternatif  Masa Pensiun

Mereka sangat piawai membungkus dakwahnya dengan berbagai hal yang dekat dengan masyarakat.

Begitu pula dengan megengan yang dibungkus melalui tradisi upacara atau slametan yang sudah umum berkembang di masyarakat kala itu.

Simbol-simbol yang ada dalam tradisi megengan, makna sebenarnya adalah;  ’’Melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan yang sangat disucikan di dalam Islam.’’

Megengan biasanya digelar di masjid atau langgar setempat.

Bahkan sekarang ada yang tahlil dan khotmil Quran yang ditujukan kepada arwah para leluhur di  makam umum, bersama-sama  warga setempat.

Warga yang tinggal di sekitar langgar  atau masjid membawa nasi beserta lauk pauknya (berkat) untuk dimakan bersama.

Ada satu makanan khusus yang tidak boleh absen dari tradisi megengan, yaitu kue apem.

Simbol permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.

Apem berasal dari Bahasa Arab ‘afwan’ yang berarti maaf atau ampunan. Dulu, apem menjadi makanan elit keraton. Ini bisa dijumpai pada Kerajaan Pajang.

Megengan dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Syakban (Ruwah) menjelang  masukknya bulan Ramadan.

Sebelum makan berkat, warga membaca tahlil dan doa permohonan ampun kepada Allah SWT bagi yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia.

Ini agar disucikan lahir dan batin dari segala dosa. Sehingga bisa lebih tenang dan lapang dada dalam menjalani seluruh ibadah di bulan Ramadan. (*)

Penulis:
Ahmad Yasin SPd MPdI
Guru Bahasa Indonesia MTsN 9 Jombang

Editor : Achmad RW
#Ramadan #religi #megengan #muslim #tradisi