Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zuem: Tapi Saya Muhammadiyah

Achmad RW • Senin, 14 Agustus 2023 | 13:32 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

PADA masa perkenalan santriwati, santri yang punya hafalan Qur’an saya tanya satu per satu nama pesantren tempatnya menghafal dahulu.  Namun tak seperti biasa, saya mendapati santri tahfidz yang belum pernah ke pesantren mana pun.

“Saya tidak pernah masuk pesantren, tapi saya sekolah di SMP Muhammadiyah, jadi saya Muhammadiyah, Pak..” ungkapnya dengan nada seolah berharap dimaklumi.

Santri yang berasal dari Kalimantan itu seperti merasa “insecure” karena berada di antara teman-temannya yang mayoritas nahdhiyin, maka saya pun langsung merespons:

“O.. tidak masalah, apakah kalian al Wasliyah, Persis, Muhammadiyah atau Nahdhatul Wathan, silakan saja nyantri di Darul ‘Ulum.. toh Alquran dan syahadat kita sama... hehehe... ”

Untuk meyakinkannya dan para santri lain yang sekolah sebelumnya di lembaga pendidikan non-NU ( ma’arif ), saya pun bercerita bahwa alumni Darul ‘Ulum ini tersebar di berbagai ormas Islam.

Buktinya, pada tahun 1990 yang menjadi ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur adalah alumni Darul ‘Ulum ( KH. Abdurrahim Nur ).

Bahkan jauh sebelum itu, pada tahun 1967 yang jadi Pengurus Daerah Muhammadiyah Jombang, KH. Sidik Abbas, juga alumni Darul ‘Ulum, ketika saat itu Ayahanda sebagai pengurus NU Jombang.

Apa maknanya..? Bahwa bagi pendahulu Darul ‘Ulum, organisasi itu bukan hal yang prinsip, itu pilihan wadah perjuangan atau ibarat jaket saja.

Anda boleh pilih wadah apa pun dan warna jaket apa pun, yang penting “dalemannya” tetap lailaha illallah..

Mengapa demikian..? Karena ke-NU-an Darul’Ulum lebih pada nilai-nilai afektifnya, penghayatan dan akhlaknya, bukan pada formalitas simbolisnya.

Persis seperti Gus Dur dalam mengidealkan republik kita ini yang lebih memperjuangkan implementasi nilai-nilai keislaman dalam berbangsa dan bernegara daripada secara formal memperjuangkan negara berdasar Islam seperti yang diidealkan Pak Amin Rais. 

Maka dari itu, Anda tidak akan menemukan mata pelajaran Ke-NU-an di unit-unit pendidikan Darul ‘Ulum,  sehingga para kiai tidak mendaftarkan santri kelas akhir untuk mengikuti UAMNU ( Ujian Akhir Ma’arif Nahdlatul Ulama).

Bahkan kalau Anda mencermati dengan seksama warna cat gedung-gedung sekolahnya, yang berwarna hijau (identik warna NU) hanya madrasah negeri, sementara sembilan unit lainnya beragam warnanya dan mayoritas biru.

Sampai-sampai ada tamu yang sensitif warna, bertanya : “Gus, warna gedung-gedungnya kok seperti warna milik lembaga saudara kita ya..” .

“Hehehe... iya, warna-warni... dulu ketika Yai As’ad malah dikira condong ke PDI, karena semua gedung berwarna merah muda (humaira), padahal beliau mengintepretasikan warna itu sebagai warna pipi Siti Aisyah, sehingga Rasulullah bila memanggilnya tidak menyebut nama, tapi dengan panggilan kesayangan: ya humaira, wahai yang merah muda (pipinya). Nah, dengan warna humaira itu, Yai As’ad berharap semoga santri Darul ‘Ulum disayangi Rasulullah..” terang saya agak panjang.

Kembali ke santriwati yang mengaku Muhammadiyah tadi. Saya sampaikan padanya bahwa “kelaziman” praktek ibadah NU dan Muhammadiyah itu bisa saling bertukar, karena yang beda “hanya” aksesorisnya.

Seperti kalau kalian pake jilbab. Silakan mau pilih model yang mana :  jilbab pasmina, instan, bergo, sport atau yang lainya. Yang penting kita sepakat bahwa perempuan wajib menutup aurat. Adapun soal model, boleh sesuai selera dan kebutuhan masing-masing.

Untuk menambah wawasannya, saya pun berkisah tentang persahabatan dua ulama besar Indonesia : Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dan Kiai Idham Chalid (tokoh NU).

Ketika dalam perjalanan haji menuju Makkah menggunakan kapal laut yang berlangsung beberapa minggu, bila salat Subuh, mereka bergantian menjadi imam.

Kiai Idham Chalid memilih untuk tidak doa qunut karena jamaah di belakangnya ada Buya Hamka. Sebaliknya, ketika jadwal Buya Hamka yang ngimami, beliau malah berqunut karena di belakangnya ada Kiai Idham Chalid.

Para jamaah pun merasa tersejukkan dengan keberadaan beliau berdua. Hehehe... indahnya pergaulan dan perilaku orang-orang yang berilmu tinggi… Selalu mendamaikan hati dan penuh kasih sayang.. tidak sebaliknya. Salam sehat penuh rahmat. (*)

Editor : Achmad RW
#Hafalan Alquran #muhammadiyah #Kolom Gus Zuem #Santri