SAAT ini, ketika kegaduhan terjadi akibat konflik kepentingan politik masing-masing kelompok, mengindikasikan bahwa tokoh masyarakat kita sepertinya telah melupakan kearifan lokal yang pernah dimiliki para pejuang dan pemikir negeri ini di masa-masa kemerdekaan.
Padahal, kalau saja mereka sedikit membuka hati untuk mengamalkan tuntunan para pujangga yang hidup di tanah Jawa dulu, tentu kegaduhan politik ini tak akan semelelahkan sekarang.
Misalnya, tuntunan salah satu pujangga yang bernama RMP Sosrokartono, sufi kejawen kelahiran Jepara saudara RA Kartini yang juga penasihat spiritual Bung Karno itu.
Ia mengajarkan banyak tuntunan, di antaranya ajaran “Kanthong Bolong” dan empat butir filosofi kehidupan : sugih tanpo bondo; digdoyo tanpo aji; nglurug tanpo bolo; menang tanpo ngasorake.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Istri yang Menyalehkan
Mari kita kaji satu persatu relevansinya dengan situasi saat ini.
Sugih tanpo Bondo
Butir yang secara harfiah berarti “kaya tanpa harta” ini, memiliki makna sangat tinggi dalam membimbing manusia untuk menyikapi kepemilikan materi.
Bukanlah harta yang membuat orang kaya, tetapi rasa cukuplah (qona’ah) yang menjadikan orang benar-benar berharta tak ternilai.
Maka, ketika rasa cukup itu sirna dari jiwa seseorang, dia akan terus berusaha memenuhinya dengan segala cara, meskipun dia telah memiliki rekening bank dimana-mana.
Bahayanya, bila orang yang begini ini tidak peduli lagi dengan halal-haram atau legal-illegal.
Akibatnya, jika yang dijangkiti penyakit ini mereka yang sedang memegang amanat, maka korupsi akan menjadi suatu kewajaran di segala jenjang dan berbagai entitas birokrasi.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Netralitas ASN & Kiai
Digdoyo tanpo Aji
Kontradiktif dengan kultur leluhur kita yang meyakini kedigdayaan seseorang akibat dari kepemilikan benda keramat (azimat) yang maujud (menyata),
Seperti: keris dan batu permata, butir kedua ini justeru mengajarkan bagaimana menjadi pribadi yang terhormat dan berpengaruh tanpa bergantung pada sesuatu di luar kita.
Kita dituntun menjadi pribadi merdeka dengan selalu meningkatkan kualitas diri melalui penguasaan ilmu sejati sekaligus mengamalkannya secara konsisten untuk kamulyaning sapodo (kemuliaan sesama).
Dengan demikian, “kesaktian” kita jauh lebih adidaya karena aji tersebut menyatu dalam diri kita.
Sayangnya sekarang banyak orang berilmu tapi pengamalannya jauh dari tujuan memanusiakan manusia, karena lebih digunakan untuk membodoh-bodohkan sesama.
Nglurug tanpo Bolo
Butir ini mengajarkan betapa pentingnya kekuatan keyakinan pada kebenaran nilai yang kita perjuangkan dan keikhlasan dalam perjuangan itu, sehingga tanpa didukung pasukan pun kita akan mampu nglurug (“menyerbu”) sendirian dengan efektif.
Para tokoh yang karena keyakinan dan keikhlasannya bisa mengambil jarak dengan kekuasaan dan tidak terlibat politik praktis, kedatangannya lebih “menakutkan” penguasa dibanding ratusan massa pendemo yang bermodalkan teriakan.
Kenyataan sekarang, justeru sebaliknya, yang penting menyerbu ramai-ramai ke kantor dewan atau pemerintah.
Bila hari pertama gagal maka keluarlah ancaman bahwa mereka akan datang lagi dengan massa yang lebih banyak.
Jelas itu menandakan lenyapnya kebenaran nilai perjuangan dan keikhlasan, karena keduanya telah tergadai untuk kepentingan sesaat yang tak jelas, sehingga pengerahan massa menjadi andalan.
Maka jangan heran bila demonstrasi yang mengganggu hak rakyat untuk menikmati ketenangan itu, sering terjadi dengan tokoh penggerak silih berganti.
Menang tanpo Ngasorake
Harfiahnya berarti “menang tanpa merendahkan”. Tuntunan ini tepat sekali untuk orde reformasi sekarang yang memungkinkan seluruh WNI menduduki kursi eksekutif dan legislatif melalui kontestasi terbuka.
Bagi yang menang hendaknya tetap bersikap rendah hati dan terus menjalin kebersamaan dengan “lawan”.
Dengan demikian yang kalah tidak menjadi bumerang pengganggu program kerja sang pemenang, sehingga semangat win-win solution-lah yang lebih dikedepankan.
Tapi sayang, saat ini rakyat disuguhi pertunjukkan yang saling ngasorake antar tokoh yang sedang bersaing, sampai menebar aib bahkan fitnah segala, demi menjadi pemenang.
Maka saya sangat berharap pada yang menang nanti, bisa mengobati luka yang kalah dengan rekonsiliasi atau ishlah seperti yang dilakukan Pak Jokowi saat menarik Pak Prabowo ke dalam kabinetnya.
Penutup
Dari ke empat butir di atas, saya usul menyelipkan satu “filosofi” yang aktual untuk situasi politik saat ini, yaitu : Memilih tanpa mencintai.
Pilihlah calon presiden atau legislatif yang menurut hitungan pikiran kita mampu menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi kita. Jangan dipilih karena kita mencintainya.
Karena cinta melibatkan hati, sehingga bila kalah akan menyakitkan hati dan bila menang hati kita akan terperangkap untuk turut “menjaganya” terus.
Padahal politik itu sangat mudah berubah. Maka sayang sekali kalau hati ini kita tautkan pada sesuatu yang tidak pasti.
Oleh karenanya, mari kita tekadkan bahwa hati untuk yang sudah pasti-pasti saja. Sementara untuk dia yang tidak pasti, cukup kita beri perhatian sekedarnya.
Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW