Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Debat 3 Pilihan

Achmad RW • Senin, 15 Januari 2024 | 14:39 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

OKTOBER lalu setelah mengikuti upacara hari santri, datanglah sepasang suami istri dari Praya Lombok bersama seorang putranya.

Usia si suami sepantaran saya, tapi istrinya kelihatan masih muda, bikin saya penasaran saja.

Mereka bertiga sudah dilayani bagian informasi pendaftaran santri, sehingga info tentang Darul’Ulum sudah diperoleh lengkap.

Hanya saja, ketika harus menentukan pilihan sekolah, ketiga-tiganya masih adu argumen di hadapan petugas.

Akibatnya, mereka disarankan untuk bermusyarah dengan saya.

Calon santri, sebut saja Anwar, adalah alumni Madrasah Tsanawiyah di Mataram.

Sang ayah menghendaki anaknya melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA), supaya linier dengan jenjang pendidikan sebelumnya.

Dia berkeinganan anaknya nanti bisa melanjutkan kuliah ke Mesir seperti gubernurnya dulu.

Sedang sang ibu menghendaki putranya masuk  Sekolah Menengah Atas (SMA).

Alasannya, 9 tahun di pendidikan berbasis agama (MI & MTs) sudah cukup membentuk pondasi keimanan yang kuat.

Dia ingin Anwar meluaskan cakrawala pemikiran dan pergaulannya yang heterogen agar nanti bisa memotivasinya untuk masuk ke perguruan tinggi nasional ternama, ke Gajah Mada misalnya, agar kelak bisa menjadi politisi atau pakar hukum yang andal.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Istri yang Menyalehkan

Sementara si anak tidak mau memilih salah satunya. Orangtua pun bingung. “Bagaimana menurut bapak..?” tanya si ibu ke saya.

Apa yang menjadi harapan bapak dan ibu untuk masa depan Anwar itu, sama-sama baik dan mulianya.

Tapi yang harus kita ingat sebagai orangtua adalah janganlah memaksa anak untuk memikul harapan kita yang membuat potensi otentiknya justru tenggelam.

Anda berdua bisa saja berargumen dengan meyakinkan agar Anwar mengikuti harapan Anda, tapi ingat kata Khalil Gibran, anakmu bukanlah anakmu tapi anak masa depan, karena jiwanya milik masa mendatang yang tak bisa kita datangi bahkan dalam mimpi sekalipun.

Jadi sebaiknya kita dengar dulu apa yang menjadi harapan di masa depannya.

“Apa harapanmu nak.. Katakan saja, supaya kita dapat mengambil keputusan yang tepat” bujuk saya sambil pegangi pundaknya.

“Saya ingin membuat aplikasi di HP yang bisa mengingatkan bacaan tartil Qur’an bila si pembacanya salah melafalkan ayat yang dilantunkannya,"

"Jadi, bila panjang-pendeknya atau tajwidnya tidak sesuai kaidah, lampu HP bisa langsung menyala kemudian terdengarlah bacaan Syeh Suddais yang benar..” jelasnya dengan pandangan mata yang penuh optimisme.

“Wah, bagus sekali itu, nak. Luar biasa.. kelihatannya belum ada aplikasi seperti itu..” kata saya mengapresianya.

“Maka dari itu, untuk mewujudkan harapan saya tersebut, saya ingin mendaftar di SMK yang ada jurusan multi medianya. Boleh ya, pa.. ma..?” rajuk  Anwar pada Ayah-ibunya.

Ayahnya sudah melunak tapi si ibu yang berprofesi sebagai pengacara itu masih bersikeras agar anaknya masuk SMA.

Mereka pun berdebat cukup lama. Akhirnya, Anwar saya minta menunggu di luar sebentar agar saya bisa bicara leluasa dengan orangtuanya.

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Berpolitik Bisa Ikhlas..?  

“Begini bu, saya mohon maaf bila ibu tidak berkenan dengan ucapan saya..” kata saya agak pelan tapi dengan nada suggestif.

“Bapak-ibu harusnya bersyukur, karena Anwar berminat nyantri. Maka sebaiknya ibu mendukungnya untuk berproses sesuai harapan atau cita-citanya,"

"Ibu jangan memaksa Anwar untuk membangun mimpinya dengan konstruksi pola pikir ibu, karena nilai kemanfaatan itu selalu mengalami pendefinisian ulang tiap saat,"

"Janganlah karena kita senang melihat orang pakai jas yang tampak gagah dan menarik, kemudian kita minta anak kita mengenakannya, padahal bila dia berjas tubuhnya banjir keringat".

Jika sikap kita seperti itu, kita ini orangtua yang egois karena anak kita paksa menyenangkan hati kita tanpa memperhatikan jeritan perasaannya.

"Sekali lagi, mohon maaf ya bu, atas ucapan saya. Silakan bapak-ibu musyawarahkan lagi di rumah. Waktu pendaftaran masih panjang..” pungkas saya sambil menyalami si bapak.

Begitu mereka keluar, saya jadi mikir. Betapa banyak saat ini orang berperilaku seperti orangtua di atas.

Figur-figur yang pintar dan merasa lebih tahu serta lebih mampu mewujudkan harapan orang lain (bisa anak atau rakyat ).

Sehingga terbangun persepsi bahwa mereka sedang berjuang mewujudkan harapan rakyat.

Padahal sejatinya mereka  sedang berjuang untuk diri sendiri agar bisa berdiri lebih tinggi dari yang lain dengan meminta kerelaan rakyat meminjamkan pundaknya untuk bertumpu.

Maka sudah saatnya mereka mengerti bahwa rakyat sekarang seperti Anwar yang sadar akan masa depannya dan punya pertimbangan sendiri atas pilihan-pilihannya.

Untuk itu, bisa dimaklumi bila antara elit dan grass-root akan terjadi perbedaan preferensi politik yang tajam, sehingga yang dipilih para pakar dan pengamat di TV sangat mungkin tidak menjadi pilihan rakyat.

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Ummat & Guru Akhlak

Inilah politik, seni dari segala kemungkinan. Semoga kita dapatkan kemungkinan terbaik untuk Indonesia kita.

Salam sehat penuh rahmat. (*)

 

Editor : Achmad RW
#anak #Santri #pondok #Sekolah #kolom #Gus Zuem