Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Ummat & Guru Akhlak

Achmad RW • Senin, 18 September 2023 | 14:02 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

Alexandrina Victoria adalah ratu Inggris Raya pada tahun 1837-1901. Pada masanya, ekspansi besar-besaran terjadi di Benua Afrika hingga ke bagian selatan.

Salah satu negara yang dikuasai bernama Republik Afrika Selatan atau Transvaal (1875).

Pada saat negara tersebut dipimpin oleh Presiden Paul Kruger (politisi berdarah Belanda), terjadilah upaya diplomasi untuk memperjuangkan hak kemerdekaannya, sehingga pada tahun 1884 Kruger ke Inggris menghadap ratu Victoria.

Meski Transvaal sebagai negara taklukan, ternyata kerajaan Inggris memperlakukan presidennya sebagai tamu negara layaknya pemimpin negara merdeka yang lain.

Maka digelarlah jamuan makan malam kenegaraan bagi Kruger dengan mengundang seluruh pejabat dan kerabat kerajaan.

Pada jamuan makan zaman dulu, sebelum ditemukan tisu basah, di dekat piring buah (anggur, strobery dan sejenisnya) diletakkan finger bowl ( kobokan ) untuk membasahi jari atau buah sebelum dimakan.

Karena di istana kerajaan, maka kobokan yang berdiameter 10 cm itu terbuat dari kristal dan airnya diberi serpihan bunga mawar.

Usai ratu menyampaikan sambutan selamat datang, dia mempersilakan Presiden Kruger untuk menikmati hidangan di hadapannya.

Sekedar informasi, pada jamuan kenegaraan tidak dikenal tata cara buffet ( prasmanan ).

Kita, presiden atau menteri hanya duduk manis, menikmati apa yang ada di depan kita.

Sementara di belakang kita ada pramusaji yang siap mengganti piring sesuai dengan “tahapan” sajiannya.

Begitu disilakan, Kruger yang “ndeso” itu langsung mengambil kobokan dengan terlebih dulu mengangguk pada ratu sebelum meminum airnya.

Tanpa diduga, ratu pun dengan sigap mengambil air kobokannya sendiri untuk diminumnya, sehingga seluruh hadirin mengawali sajian pertama dengan menikmati air kobokan masing-masing.. hehehe..

Acara jamuan makan malam ( gala dinner) pun berlangsung lancar penuh keakraban sehingga menghasilkan kesepakatan bersama yang menguatkan hubungan kedua negara.

Saya tidak bisa membayangkan, bila saat itu ratu tidak ikut minum air kobokan.

Betapa malunya Kruger di depan pejabat Inggris, sehingga suasana hatinya tidak nyaman, akibatnya ia akan lebih memilih jalan pertempuran untuk merebut kemerdekaan daripada jalan perundingan.

Untunglah saat itu Ratu Victoria bersikap arif bijaksana, bersedia mengorbankan “kehormatannya” demi melindungi kehormatan orang lain.

Perilaku luhur sang ratu itu mirip dengan kisah Syeh Hatim al Asham ( wafat di Bagdad thn. 825 ) yang tertulis di kitab Nashaihul Ibad.

Beliau rela menulikan diri demi menjaga kehormatan wanita yang tak sengaja buang angin di hadapannya.

Pendengarannya baru “normal” kembali 15 tahun kemudian ketika beliau mendapat kabar bahwa wanita itu wafat.

Kisah klasik tentang ahlak mulia di atas harusnya dapat menginspirasi kita semua.

Betapa menjaga perasaan orang lain dari rasa malu, bersalah atau hina adalah sesuatu yang pada hakekatnya sangat memuliakan diri kita sendiri.

Karena hanya orang yang mulia yang bisa memuliakan orang lain. 

Oleh karena itu, saya akhir-akhir ini sering ngelus dada, melihat pola pergaulan dan pola komunikasi antaranak bangsa yang tak lagi mengindahkan perasaan orang lain, apalagi memuliakannya.

Yang dewasa saling caci, yang remaja saling bully. Seolah mereka hanya memiliki kosa kata sampah.

Padahal secara formal rata-rata mereka berpendidikan cukup.

Jangan-jangan fenomena ini tanda-tanda akhir zaman, manusianya makin banyak yang pintar dan luas wawasannya.

Tapi hatinya makin kering kasih sayang dan sempit rasa maafnya, akibat sang hati makin jauh dari kriteria “Qalbun saliim”.

Celakanya, fenomena itu akan kian menguat ketika mendekati momentum politik yang penuh rivalitas seperti saat ini.

Sehingga, orang-orang yang berlatar pendidikan agama-pun tak jarang terbawa arus konflik yang saling caci itu.

Jika hal tersebut terjadi antartokoh agama, kepada siapa lagi ummat atau masyarakat akan berguru tentang akhlak yang mulia..?

Saya berharap tengara saya di atas, tidak terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab. (*) 

 

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #Malu #Kehormatan #AKHLAK