Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Continuum of Care Menghindari Stunting

Achmad RW • Kamis, 4 Januari 2024 | 15:38 WIB

 

 

Wahyu Anjas Sari
Wahyu Anjas Sari

Continuum of care (CoC) salah satu jenis layanan kesehatan yang dikenal sebagai kontinum pelayanan, adalah upaya untuk mengurangi angka kematian ibu.

Juga angka kematian bayi dan balita, stunting, gizi buruk, dan gizi kurang.

Serta peningkatan cakupan imunisasi, pelayanan yang diberikan secara berkesinambungan dari ibu hamil hingga ibu nifas dan KB.

Gagal tumbuh menyebabkan proporsi pertumbuhan jaringan lunak dan tulang tubuh menurun (stunting).

Proses terjadinya stunting dilalui dengan proses yang panjang. Diawali dengan gagal tumbuh baik yang terjadi selama kehamilan maupun setelah lahir sampai dua tahun pertama kehidupan.

Prevalensi stunting pada balita merupakan sasaran pokok RPJMN 2020-2024.

Prevalensi stunting dari  17,7% tahun 2018 (Riskesdas 2018), dan pada 2019 telah turun lagi menjadi 16,3 % (SSGBI 2019).

Berdasarkan Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, perpres ini mengatur antara lain mengenai:

1) strategi; 2) penyelenggaraan percepatan penurunan stunting; 3) koordinasi penyelenggaraan; 4) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan 5) pendanaan.

Tahun 2021 terdapat 12 kabupaten/kota memiliki capaian Kunjungan Pertama (K1) > 100 %. Secara kualitas terdapat penurunan dari tahun 2020, yaitu 13 Kabupaten/kota.

Karena adanya pandemi Covid-19 sehingga diharapkankan untuk kabupaten/kota di bawah rata-rata provinsi agar meningkatkan pendataan dan pendampingan pada bumil di wilayah kerjanya.

Dengan melakukan Kunjungan Rumah dan disarankan untuk ANC terpadu ke puskesmas agar penyakit penyerta pada ibu hamil dapat terdeteksi lebih awal dan dapat kontak dengan petugas pada trimester I.

Hal itu dilakukan supaya ibu hamil mendapatkan pelayanan yang berkualitas (Antenatal Care Terpadu) dan minimal 1 kali diperiksa oleh dokter.

Hal itu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, dan Pelayanan Kesehatan Seksual.

Tentu saja setiap ibu hamil ingin memiliki kehamilan yang sehat hingga melahirkan. Ada banyak cara untuk mencapai tujuan ini.

Selama sembilan bulan kehamilan, penting bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan dirinya.

Pertama, dengan mengonsumsi makanan bergizi. Mengonsumsi makanan bergizi dapat membantu menambah stamina dan mengelola berat badan selama kehamilan, membantu mereka tetap sehat dan mencegah komplikasi kehamilan.

Kedua, mengonsumsi vitamin prenatalSebenarnya, mengonsumsi makanan sehat setiap hari sudah memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil, tetapi vitamin prenatal dapat membantu memenuhi dan memberikan nutrisi tambahan yang diperlukan janin dalam kandungan.

Ketiga, rutin berolahraga. Olahraga dapat mengurangi stres yang terkait dengan kehamilan, meningkatkan sirkulasi darah, dan meningkatkan aliran oksigen ke seluruh tubuh.

Kelima, tidak minum alkohol dan merokok. Risiko keguguran janin meningkat dengan konsumsi alkohol dan merokok.

Kedua bahaya ini juga dapat menyebabkan bayi lahir cacat, prematur, atau meninggal.

Keenam, kelola berat badan agar tetap ideal. Mengelola berat badan agar tetap ideal, Anda harus menambah sebanyak11,5–16 kilogram selama kehamilan (bagi ibu hamil gemuk).

Sebaliknya, jika sangat kurus Anda harus menambah berat badan sekitar 13–18 kilogram. Ketujuh, banyak minum air putih.

Baca Juga: Membayar untuk Udara Bersih: Pajak Lingkungan dan Peran Pentingnya dalam Menyelamatkan Lingkungan dari Penggunaan Freon

Aliran darah akan lebih lancar jika tubuh memiliki jumlah cairan yang cukup.

Kedelapan, tidur cukup, kenali resiko tinggi pada kehamilan, ingatlah bahwa hipertensi, diabetes, KEK (kekurangan energi kronik), anemia, usia yang terlalu tua atau terlalu muda, obesitas, dan penyakit penyerta seperti jantung memiliki risiko tinggi pada kehamilan.

Bayi BBLR (berat lahir rendah), bayi stunting, kematian ibu, dan bayi memiliki dampak kehamilan resiko tinggi.

Ayo bersama dukung ibu hamil sehat, bahagia dengan memberikan layanan CoC dengan maksimal, asupan gizi seimbang dan dukungan emosional untuk mencegah stunting. (*)

Penulis:
Wahyu Anjas Sari 
Mahasiswa S3 IKM
Universitas Sebelas Maret 

Editor : Achmad RW
#stunting #hamil #Continuum of care #coc #Ibu