DALAM ceramah di depan jamaahnya, Buya Hamka bertanya : "Bila kita ikut wisata naik bus, siapa yang lebih berat pekerjaannya, sopir apa penumpang..?"
"Sopiir.." jawab jamaah hampir serentak.
"Betul sekali, sopir bekerja keras mencari jalan yang bagus, maka dia harus fokus agar seluruh penumpang aman dan nyaman sampai tujuan.
Sementara, para penumpang di dalam bus, santai, rebahan bahkan sambil nyanyi-nyanyi atau tertidur pulas.
Pertanyaan selanjutnya, siapa yang biasanya mabuk, sopir atau penumpang...?"
"Penumpaang..." Lagi-lagi jawab jamaah serentak.
"Mengapa.. ada yang tahu jawabannya..?" tanya Buya memancing reaksi jamaah, tapi tak ada yang bisa menjawab.
"Begini, sopir tidak mabuk karena dialah yang mengendalikan busnya. Dia tau, harus bagaimana mengatur kecepatan dan mengarahkan kemudi berliku-liku di jalanan sesuai kondisi fisik dan suasana hatinya.
Sementara, para penumpang mudah mabuk karena mereka berada dalam kendali bus itu. Mereka tidak bisa menyesuaikan jalannya bus dengan kondisi tubuhnya.." jelas buya.
Dari analogi Buya Hamka di atas, bisa diambil hikmah bahwa ketika kita memosisikan diri sebagai sopir, maka diri kita sendirilah yang mengendalikan dunia kita. Dunia dalam “kuasa” kita.
Sehingga, kalaupun terjadi gonjang-ganjing arus informasi di sekitar kita, kita akan saring mana hal baik yang dapat diserap atau konsumsi dan mana hal buruk yang harus ditolak.
Kita bisa tugaskan akal-sehat dan hati nurani untuk menjadi tim penilai kita atas segala sesuatu yang bersumber dari luar, sebelum kita putuskan untuk bersikap, bertindak, dan berkata dalam meresposnnya.
Sebaliknya, bila kita menempatkan diri sebagai penumpang, kita akan larut dalam guncangan dunia.
Kita akan menari sesuai irama gendang, siapa pun penabuhnya. Karena kita menelan seluruh informasi di lingkungan kita tanpa kendali tanpa filter.
Akal sehat dan hati nurani sendiri, tidak difungsikan. Akibatnya, diri kita lebih mudah terombang-ambing dan mabuk, hingga tak sadar lagi apa yang kita lakukan dan ucapkan.
Sayangnya, hari-hari ini saya melihat, begitu banyak saudara-saudara kita yang memosisikan diri sebagai penumpang.
Memang lebih enak dan tanpa terbebani tugas, akan tetapi ya itu tadi, mudah terdampak guncangan mobil.
Maka ada solusi yang strategis untuk menghindari gejala mabuk bagi penumpang, yaitu terjalinnya komunikasi yang baik dengan sopir. Bagaimana caranya.?
Pertama, kenali watak dan kebiasaan sopir dalam membawa mobil. Ini modal pertama untuk menentukan sikap kita selama perjalanan.
Jika kita tahu bahwa dia suka ngebut sedangkan kita tidak terburu-buru, maka ketika mau berangkat, kita bisa bilang : “Santai saja ya pak, saya tidak buru-buru kok..”
Kedua, penuhi apa yang dia suka. Bila dia perokok, maka kita siapkan sebungkus rokok kesukaannya.
Begitu juga kalau dia suka permen atau camilan. Letakkan sebungkus permen atau kacang atom di atas dashbor-nya.
Saya yakin, hal itu akan membuat pak sopir lebih mendengar permintaan kita. Ini bukan soal transaksional, tapi begitulah hukum kehidupan dunia. Siapa menanam, dia menuai.
Ketiga, ketahui rute yang akan dilalui kendaraan kita. Dengan pengetahuan cukup tentang rute ke titik tujuan yang akan dilewati, kita bisa berancang-ancang menata tempat duduk dan mempersiapkan perbekalan yang kita bawa.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Debat 3 Pilihan
Permasalahan baru muncul ketika pilihan rute sopir berbeda dengan kemauan kita.
Kita menghendaki lewat rute Y karena kita akan membeli oleh-oleh di kios buah yang adanya hanya di pinggir jalan Y.
Sementara sopir menghendaki rute X, karena BBM sudah menipis, sedang di jalan Y tidak melewati SPBU.
Di sinilah bibit silang pendapat mulai muncul. Kita mulai menilai bahwa si sopir tidak patuh pada “perintah” kita.
Kita jengkel, sehingga ingin sekali menggantikan posisinya, tapi tak punya SIM. Seandainya digantikan sopir lain, kita pun ragu, jangan-jangan pilihan rutenya X juga.
Akibatnya, selama perjalanan, suasana hati kita tidak enak pada sopir.
Maka, supaya kita tidak merasakan jengkel sendirian, biasanya kita pun sebar desas-desus tentang hal negatif sopir pada penumpang lainya.
Kita bilang : dia makannya banyaklah. Istrinya pencemburulah. Sekolahnya cuma SD-lah. Dan hal-hal lain yang tidak ada relevansinya dengan kompetensinya sebagai seorang sopir.
Semata-mata demi mengekpresikan ketidak-sukaan kita padanya akibat dia lebih mengutamakan berjalannya mobil daripada memenuhi kepentingan kita.
Padahal, jika kita menggunakan akal sehat dan hati yang bersih, pasti kita mengakui bahwa prioritas sopir mengutamakan mengisi BBM agar kendaraan terus berjalan, adalah pilihan jitu.
Jika suasana hati yang kurang bersih itu tetap kita pelihara, maka sehati-hatinya sopir membawa mobil dan sehalus-halusnya dia menginjak rem atau memindahkan gigi persneling,.
Ia juga tidak akan membuat kita merasa nyaman di dalamnya. Karena hati kita sudah terlanjur benci dengan sikapnya.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Netralitas ASN & Kiai
Itu baru sopir dengan penumpang sebuah kendaraan. Alangkah kompleksnya jika kendaraannya berupa entitas wilayah otoritatif dengan “penumpang” ribuan bahkan jutaan jiwa.
Maka sayangi hati kita dengan menyiramkan air hikmah setiap saat, agar tak terkotori kebencian yang menggerus akal sehat kita sendiri. Hati-hati pak sopiiir…. (*)
Editor : Achmad RW