Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Mari 'Menghadirkan' Tuhan

Achmad RW • Senin, 28 Agustus 2023 | 12:44 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

KECANTIKAN wajahnya membuat tak satupun pria rela membiarkannya berlalu tanpa menatapnya. Kalau saja dia duduk di dekat Dewi Persik atau Asmirandah, maka kedua wanita itu tampak sangat biasa.

Karena kedua artis tersebut nilai kecantikannya hanya sepertiga dari keelokan wajah dan tubuh wanita yang bernama Jamilah ini.

Para pejabat, saudagar, bankir, jenderal bahkan kepala daerah  berlomba untuk merebut hatinya dengan berbagai cara dan persembahan hadiah, agar dia bersedia dijadikan istri atau madunya. 

Namun, hati Jamilah sama sekali tidak tergerak untuk menyambut panah-panah cinta yang bertebaran dari figur-figur yang mapan tersebut.

Jalan fikiran wanita memang sulit dimengerti, begitu juga Jamilah. Dia tiba-tiba tampak bercanda-ria dengan seorang pria yang dari sisi finansial dan status sosial sangat tidak sebanding dengan pria-pria yang mengejarnya selama ini.

Karena Fulan, pria yang disukai itu “hanya” seorang dosen muda di sebuah perguruan tinggi swasta pinggiran kota.

Seiring perjalanan waktu, canda-ria mereka menumbuhkan rasa khusus di kalbu Jamilah sehingga akhirnya berbuah bisikan lirih yang sama sekali tak Fulan duga sebelumnya:  “Kanda, kapan kanda melamar dinda..?”.

Seketika itu juga hati Fulan terasa sesak oleh kebahagiaan yang membuncah tak terperikan, membuatnya terdiam dalam ketidak pastian antara mimpi dan terjaga. Ia berkali-kali mencubit pipinya sendiri untuk menguji kesadarannya, hingga Jamilah merajuk:

“kanda kok nyubit pipi kanda sendiri saja sih, cubit pipi dinda juga dong.. masak sejak kita dekat selama 6 bulan, kanda tak pernah sekalipun menyentuh dinda..  ”

"padahal saat itu dinda betul-betul tak berdaya dan tak satupun penghuni ada di rumah, tapi kanda bisa menjaga kehormatan dinda.. kanda tak menyentuhku sedikitpun meski  banyak pria di luar sana yang tergoda dengan paras dan lekuk tubuhku... Itulah kanda yang membuat dinda yakin bahwa kandalah imamku dan anak-anak kita kelak” ungkap Jamilah sambil menundukkan wajah tersipunya.

Pembaca yang dirahmati Allah.. perilaku Fulan itu mirip dengan sikap salah satu kelompok yang dijanjikan Allah akan mendapat perlindunganNYA di Padang Mahsar kelak ketika tiada perlindungan selain dariNYA.

Dalam sebuah hadits dikisahkan, pria tersebut sedang berduan dengan gadis yang sangat dicintainya. Namun ketika gadis itu menyerahkan diri pada gairah kelelakiannya yang memanas, si pria tiba-tiba berucap: “Inni akhafullah, sungguh aku takut pada Allah”.

Ketika peluang  untuk melakukan pelanggaran sangat terbuka lebar namun kita mampu menahan diri kita tidak melanggarnya karena  takut pada Allah, sejatinya kita sedang dalam kesadaran meng-“hadir”-kan Tuhan. Kita merasa melihat Dia hadir dan ada di sekitar kita.

Betapa sering kita mendengar di antara kita yang berkesaksian atas keberadaan Tuhan, namun pada hakikatnya dia tidak pernah sungguh-sungguh menganggap Tuhan itu ada. Sehingga dia hanya melokalisasi Tuhan berada di tempat ibadah saja.

Akibatnya, begitu keluar dari “tempat” Tuhan tersebut, dia tidak lagi pedulikan mana halal mana haram, mana hak dan bukan haknya, mana legal dan yang ilegal, mereka tidak ambil pusing.

Mereka tidak lagi menunggu kesempatan, tapi malah cari-cari kesempatan untuk menikmatinya, asal tidak ada sesama yang mengetahui perbuatannya. Mereka lebih takut pada penglihatan manusia daripada zat Yang Maha Melihat.

Akibat dari “absennya” Tuhan itulah maka kasus perzinahan, gratifikasi, suap maupun korupsi barang, dana, dan jasa menjadi kabar keseharian di media.

Lebih meprihatinkan lagi, ketika mereka menjadi pesakitan di kepolisian atau KPK, tetap bisa mengumbar senyum tanpa merasa dosa. Kalau sudah begitu, mereka hakikatnya telah “membunuh” Tuhan di kalbunya. Naudzubillah.

Maka, pembaca yang dirahmati Allah.. Kita tidak perlu khawatir untuk berhadapan dengan aparat penegak hukum termasuk KPK, kalau di hati kita dipenuhi kesadaran bahwa Tuhan benar-benar “hadir” bersama kita.

Mari kita yakini bahwa hanya bersamaNYA lah hidup kita menjadi berkah dan bermanfaat. Kematian kita pun akan membekaskan kebanggaan pada keluarga yang kita tinggalkan. Untuk itu, mari jaga Tuhan agar tetap ada di hati dan sekitar kita.  Salam sukses penuh berkah. (*)

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #KH Zaimudin As'ad