Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Saktinya Jokowi

Achmad RW • Senin, 6 November 2023 | 13:20 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

ORANG bisa membencinya hingga ke ulu hati. Bisa juga mencintainya hingga ke lubuk hati.

Karena dia  manusia biasa yang punya kekurangan & kelebihan seperti kita semua.

Pembenci melihat kekurangannya, pencinta melihat kelebihannya. Wajar dan normal, itulah rumus kehidupan yang alami.

Tulisan saya ini hanya berupaya memotret pak Jokowi dengan sudut pandang pribadi dari kejauhan. Maka mohon dimaklumi bila kurang jelas.

Sebagai seorang santri yang meyakini bahwa kemuliaan anak tidak lepas dari hasil riyadhoh / tirakat ( perjuangan spiritual) orang tua, maka saya sering bertanya-tanya, apa tirakatnya bapak-ibunya sehingga Allah memberi mereka putra yang “istimewa” untuk tidak mengatakan sakti.

Bayangkan, anak orang biasa. Berprofesi sebagai penjual mebel, bisa menjadi wali kota dua periode, dilanjutkan jadi gebernur.

Belum juga selesai masa jabatan gubernurnya. Dia diusung PDIP untuk kontestasi Pilpres 2014 dan menang.

Mengapa saat itu yang nyapres bukan bu Mega saja..? Ada yang mengatakan, karena begitu cintanya bu Mega pada Jokowi.

Menurut saya sih, lebih karena -berdasar hasil survei- elektabilitas Jokowi lebih tinggi daripada bu Ketum.

Selain itu, pengalaman dua kali kekalahan bu Mega ( berpasangan dengan Hasyim Muzadi-2004 & Prabowo S – 2009), adalah  alasan yang tepat untuk menjagokan Jokowi.

Setelah terpilih menjadi Presiden 2014, Jokowi tidak sepenuhnya “manut” dalam kendali bu Ketum, sehingga beliau sempat “keceplosan” curhat di publik betapa sulitnya ketemu presiden (padahal dia yang usung).

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Ummat & Guru Akhlak

Akibatnya, menjelang Pilpres 2019, partai banteng mulai menimbang-nimbang untuk tidak lagi jagokan incumbent.

Sinyal-sinyal itu dirasakan oleh Jokowi, sehingga ia cari tumpangan partai besar untuk suksesinya dan ditemukanlah Golkar.

Bak gayung bersambut, Setya Novanto (Setnov), ketum Golkar saat itu yang sedang “dilirik” KPK terkait e-KTP, butuh perlindungan politik.

Maka untuk mengamankan dirinya, Golkar rela menjadi partai pertama yang mencalonkan Jokowi sebagai capres 2019.

Ini tamparan keras bagi PDIP, seolah diteriaki Jokowi “kalau kamu gak calonkan aku, emang gue pikirin”.   

Situasi itu tentu membuat si Banteng tersudut, sehingga mau tidak mau mencalonkan Jokowi lagi.

Kalaupun pada akhirnya Setnov ditangkap KPK, hal itu justru mengangkat nama Jokowi sebagai presiden yang utamakan penegakan hukum.

Meski setelah penangkapan itu, menurut bisikan ketua KPK Agus Raharjo pas ke rumah, dia dipanggil dan ditegur Jokowi.

Setelah mendapat kemenangan pada Pilpres 2019, Jokowi bikin “ulah” lagi.

Adagium politik “the winner takes all” atau “zero sum game” yang lazim berlaku di negara-negara demokrasi, di mana pemenang menguasai semuanya, tidak berlaku di mata Jokowi.

Maka lawan politik yang kemarin habis-habisan “merendahkannya” justru ditarik dalam pelukan kemenangannya.

Tentu  bisa  dibayangkan betapa “nggondoknya” partai pengusung dan pendukung yang telah berdarah-darah memperjuangkannya, tapi kemudian jatah kementeriannya malah diberikan pada pihak “lawan”.

Baca Juga: Kolom Gus Zuem: Tapi Saya Muhammadiyah

Ini kalo tidak karena sakti-nya Jokowi, sudah bubar dari dulu-dulu Kabinet Indonesia Maju, akibat saling tendang di dalam.

Adapun terkait dengan gonjang-ganjing saat ini yang memosisikan Jokowi sebagai sasaran hujatan oleh lawan maupun kawannya akibat putusan MK yang diketuai si adik ipar membuka peluang Gibran nyawapres,  saya melihat presiden ke 7 itu sedang menguji kesaktiannya.

Dengan menampakkan sikap tenang dan masih tetap kerja seperti biasa, dia justru menunjukkan kekebalannya dari aneka hujatan yang rutin dia “nikmati” selama ini, mulai dari hinaan sarkastik Rocky Gerung yang membencinya, hingga sindiran halus dan cibiran bu Mega, yang mengusungnya.

Dalam perspektif budaya Jawa, Jokowi itu sakti, karena dia punya daya linuwih sehingga bisa nglurug tanpa bala ( menyerbu tanpa pasukan ) dan idu geni ( ludah api ) yang mampu membuat  lawan tiba-tiba tunduk dengan sendirinya.

Siapa yang mengira presiden ke 6 yang baru saja marah-marah dan menuduh ada pihak yang sengaja mau menghancurkan partainya, sekarang malah di kubu Gibran.

Belum lagi ketua-ketua partai besar dan figur-figur pendekar hukum & politik sekelas Yusril Ihza Mahendra dan Fahri Hamzah yang sendika dhawuh saja pada putusan koalisinya.

Pertanyaan pahitnya, bagaimana jika Prabowo-Gibran kalah dalam putaran pertama..? Di sini pulalah saktinya Jokowi.

Bila kalah, pasti kedua king maker ( Pak Surya dan Bu Mega) akan sangat membutuhkan “telunjuk” Jokowi, hendak diarahkan ke mana pendukung Gibran.

Lagi-lagi mantan penjual mebel ini mendapat hak istimewa, sehingga secara tidak langsung akan “mengoreksi” ketua partai yang bilang: kasihan pak Jokowi bila tidak diusung partainya.

Suka tidak suka, pada posisi itulah pak Jokowi sekarang. Kalau pun kalah, dia masih pegang kendali suara, apalagi bila Gibran menang. Maka tidak salah bila ada yang bilang Jokowi memang sakti.

Hehehe.. Anda tentu boleh tidak setuju, karena saya hanya menarasikan ungkapan orang pinggiran yang hanya menginginkan hidup rukun dan damai dengan hati penuh cinta. Salam sehat penuh rahmat. (*)

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #Jokowi #KH Zaimudin As'ad #Santri #gibran