FRAKTUR tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang yang dapat terjadi di mana saja pada bagian tubuh manusia, dan dapat disertai kerusakan jaringan lunak.
Kondilus tulang adalah tonjolan atau permukaan yang membulat pada ujung tulang panjang yang bertemu dengan bagian tulang lainnya di sendi.
Maka, fraktur kondilus merujuk pada patah tulang pada bagian kondilus, yang merupakan tonjolan pada ujung tulang panjang yang bertemu dengan bagian lain dari tulang tersebut.
Fraktur kondilus lateral humerus pada anak sulit terdiagnosis karena lempeng kondilus belum terosifikasi.
Kami melaporkan kasus seorang anak laki-laki usia 2 tahun dengan riwayat trauma jatuh saat bermain.
Didapatkan nyeri siku kiri dan pembengkakan tanpa luka terbuka. Pemeriksaan fisik menunjukkan nyeri tekan daerah lateral siku kiri, krepitasi, penurunan ROM dan neurovaskular baik.
Pemeriksaan radiografi elbow AP dan lateral menunjukkan gambaran yang samar untuk menilai adanya fraktur.
Dilakukan operasi reduksi terbuka dengan pemasangan Kirschner-wire. Pasca operasi dilakukan imobilisasi dengan backslab 30 derajat fleksi dan supinasi.
Penegakan diagnosis fraktur kondilus lateral humerus pada anak ini menjadi tantangan karena gambaran radiologis yang tidak jelas akibat proses osifikasi yang masih berlangsung.
Oleh karena itu, interpretasi gambaran radiologis harus hati-hati dengan mempertimbangkan usia pasien.
Pemeriksaan CT scan dapat membantu menegakkan diagnosis jika gambaran radiologis masih meragukan.
Baca Juga: Perempuan Lansia dan Risiko Patah Tulang Panggul
Dalam kasus ini, meskipun diagnosis masih belum pasti, tetapi berdasarkan gambaran klinis yang kuat maka keputusan operasi diambil.
Pemilihan teknik operasi berupa reduksi terbuka dengan fiksasi Kirschner-wire dan imobilisasi pasca operasi adalah pilihan yang tepat sesuai pedoman.
Perawatan pasca operasi yang optimal sangat menentukan prognosis fungsi siku ke depannya. Kontrol rutin sangat dianjurkan untuk memantau progres penyembuhan.
Dengan kasus ini ditekankan arti pentingnya interpretasi gambaran radiologis dan klinis yang cermat dalam menegakkan diagnosis fraktur pada anak, mengingat tantangan osifikasi yang masih berlangsung.
Kerjasama multidisiplin juga mutlak diperlukan untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien. (*)
Penulis:
Dannis Virendo, Fauzia Shofianti, Azky Faridlatun, Karmelitha Mala, Ananda Valen, Hanifah Ramasari, M. Fajar Firmansyah, Septi Anggia.
Mahasiswa D4 Teknologi Radiologi Pencitraan
Universitas Airlangga
Editor : Achmad RW