SEORANG kawan yang tidak pernah komentar di grup WhatsApp tiba-tiba kirim pesan.
“Mas, aku bingung lihat postingan teman-teman pendukung capres yang saling hujat. Aku ikut jenengan saja ya, yang biasa meredam-redam. Jenengan pilih nomor berapa to..?” tanyanya.
Khawatir pilihan saya di-screenshot kemudian di-share kemana-mana yang berakibat tidak baik bagi citra netral saya, maka saya jawab dengan video call.
Kebetulan kami lama tidak jumpa, akibatnya kami diskusi agak panjang. Begini ringkasan komunikasi kami:
Tidak perlu bingung pilih capres. Coblos saja yang Anda suka dari foto paslon di kertas suara.
Mana yang menurut Anda menarik hati, langsung coblos saja dadanya. Soal visi dan misi, itu sekedar janji yang bisa disampaikan siapa saja.
Bukankan pemilihan OSIS SMP juga ada penyampaian visi dan misi dari para calonnya.
Boleh juga Anda pilih atas dasar rekam jejak paslon selama dia mendapat amanat kenegaraan sebelumnya, silakan.
Meski tidak ada jaminan bahwa yang rekam jejaknya bagus akan jadi presiden yang baik, begitu juga sebaliknya.
Karena iklim dan lingkungan politik nasional begitu kompleks. Tak sesederhana yang para kritikus ucapkan.
Begitu banyak kepentingan pihak yang harus dipertimbangkan. Boleh saja Anda berteriak dengan gagah bahwa kita harus memperjuangkan kepentingan rakyat, maka harga beras harus diturunkan.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Satu Putaran, lebih Mudah Merukunkan
Begitu harga beras turun otomatis harga gabah rendah, bagaimana dengan nasib rakyat yang bertani.
Mereka pasti akan berteriak lalu demo. Itu baru bicara satu komoditas. Belum komoditas dan bidang lain.
Oleh karena itu, saya termasuk salah seorang yang datar-datar saja dalam melihat kontestasi politik di setiap tingkatan.
Karena walikota, bupati, gubernur bahkan presiden itu pada hakekatnya pelengkap syariat kehidupan di duniawi saja, bahwa dalam setiap kumpulan manusia harus ada pemimpin untuk mengatur kehidupan bersama agar tertata.
Itu saja. Maka pada masa lalu diturunkanlah para Nabi sebagai pemimpinnya.
Untuk itu, saya melihat pemilu ini sekedar sarana formal yang kasat mata untuk melogiskan keterpilihan seseorang sebagai pemimpin bangsa, di balik hakikat wujud suratan Gusti Allah.
Maka sangat naif, bila kebetulan yang kita pilih mendapat kemenangan, kita merasa yang menjadi penyebab kemenangannya.
Ketahuilah bahwa kita ini seperti bodrex untuk mengatasi demam. Diminum hanya sebagai sarana untuk kesembuhan, bukan yang menyembuhkan.
Sayangnya, banyak saudara kita yang masih naif. Merasa sebagai sebab kemenangan.
Akibatnya mereka melupakan kehadiran Tuhan. Ini berbahaya. Bisa mendatangkan “peringatan” Tuhan berupa bencana alam maupun sosial.
Tentang kenaifan ini, saya jadi teringat kisah Nabi Musa dalam kitab Fathul Majid.
Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan bahwa suatu hari, Nabi Musa mengadukan sakit gigi yang dideritanya kepada Allah secara personal, hanya dia dan Allah yang tahu.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Memilih tanpa Mencintai
Beda dengan yang dilakukan orang-orang sekarang, sakit mules saja mengadunya ke Facebook, akibatnya semua mantan jadi tahu..hehe..
Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa untuk mengambil beberapa helai rumput di suatu padang dekat gunung Tursina.
”Letakkan rumput itu ke gigimu yang nyeri," dawuh Allah. Setelah mengikuti perintah-Nya, sakit gigi Nabi penerima Taurat itu pun reda dan sembuh.
Setelah beberapa waktu berlalu, sakit giginya kembali kambuh. Tanpa mengadu kepada Allah terlebih dulu, Nabi Musa langsung menuju padang rumput yang pernah didatanginya itu.
Dia lantas mengobati giginya seperti yang pernah dilakukannya. Namun, alih-alih sembuh, sakit giginya justru makin parah.
Kemudian, Nabi yang sering protes ini bermunajat kepada Allah SWT. "Tuhanku, bukankah Engkau memerintahkanku dan menunjukkan kepadaku untuk pengobatan dengan rumput ini, mengapa sekarang sakit gigiku tidak sembuh..?”.
Allah lantas menjawab, "Aku-lah penyembuh. Aku-lah pemberi kebaikan. Aku-lah yang mendatangkan mudharat dan Aku pula yang mendatangkan kemaslahatan.
Pada sakitmu yang pertama, kau mendatangi-Ku dan karenanya Aku sembuhkan penyakitmu. Tetapi, kali ini kau langsung mendatangi rumput itu, bukan mendatangi-Ku."
niat ingsun nyoblos pilihan kulo, semoga mendapat kemenangan dan semoga siapa pun yang Engkau tetapkan sebagai pemenang, dapat mengemban titipan kekuasaan-Mu dengan amanah dan sukses penuh berkah..bless..”.
“Siap mas, maturnuwun penjelasannya. Tapi jenengan belum menjawab pertanyaan saya, nomor berapa pilihan jenengan..?” Tanya teman saya sebelum mengakhiri obrolan online.
“Oke.. hehehe... tapi ini antara kita saja ya... nomor inilah pilihan saya..” jawab saya sambil menunjukkan isyarat jemari yang saya lanjutkan dengan lambaian tangan.
Mohon jangan ditanya, jenis kelamin kawan saya itu ya, karena dia ingin merahasiakannya.
Hehee.. salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW