Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Implikasi Teori Belajar terhadap Pembelajaran Kurikulum Merdeka pada Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren

Achmad RW • Rabu, 29 November 2023 | 15:10 WIB

Siti Asiah, Dosen PGSD Unipdu, Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa
Siti Asiah, Dosen PGSD Unipdu, Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa
 

Kurikulum Merdeka menjadi solusi pemerintah untuk memberikan kebebasan dan wewenang bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan.

Penerapan Kurikulum Merdeka diharapkan mampu mempercepat pemulihan ketertinggalan pembelajaran yang dialami peserta didik dan menjadi jalan untuk menciptakan perubahan iklim nasional yang lebih baik.

Pembelajaran yang dirancang dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran intrakulikuler yang beragam dengan memaksimalkan konten. 

Kurikulum Merdeka memberi rentang waktu yang cukup pada peserta didik agar mampu memahami dan memperdalam konsep serta memperkuat kompetensi.

Kurikulum Merdeka didasarkan pada teori belajar behavioristik, kognitif, dan konstruktivis. Pendidik harus membantu peserta didik menjadi kreatif dan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Dalam Kurikulum Merdeka, pendidik mempunyai keleluasan untuk memilih berbagai bahan ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. 

Pendidikan tinggi adalah salah satu aspek penting dalam perkembangan individu dan masyarakat. Di Indonesia, pendidikan tinggi mengalami perubahan signifikan dengan diperkenalkannya Kurikulum Merdeka.

Kurikulum Merdeka bertujuan untuk memberikan kebebasan yang lebih besar kepada mahasiswa dalam memilih mata kuliah dan menggali minat serta bakat mereka.

Kampus Merdeka salah satu inisiatif yang dicanangkan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi.

Beberapa poin utama dari Kampus Merdeka di perguruan tinggi Indonesia meliputi:

1). Fleksibilitas dalam pemilihan mata kuliah.

2). Self-directed learning. Konsep ini mendorong mahasiswa untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar-mengajar. Mereka diajarkan untuk mengembangkan kemandirian, kreativitas, dan kemampuan pemecahan masalah.

3). Praktek lapangan (internship). Program Kampus Merdeka juga mendukung mahasiswa untuk mengikuti magang atau praktek lapangan yang relevan dengan bidang studi mereka.

4). Kerjasama dengan industri. Program-program dalam Kampus Merdeka sering kali melibatkan kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri.

5). Pengembangan soft skills. Selain pengetahuan dan keterampilan teknis, Kampus Merdeka juga menekankan pengembangan soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, dan etika kerja.

Berbagai teori belajar dikatakan mempengaruhi pengetahuan yang dipelajari peserta didik secara tidak langsung dan secara langsung mempengaruhi hasil akademik mereka.

Namun, penting untuk diingat bahwa istilah "belajar" dan teori "belajar" berbeda. Menurut KBBI, "belajar" berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.

Dan "teori" berarti kumpulan konstruk yang mampu menggambarkan fenomena secara sistematis. Implikasi Kurikulum Merdeka pada perguruan tinggi berbasis pesantren dapat mempertimbangkan berbagai teori belajar.

Termasuk teori belajar behavioristik, kognitif, dan konstruktivisme, untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih holistik dan efektif bagi mahasiswa. 

Berikut beberapa cara penerapan Kurikulum Merdeka dapat mempertimbangkan teori belajar di konteks perguruan tinggi berbasis pesantren.

Pertama, teori belajar behavioristik. Teori ini dikembangkan oleh tokoh seperti Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B.F. Skinner.

Menekankan pada pengamatan perilaku yang dapat diukur dan diperoleh melalui stimulus dan respons.

Pengembangan pembelajaran di pesantren juga harus memperhatikan unsur-unsur spiritual, etika, dan pendalaman pemahaman agama.

Selain itu, dalam konteks Kurikulum Merdeka, pesantren juga harus memastikan bahwa mereka memenuhi standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sambil tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai Islam.

 Dengan pendekatan yang holistik, pesantren dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang mendalam dan bermakna bagi mahasiswa sejalan dengan prinsip-prinsip agama dan nilai-nilai budaya.

Kedua, teori belajar kognitif menekankan proses mental dan pemahaman dalam pembelajaran.   Penerapan teori belajar kognitivisme dalam Kurikulum Merdeka di kampus berbasis pesantren akan membantu mahasiswa memahami agama dan nilai-nilai secara mendalam.

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menjadi pembelajar seumur hidup yang mampu mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka.

Ini akan memastikan bahwa pendidikan di pesantren berfokus pada pemahaman dan penguasaan konsep-konsep agama, bukan sekadar menghafal atau mengulang informasi tanpa pemahaman yang mendalam.

Ketiga, teori belajar konstruktivisme. Dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka di Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang, sebagai lembaga pendidikan Islam, dapat membantu menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif, berpusat pada mahasiswa, dan mendalam sekaligus mempromosikan pemahaman agama Islam yang mendalam dan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Siti Asiah
Dosen PGSD Unipdu, Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa

Editor : Achmad RW
#pembelajaran #kurikulum merdeka #pendidikan tinggi #peserta didik