MRI (Magnetic Resonance Imaging) membawa perubahan besar dalam dunia pencitraan radiologi, terutama dalam menilai struktur tubuh yang kompleks seperti plexus brachialis.
Plexus brachialis merupakan kumpulan saraf utama yang mengontrol sensorik dan motorik pada upper extremity.
Ketika terjadi suatu masalah seperti brakial pleksopati, kondisi yang mempengaruhi kesehatan saraf utama ini.
Dalam artikel, kami penulis akan membahas signifikansi MRI dalam mendiagnosis brakial pleksopati, khususnya yang disebabkan oleh tumor saraf perifer ganas (MPNST).
Dalam pemeriksaan MRI Plexus Brachialis, penggunaan teknik seperti T1-Weighted, T2-Weighted, Fat-Suppressed T2W, Short Tau Inversion Recovery (STIR), dan Diffusion Weighted Imaging (DWI), menjadi kunci utama.
Terlebih dalam memberikan gambaran komprehensif mengenai jaringan saraf dan mengidentifikasi karakteristik lesi dengan lebih akurat.
Kombinasi coil head and neck, coil body, surface coil, serta optimalisasi menggunakan MRI 3 Tesla dapat memberikan citra yang jelas dan mendukung perbedaan antara kelainan jinak dan ganas pada saraf perifer.
Studi kasus seorang wanita berusia 34 tahun dengan keluhan lemah dan nyeri pada lengan kiri.
Melalui pemeriksaan MRI diketahui bahwa plexus brachialis mengalami pembengkakan dan peningkatan cairan.
Sequence T2W dan DWI memberikan gambaran adanya tumor dan pembengkakan pada saraf yang cedera.
Pentingnya penggunaan sequence yang tepat dalam pemeriksaan plexus brachialis semakin memudahkan ahli radiologi dalam evaluasi dan mendukung diagnosis dokter.
Baca Juga: Teknologi e-Perak: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Penggunaan MRI 3 Tesla sangat bermanfaat, hal ini karena MRI 3T memiliki fokus Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Contrast-to-Noise Ratio (CNR) yang lebih baik serta meningkatkan kemampuan untuk melihat detail saraf.
Pemeriksaan USG menguatkan temuan dari pemeriksaan MRI, hasilnya menunjukkan pembengkakan dan penebalan yang signifikan pada plexus brachialis.
Artikel ini menyoroti peran penting MRI, terutama teknik lanjutan seperti DWI, dalam menemukan masalah pada plexus brachialis yang disebabkan oleh MPNST.
Studi kasus mengilustrasikan bagaimana teknik ini efektif dalam membedakan masalah plexus brachialis dan memberikan informasi detail tentang kondisi saraf dan penyakitnya.
Seiring perkembangan teknologi medis, MRI tetap menjadi dasar utama dalam mengidentifikasi pada jaringan saraf kompleks. (*)
Penulis:
Shiroth Nastangin, Regita Cahyaning P., Amelia Az Zahra, Ulil Nafisah, Valga Frieske D., Raka Rizky Ramadhan I, Jimmy Octavian, Adellia Aston, Navila Azka S, Jessica Alysia B, Nofi Nur Amalia, Madha Hendri D.
Mahasiswa Prodi Teknologi Radiologi Pencitraan
Universitas Airlangga