Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Growth Mindset P5 Kurikulum Merdeka

Achmad RW • Rabu, 22 November 2023 | 14:50 WIB

Suci Aristanti, Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
Suci Aristanti, Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
 

Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh dalam kurikulum merdeka merupakan langkah positif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang holistik.

Growth Mindset, yang diperkenalkan oleh psikolog Carol Dweck, menekankan, bakat dan kecerdasan tidak bisa memprediksi kesuksesan.

Orang yang memiliki pola pikir bertumbuh menyakini, kemampuan bisa berubah dan tidak dibatasi oleh bakat dan kecerdasan.

Sedangkan orang yang memiliki pola pikir statis menganggap, kecerdasan dan bakat sifatnya permanen.

Penerapan pola pikir bertumbuh dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mengarahkan peserta didik memiliki keyakinan diri.

Bahwa kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan melalui usaha keras dan dedikasi. Dalam menerapkan pola pikir berkembang, tetap memperhatikan pencapaian profil pelajar Pancasila.

Ada enam dimensi profil pelajar Pancasila yang harus dicapai peserta didik.

Yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Contoh penerapan tema projek kearifan lokal dengan topik membatik teknik colet khas Jatipelem Kabupaten Jombang.

Berikut penjabaran lima upaya pola pikir bertumbuh yang dipraktikkan tim fasilitator projek.

Pertama, memotivasi peserta didik untuk belajar aktif. Pola pikir bertumbuh menekankan bahwa belajar adalah proses aktif.

Kepala sekolah dan tim fasilitator dapat menerapkan metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif siswa.

Antara lain: Diskusi kelompok, kolaborasi, dan kegiatan interaktif. Dengan demikian, siswa tidak hanya sekedar mendengarkan informasi, namun juga terlibat  langsung dalam memahami dan menerapkan dimensi profil pelajar Pancasila.

Pada prosesnya, peserta didik didorong untuk peduli dalam melestarikan warisan teknik membatik.

Keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran bertujuan untuk memupuk rasa tanggung jawab dalam mewarisi dan melestarikan seni membatik sebagai bagian integral dari warisan budaya.

Belajar aktif dilakukan dengan diskusi untuk membahas nilai kearifan lokal yang terkandung dalam teknik colet khas Jatipelem.

Untuk merangsang kreativitas serta membentuk pola pikir bertumbuh, peserta didik didorong untuk menciptakan pola baru atau menggabungkan teknik colet dengan unsur modern.

Kedua, mendorong peserta didik siap menerima tantangan. Peserta didik diajak untuk memahami bahwa menghadapi tantangan adalah bagian alami dari proses belajar.

Dengan pola pikir bertumbuh, peserta didik diarahkan untuk bisa menyelesaikan tantangan sebagai peluang untuk berkembang.

Tim fasilitator memberikan dukungan jika peserta didik mengalami kesulitan. Secara kolaboratif, peserta didik dibimbing menyelesaikan tantangan dalam proses belajar.

Pada prosesnya, peserta didik diminta membuat karya batik dengan teknik colet yang mencerminkan kearifan lokal Jatipelem.

Tantangan dalam projek mendorong peserta didik untuk kreatif dan eksploratif. Peserta didik diberikan kebebasan mengembangkan inovasi dalam penggunaan teknik colet. 

Hal ini meningkatkan rasa percaya diri dan rasa kepemilikan terhadap projek yang dikerjakan.

Tim fasilitator menciptakan projek yang menantang, namun memberikan kesempatan untuk tumbuh dan menghadapi tantangan dalam melestarikan kearifan lokal.

Ketiga, fokus proses daripada hasil akhir. Memberikan penghargaan dari setiap proses pembelajaran, dapat memperkuat keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil memiliki makna penting.

Dengan pola pikir bertumbuh menekankan bahwa kegagalan dalam proses adalah bagian alami pembelajaran. Tim fasilitator memberikan penjelasan bahwa kegagalan sebagai langkah menuju perbaikan.

Pada prosesnya, tim fasilitator memastikan seluruh peserta didik terlibat aktif disetiap proses pembelajaran.

Setiap tahap membatik teknik colet dianggap sebagai kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dan mengasah kreativitas.

Projek membatik bukan tentang hasil akhir estetika, tetapi perjalanan peserta didik dalam menghadapi tantangan, dan mengatasi permasalahan dalam proses belajar.

Keempat, mengembangkan keterampilan metakognitif. Metakognitif dapat diartikan sebagai jalan untuk berpikir tentang masalah.

Metakognitif dalam projek dengan pola pikir bertumbuh melibatkan pendekatan yang mendorong peserta didik menjadi lebih sadar terhadap cara mereka mengetahui hal baru.

Mengelola waktu dalam mengerjakan projek, dan mengevaluasi kemajuan dan pemahaman projek.

Peserta didik tidak hanya mengembangkan keterampilan membatik, tetapi keterampilan metakognitif.

Pada prosesnya, peserta didik melakukan observasi mengenai proses membatik, menjelaskan teknik dalam membatik colet, dan menjelaskan mengapa penggunaan batik colet dipilih oleh warga daerah Jatipelem.

Peserta didik secara aktif memantau kemajuan mereka selama projek.

Pemantauan kemajuan ini dapat dilakukan melalui catatan pribadi, checklist, ataupun penjelasan secara langsung kepada tim fasilitator.

Kelima, pemberian umpan balik yang konstruktif. Pola pikir bertumbuh dalam umpan balik bukan sekedar penilaian.

Dalam hal ini suatu proses dimana fasilitator memberikan evaluasi membangun dan fokus pada perbaikan.

Umpan balik konstruktif tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi memberikan alternatif untuk memperbaiki masalah.

Fasilitator memberikan saran secara spesifik untuk memberikan ide yang dapat dieksplorasi peserta didik sehingga merangsang pemikiran kreatif.

Pada prosesnya, umpan balik yang konstruktif relevan dengan projek membatik teknik colet.

Fasilitator memberi umpan balik spesifik, seperti ungkapan warna yang kamu pilih sangat sesuai dengan tema Jatipelem.

Tetapi mungkin kamu bisa mengeksplorasi lebih banyak variasi warna untuk menambah kedalaman karya.

Umpan balik tersebut sesuai pola pikir bertumbuh yang menekankan pertumbuhan dan perbaikan individu.

Penulis:
Suci Aristanti
Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Editor : Achmad RW
#belajar #pola pikir #growth mindset #Universitas Negeri Surabaya #peserta didik #Bertumbuh