Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

THE HORSE (21)

Achmad RW • Jumat, 13 Oktober 2023 | 13:30 WIB

Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Wainnah ‘ala dzaalik lasyahid. Sesungguhnya manusia itu mengerti tentang kekufuran yang mereka lakukan.

Dia mengerti kalau kebenaran itu nyata dan terbukti, tetapi karena gengsinya tinggi, takabburnya tinggi dan kekufurannya kuat, maka kebenaran itu dinafikan begitu saja, walaupun mata kepalanya sendiri menyaksikan.

Hal demikian terjadi karena kurang terlatih melihat diri sendiri. Kurang sering mengajak berdialog dengan diri sendiri.

Kesukaannya berdialog dengan orang lain dan maunya menang dan unggul. Lalu dipuji dan dihormati.

Orang macam begini ini tidak bakalan bisa saleh, apalagi berjiwa sufis.

Iblis dan kroni telah membangun kerajaan di dalam jiwanya.

Mahkota disematkan di kepalanya dan segala atribut takabbur dikenakan dibajunya.

Maka hati-hatilah ketika anda meraih prestasi, naik pangkat atau menyandang gelar akademik.

Ya, karena orang saleh bisa berubah menjadi congkak bukan karena dirinya, melainkan lebih karena mahkota di kepalanya.

Berdoalah, semoga deretan bintang di pundak anda adalah benar-benar pangkat anugerah Tuhan yang nantinya dipersembahkan sebagi piranti amal saleh dan ibadah kepada Tuhan.

Bukan pangkat simbol iblis yang mengantarkan pemiliknya berperilaku iblis, sehingga semakin menjauhkan diri dari Tuhan.

Berdoalah ketika anda meraih gelar akademik yang sangat prestesius itu.

Toga yang anda pakai adalah amanah akademik yang mesti dipertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan.

Pinter itu berpotensi untuk meminterkan umat manusia dan berpotensi pula untuk ’’minteri’’ manusia.

Perkoro pinter, iblis jauh lebih akademik ketimbang kita. Tapi dia ’’istakbar’’ di hadapan Tuhan.

Lalu dideportasi dari surga. Artinya, siapa saja yang ’’istakbar’’, merasa lebih tinggi dari yang lain, maka sudah dipastikan, bahwa dia tidak mungkin diberi tempat terhormat di sisi Tuhan.

Ya, karena surga tidak mau disinggahi orang yang berhati ’’takabbur’’.

Ulama sufi memberi ugeran tentang orang yang hatinya bersih dan orang hatinya kotor. Lihat wajah dan ekspresinya ketika dia dipuji atau dicaci maki.

Ketika disanjung dan dipuji, lalu wajahnya sumrengah dan berseri bahagia, menikmati pujian itu, maka itu tanda jiwanya kotor.

Atau saat dicaci, lalu dia kecewa dan marah, maka itu juga tanda jiwa yang kotor.

Abu Bakr al-Shiddiq RA ketika dipuji karena kesalehannya sehingga ditunjuk menjadi kahalifah al-Rasul.

Beliau merunduk dan mengeluh: ’’Kalian sungguh tega mencekik leher saya saat saya masih hidup.  Ini pedang, luruskan saya dengan pedang ini, jika saya berlaku tidak bagus terhadap kalian..’’.

(bersambung, in sya’ Allah).

Editor : Achmad RW
#The Horse #takabur #KH Mustain Syafii