SUARA rakyat, suara Tuhan. Semboyan yang aslinya berbahasa latin : Fox Populi, Fox Dei itu, kini menafasi dinamika kehidupan negeri kita pada tahun politik 2024 ini.
Kalimat tersebut sesungguhnya memiliki sejarah panjang, karena sejak abad ke-8 lalu jargon itu menjadi ekspresi “perlawanan” rakyat terhadap kekuasaan monarki absolut di Inggris yang mengklaim diri bahwa raja sebagai wakil Tuhan.
Dari klaim itu kemudian muncul adagium the king can do no wrong yang dimaknai bila raja tidak bisa melakukan kesalahan karena dijaga Tuhan (ma’shum). Ini berbahaya sekali, sebab kontradiksi dengan fitrah manusia yang berpotensi salah.
Maka untuk mengimbangi pelibatan Tuhan dalam kekuasaan, rakyat pun saat itu melibatkan-Nya dalam menyuarakan perlawanan mereka dengan semboyan tadi.
Betapa “apesnya” Tuhan, Dia dihadirkan hanya untuk melegitimasi kepentingan politik para pihak yang bertentangan.
Di era demokrasi sekarang, kalimat “suara rakyat, suara Tuhan” ini ternyata tetap santer, bahkan di negara sekuler sekalipun.
Bukan akibat kentalnya religiusitas, sebab “tuhan” di situ bukan bermakna harfiah yang mewujud, melainkan sekadar simbolisasi atau analogi atas sifat supremasi kemaha-kuasaan-Nya saja.
Sebagaimana perspektif para pejuang demokrasi yang “meyakini” bahwa : dukungan mayoritas rakyat mampu memberi kuasa pada siapa pun yang dikehendaki ( dalam bahasa Qur’an : tu’til mulka man tasyaa ).
Keyakinan itu sepintas tampak biasa saja. Akan tetapi bila dicermati lebih serius, kita akan menemukan dua hal yang perlu kita waspadai.
Pertama, munculnya sikap penuhanan terhadap elektabilitas yang pada gilirannya akan memotivasi kandidat/kontestan melakukan apa saja demi keterpilihannya.
Kita bisa melihat sekarang, betapa perilaku terpuji berupa silaturahmi dan kedermawanan kepada orang lain begitu menonjol ditampilkan oleh para calon yang pada rekam jejaknya dalam keseharian kurang peduli terhadap orang sekitar.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Merawat Pohon Harmoni
Memang tidak ada salahnya, hanya saja ketika sebuah aktivitas dilakukan dengan niatan untuk memperoleh sesuatu yang tidak pasti dari sesama, akan berpotensi menimbulkan guncangan jiwa yang dahsyat bila hasilnya tidak sesuai harapan.
Salah satu contoh, Anda mungkin masih ingat peristiwa dimintanya kembali karpet atau keramik dari sebuah mushalla oleh penyumbangnya, gegara di daerah itu suara partai penyumbang kalah.
Hal itu jelas menunjukkan adanya anomali kejiwaan, akibat menuhankan suara rakyat. Hingga abai untuk memuliakan rumah Tuhan yang sesungguhnya.
Kedua, munculnya sikap pragmatis pada pemilik suara (rakyat). Sebagai konsekuensi dari tingginya penghormatan pada suara rakyat, membuat para pemilih merasa sangat dibutuhkan oleh para kontestan.
Akibatnya, rakyat yang tidak memiliki ikatan bathin dengan kontestan, secara sadar menjadikan nilai pemberian peserta pemilu sebagai pertimbangan arah pilihannya.
Ini sangat memprihatinkan, karena bukan rekam jejak, kualitas karakter maupun program kontestan yang jadi pertimbangan, melainkan jumlah rupiah yang diterimanya.
Semakin besar nominalnya, semakin besar pula kans keterpilihannya, lepas dari “siapa” pemberinya.
Diakui atau tidak, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemilih di pedesaan sering mengkonversikan kepergiannya ke bilik suara setara dengan upah sehari kerja.
Maka kalau kita ingin dia berangkat ke TPS dan memilih sesuai arahan kita, dia harus kita “fasilitasi” transport dan akomodasinya.
Di sinilah kemudian kata heroik “BERJUANG” untuk mendapat dukungan rakyat telah diplesetkan oleh para kontestan menjadi ketersediaan “BERas, baJU dan uANG”.
Kita boleh saja mengutuk praktek politik uang ( money politic ) sebagaimana yang dilakukan para aktivis demokrasi yang penuh idealisme itu, akan tetapi jika para pemilik hak pilih tidak diberlakukan larangan “menjual” suaranya, ya seperti kita memompa ban yang bocor. Tampak semangat memompa, tapi hasilnya nihil.
Kemudian, bagaimana kita menyikapi perilaku politik di atas.? Hehehe... kita santai saja, jangan bermimpi untuk merubah keadan yang sangat kompleks itu.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Saktinya Jokowi
Mending kita mulai dari diri sendiri dulu. Yang penting semua partai yang berkontestasi sepakat menjaga keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila.
Kalaupun terdapat perbedaan, paling hanya pada strategi dan pilihan prioritas untuk menuju Indonesia yang adil dan makmur.
Maka, dengan partai-partai yang bermiripan platform maupun ideologinya, sesungguhnya merupakan anugerah bagi Indonesia untuk melihat kontestasi politik “sekedar” sebagai pertunjukan teater yang sama-sama sudah kita ketahui karakter pemainnya.
Kita tidak perlu terlalu emosional menontonnya. Tak perlu menangisi tokoh kita yang teraniaya, atau menyorakinya ketika dia mendapat kemenangan.
Karena tangis dan sorak kita tak akan berpengaruh pada jalan cerita yang sudah tertulis skenarionya oleh sang maha sutradara: Gusti Allah.
Untuk itu, mengawali 2024 ini saya ucapkan selamat menikmati tahun politik. Jika jadi pemain, bermainlah yang cantik.
Jika jadi penonton, jangan lupa ajak teman menonton yang manis dan pendiam agar kita bisa mengambil pelajaran pada tiap adegannya.
Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW