BANK atau koperasi ilegal, yang memberi keuntungan 10% lebih sebulan, arisan bodong (skema ponzie) dan praktik dukun pengganda uang, masih saja menelan korban. Padahal tindak pidana para pelakunya sudah sering menghiasi ruang berita media resmi. Mengapa masyarakat kita begitu mudah tertarik produk dan tawaran mereka, tidak tahu ataukah tidak mau tahu?
Bila “tidak tahu”, itu agak mustahil di zaman seterbuka ini, karena informasi membanjiri ruang personal kita tiap saat, melalui HP tanpa permisi. Maka hipotesis saya, para korban itu bukan tidak tahu tapi “tidak mau tahu” akan legalitas lembaga, mekanisme kerja maupun konsekuensi hukum atas tindakannya itu. Mengapa tidak mau tahu? Karena mata hatinya sudah tertutup oleh nafsu kepemilikannya, sehingga melumpuhlah akal sehatnya.
Dalam kearifan lokal budaya Jawa, kita mengenal ungkapan: “Milik nggendhong lali”. Maksudnya, nafsu besar untuk memiliki sesuatu, akan dibarengi dengan hilangnya kesadaran atas kewajiban mengikuti proses dan aturan yang berlaku. Di pikiran mereka hanya ada ilusi keuntungan cepat dan berlipat, sehingga halalkan segala cara. Khas pikiran orang-orang yang menyukai jalan pintas dan potong kompas yang enggan menapaki liku-liku aliran proses dalam mewujudkan harapan, akibat absennya kesabaran dalam hati.
Apa hubungannya dengan kesabaran..? Kesabaran itu bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menahan amarah, sebagaimana yang sering difahami, karena menurut Imam al Ghazali kesabaran memiliki tiga dimensi, yaitu sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah, dan sabar dalam menerima musibah. (shobrun ‘ala tho’atillahi washobrun ‘ala maharimihi washobrun ‘alal mushibati).
Sabar dalam dimensi melakukan ketaatan pada Allah membuat hati kita nyaman dalam melaksanakan ibadah, baik yang diwajibkan maupun yang dianjurkan. Bangun Subuh jam 4 dan menjenguk orang sakit di tempat yang jauh, terasa ringan dan menyenangkan.
Sabar dalam menjauhi larangan Allah membuat hati kita tak mudah tergoda untuk melakukan kemaksiatan apalagi pelanggaran hukum. Sehinga gemerlap pentas dangdut beserta erotisme penyanyinya tak mampu membuat hati berpaling dari kegiataan istighatsah. Tawaran “suap” untuk mendapatkan atau memberikan fasilitas negara, tak akan terlintas di benak hamba yang sabar.
Sementara sabar dalam dimensi menerima musibah lebih merupakan ketabahan hati dalam menyikapi takdir Allah dengan meyakini bahwa rencana Allah adalah yang terbaik untuk hamba-Nya. Musibah kebakaran, kehilangan atau kecelakaan yang menimpa orang sabar tak membuatnya putus asa apalagi protes pada Allah, malah justru menjadikannya makin khusyuk beribadah dan makin semangat kerjanya.
Tokoh-tokoh yang saat ini sukses dan berjaya dalam usahanya sudah bisa dipastikan telah “menikmati” musibah yang datang berkali-kali. Maka dari itu, mental orang-orang sukses selalu menonjol dalam hal ketahanannya menghadapi musibah sebagai ujian. Ibarat berlian yang semula ditemukan dalam bongkah kehitaman dan kotor, ia harus digosok dengan keras dan dibakar ribuan derajat agar batu itu mengeluarkan pendar dan kilaunya. Digosok dan dibakar itulah sesungguhnya musibah bagi si batu, tapi karena batu itu masih tetap bertahan, jadilah ia batu mulia: berlian.
Dari ketiga dimensi kesabaran di atas, saya melihat bahwa kehinaan dan kemuliaan manusia sangat ditentukan oleh kadar kesabarannya. Maka para pelaku tindak kriminal yang menghinakan dirinya adalah orang-orang yang nol kesabarannya.
Sebaliknya para ulama dan umara atau sesiapapun yang perilakunya dihormati sesama adalah mereka yang dimuliakan Allah karena tingginya kadar kesabarannya. Bukankah Allah membersamai orang-orang yang sabar.
Oh iya.. saya yakin Anda juga termasuk orang yang sabar pada dimensi kedua: menjauhi larangan Allah. Terbukti foto-foto artis cantik yang bajunya kurang bahan tak memalingkan Anda dari membaca tulisan yang panjang ini. Semoga kita semua termasuk orang yang sabar dalam segala dimensinya. Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW