Hari tua menjadi babak hidup yang penuh cerita, terkadang cerita tersebut diwarnai dengan tantangan kesehatan.
Kesehatan tulang belakang menjadi perhatian serius, terutama saat memasuki usia lanjut yang rentan terhadap berbagai masalah tulang, salah satunya adalah HNP (Hernia Nucleus Pulposus) atau yang lebih dikenal dengan kondisi saraf kejepit.
HNP adalah kondisi ketika inti pulposus, bagian dalam dari cakram tulang belakang mengalami penonjolan dan menyebabkan tekanan pada saraf sekitarnya.
Rasa sakit yang tiba-tiba, kesulitan bergerak, dan ketidaknyamanan telah menjadi teman akrab bagi mereka yang menghadapi HNP.
Insiden HNP adalah sekitar 5 sampai 20 kasus per 1.000 orang dewasa setiap tahun dan paling sering terjadi pada orang-orang pada dekade ketiga hingga kelima kehidupan dengan rasio pria dan wanita 2:1.
Diagnosis HNP yang akurat sangat penting dilakukan untuk menentukan pengobatan yang efektif dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
Kekhawatiran akan rasa sakit dan keterbatasan gerak, MRI (Magnetic Resonance Imaging) hadir sebagai pahlawan yang berperan penting dalam menyelamatkan kualitas hidup.
MRI dipilih karena non-invasif, memberikan detail morfologi anatomi yang baik dan tidak memaparkan pasien pada radiasi pengion.
Dengan tidak bergantung pada radiasi sinar-X, MRI tidak hanya menjadi alat medis, tetapi juga menjadi pionir dalam menjaga keselamatan pasien.
MRI dengan prinsip dasarnya yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio, telah membawa revolusi dalam dunia pencitraan medis.
MRI menjadi modalitas pencitraan radiologi yang mampu menembus hingga ke tulang sehingga dapat mengidentifikasi kelainan pada organ, sendi, dan jaringan lunak.
Baca Juga: Growth Mindset P5 Kurikulum Merdeka
MRI dikenal dengan teknologi radiologi yang berbentuk terowongan panjang dengan menggunakan medan magnet sehingga saat memasuki ruangan pasien akan diarahakan tidak membawa benda bersifat logam.
Pasien yang dilakukan pemeriksaan diarahkan untuk berbaring di meja pemeriksaan dan juga diberikan headphone yang berisikan musik sehingga pasien merasa rileks.
Setelah pasien diposisikan maka petualangan MRI dapat dimulai dan petugas akan memandu sebaik-baiknya melalui monitor yang sudah tersambung dengan MRI.
Kisah petualangan MRI dimulai ketika seseorang mulai memasuki ruang pemeriksaan.
Momen ini menjadi awal dari perjalanan ketika medan magnet yang dihasilkan akan melintasi tubuh, menelusuri setiap sudut, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
MRI menelusuri tubuh untuk menghasilkan potongan sagital dan aksial pada tulang belakang seseorang yang menderita HNP.
Peranan pemeriksaan MRI dalam mendiagnosa HNP diwujudkan pada salah satu sekuennya, yaitu sekuen FSE di mana sekuen ini dapat mempercepat waktu pemeriksaan dan mengurangi potensi pergerakan pasien akibat rasa nyeri yang dirasakan.
Pada studi yang dilakukan terhadap 50 pasien, MRI memiliki sensitivitas 72%, spesifitas 68%, dan akurasi 70%.
Dalam perjalanannya, MRI menjadi navigasi yang mampu memandu dan mengeksplorasi setiap lapisan tulang dan menjadi panduan bagi dokter untuk menilai sejauh mana kerusakan dan mendeteksi HNP dengan akurat.
MRI memberikan informasi yang akurat dan rinci mengenai morfologi diskus, hidrasi, herniasi, perubahan pelat ujung, dan status akar saraf dan tali pusat.
MRI adalah standar emas dalam evaluasi diagnosa HNP. Seorang pahlawan tidak perlu terlihat untuk dapat membuat perubahan pada hidup manusia.
Sama halnya dengan modalitas MRI yang menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio.
Karena perannya yang cukup besar dalam mendiagnosa berbagai penyakit, tanpa terlihat, MRI memberikan visualisasi yang berguna dalam mengubah taraf hidup seseorang ke arah yang lebih baik. (*)
Penulis:
Rachmalia Azzahra, Nida Putri Salsabila, Muhammad Alif Syawal Maulana dan Nabila Ratna Asyifa
Mahasiswa Fakultas Vokasi, Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Radiologi Pencitraan
Universitas Airlangga
Editor : Achmad RW