Menurut jurnal Radiografi dalam Praktek Klinis: Prinsip, Teknik, dan Aplikasi, radiografi adalah teknik yang digunakan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi berbagai kondisi medis.
Sinar-X dapat digunakan untuk memvisualisasikan struktur internal seperti tulang, organ, dan jaringan lunak.
Sinar-X dikirim melalui tubuh pasien ke detektor yang merekam gambar yang dapat dilihat oleh ahli radiologi.
Sedangkan pemeriksaan radiografi thorax pada pediatrik merupakan pemeriksaan radiologi yang dilakukan di bidang diagnostik menggunakan sinar-X untuk memperlihatkan anatomi pada tulang dada hingga jaringan lunak dinding dada pada pediatrik.
Serta untuk mengetahui adanya kelainan secara radiologis atau indikasi klinis lainnya.
Dengue Hemorraghic Fever (DHF) merupakan salah satu indikasi dalam pemeriksaan thorax. DHF merupakan suatu penyakit demam berat yang disebabkan oleh virus.
Ditandai gangguan dalam pembekuan darah yang menyebabkan perdarahan dan pembekuan darah berlebihan.
Demam berdarah dengue sering menyerang anak-anak atau pediatri dengan persentase hingga 90% (Wijiastuti & Darmini, 2017).
Pada kasus ini, hasil citra dari radiografi thorax akan terlihat adanya penumpukan cairan dalam cavum pleura. Yang dikenal dengan efusi pleura pada hemithorax kanan.
Salah satu teknik pemeriksaan thorax indikasi DHF adalah AP (anteroposterior). Karena pada pediatrik sulit untuk kooperatif dalam pengambilan teknik pemeriksaan PA (posteroanterior).
Baca Juga: Teknologi e-Perak: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Pemeriksaan thorax AP digunakan sebagai skrining awal diagnosa penyakit. Namun, pemeriksaan PA erect lebih diunggulkan karena mampu mengevaluasi air fluid level dengan baik.
Posisi yang dapat digunakan jika pasien tidak bisa kooperatif adalah dengan posisi tubuh pasien setengah duduk (semi erect).
Agar cairan efusi pleura tetap tampak berada di bawah paru.
Namun, tantangan dalam pemeriksaan radiografi thorax pada pasien pediatrik (0 sampai 10 tahun) adalah meminimalkan kekaburan hasil citra akibat motion pasien.
Beberapa cara yang dapat dilakukan dengan melakukan ekspose menggunakan waktu paparan sesingkat mungkin.
Selain itu, penggunaan imobilisasi dengan tepat juga harus diperhatikan tanpa menyakiti pasien.
Penanganan pasien pediatri memerlukan kesabaran dan trik atau cara untuk menjaga komunikasi yang baik dengan pasien.
Sebagai seorang radiografer, penting untuk selalu menjaga suasana hati pasien apalagi usia anak-anak dari awal hingga akhir pemeriksaan.
Beberapa cara untuk meminimalisir gerakan pasien antara lain:
- Bantuan orang tua/keluarga: dapat dilakukan ketika seorang anak merasa takut saat pemeriksaan.
- Diberikan pembungkus/gedong: seorang anak diposisikan supine di atas selembar kain. Lalu lipat kain di atas tubuh anak hingga anak tersebut terbungkus.
- Pig-o statt: Alat Pigg-O-Stat akan membuat bayi terperangkap di sebuah tabung Bayi yang berada di dalam tabung tidak akan bisa bergerak karena ruang sempit dan adanya perlindungan kaca. Kaca tersebut juga berperan untuk melindungi bayi dari radiasi.
- Penggunaan SandBag pada tangan dan kaki untuk mengurangi
DHF menjadi masalah kesehatan utama, terutama bagi anak-anak.
Pemeriksaan radiografi (rontgen) yang digunakan adalah untuk mengidentifikasi anomali atau kelainan pada pasien yang selanjutnya digunakan untuk penunjang dalam diagnosis penyakit. (*)
Penulis:
Kelompok 9: Eliza Maharani, Maulida Maya Dwi Rahmawati, Lailatul Azizah, Aliyatul Hikmah, Amanda Trisalsabhila, Adrian Dwi Nugroho, R.Firman Saputra, Ahmad Rizal Ayyubi.
Mahasiswa Prodi D-4 Teknologi Radiologi Pencitraan, Fakultas Vokasi,
Universitas Airlangga
Editor : Achmad RW