SEBUAH kebersamaan yang terjalin dengan tulus selama ini, mari rawat dengan hati yang damai.
Karena merawat itu lebih menjanjikan penguatan silaturrahim daripada menumbuhkan kebersamaan baru yang temporer, dua atau tiga bulan sebelum pemilu.
Kalimat ringkas itulah garis besar dari sambutan saya malam Jum’at lalu, di depan seluruh “kepala suku” beserta anggotanya yang hadir dalam acara dialog kebangsaan bersama Bapak Sugiat (Pj.bupati) di Taman Turangga Pendopo Kabupaten Jombang.
Dengan kian meningkatnya eskalasi politik, seyogyanya pesan-pesan kerukunan dan kebersamaan sering kita gaungkan.
Mengingat momentum lima tahunan ini adalah festival rebutan simpati rakyat oleh para capres dan caleg untuk memilihnya.
Namanya juga rebutan, maka segala cara dilakukan. Baik yang sah maupun tidak. Begitu banyak pihak yang terlibat.
Mulai dari tim pemenangan sebagai pengendali, buzzer pembentuk citra, “cucuk” (jurkam personal) hingga “pengepul” suara di lapangan.
Obyek sasaran mereka sama: rakyat pemilik hak suara.
Bila para pencari suara itu mengampanyekan jagonya dengan cara yang sah berupa tawaran gagasan dan program yang akan diperjuangkan, dampak perpecahannya masih mudah dikendalikan.
Tapi bila mereka kampanye dengan cara tidak sah: kampanye hitam ( black campaign ) dan politik uang (money politic) maka dampaknya akan sangat membahayakan keutuhan masyarakat.
Oleh karena itu, saya mengimbau hadirin untuk menjaga keutuhan dan kebersamaan dengan merawat pohon harmoni yang sudah mengakar di bumi pertiwi ini, agar tidak mudah tumbang diterpa angin dan badai politik musiman.
Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Saktinya Jokowi
Akar Harmoni
Pohon harmoni memiliki lima akar penopang. Semakin kuat akar-akarnya, semakin tegak pula pohonnya, yang mencerminkan makin kuat ikatan kebersamaan antar-anggotanya.
Akar yang pertama: saling berempati. Bisa dan turut merasakan yang dirasakan orang lain. Senang melihat temannya bahagia. Sedih bila temannya menderita. Dari sini akan tumbuh rasa solidaritas.
Kedua, saling menolong (ta’awwun). Adanya semangat untuk meringankan beban sesama anggota.
Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kita bisa menjadi pemberi sekaligus penerima manfaatnya pada waktu yang berbeda.
Ketiga, saling hormat (respect). Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri yang disebut sebagai kepribadian.
Oleh karena itu, kemakluman kita pada keunikan orang lain secara hormat, akan membuat orang itu merasa nyaman.
Demikian juga sebaliknya. Ingat, selera dan watak seseorang sangat beragam. Kita tak mungkin menyeragamkannya.
Maka yang bisa kita lakukan: menerima keunikannya dengan ikhlas dan menyadari bahwa dia juga ciptaan Tuhan, sebagaimana kita.
Keempat, saling menjaga ucapan ( hifdzil lisan ). Satu-satunya makhluk yang bisa berucap hanya manusia.
Maka kata-kata atau ucapan bisa menjadi tolok ukur derajat kemuliaannya.
Semakin selektif pilihan kata yang diucapkan dan semakin situasional dalam bertutur akan memosisikan seseorang pada derajat yang makin tinggi.
Oleh karena itu, pikir dan rasakan dululah sebelum mengatakan sesuatu: “Pantaskah kalimat ini saya sampaikan, tepatkah kata ini saya ucapkan?”.
Dengan mempertimbangkan tiap kalimat yang akan terucap, dapat mengurangi potensi ketersinggungan dan kesalahpahaman orang lain, sehingga kebersamaan kian menguat.
Hal ini berlaku juga untuk jemari kita dalam membuat “status” di media sosial.
Terakhir, akar kelima yang berupa saling menjaga hati.
Ini bisa dibilang “akarnya-akar” karena menjaga hati untuk selalu berprasangka baik (husnudhdhon) pada sesama merupakan modal dasar untuk menjalin kebersamaan.
Dari sinilah akan muncul keyakinan bahwa dengan bersama Anda, masa depan saya lebih baik.
Akibatnya bujuk rayu pihak lain tidak mudah mengganggu kebersamaan itu, sehingga terhindarlah dari perpecahan dan makin kokohlah pohon harmoni kita.
Akhirnya, saya menutup sambutan dengan pantun:
Main musik dengan harpa
Mengiringi penyanyi Asanti
Beda pilihan tidaklah mengapa
Asal kita selalu sehati.
Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW