AKU berpikir maka aku ada, cogito ergo sum. Begitu kata filsuf Perancis: Rene Descartes ( 1596-1650). Petuah itu menjadi pijakan yang kuat bagi para pemikir aliran filsafat rasionalisme, positivisme, kritisisme dan lain-lain.
Mengapa berpikir menjadi penanda keberadaan kita..? Karena hanya manusialah makhluk yang Allah anugerahi akal untuk berpikir. Maka, begitu akal tidak berfungsi untuk berpikir, saat itu pula kemanusiaan seseoarang hilang, sehingga hilang juga kewajibannya untuk tunduk pada hukum. Anda tentu ingat, bahwa muslim yang tidur atau tidak waras ( zawalul aqli ) tidak berkewajiban ibadah, karena tindakannya tidak berakibat adanya dosa dan pahala.
Oleh karenanya, begitu penting fungsi akal untuk berfikir sehingga derajat kemanusiaan kita sering diukur dengan seberapa tinggi kemampuan kita untuk “mengasah” akal agar menghasilkan pemikiran yang cemerlang. Semakin cemerlang pemikiran seseorang, makin tinggi derajatnya. Hasil pemikiran itulah yang disebut gagasan.
Namun demikian, gagasan saja tidaklah cukup, sebab kita tidak hidup di alam pikiran yang dapat dipuaskan dengan pergulatan gagasan sebagaimana penganut aliran filsafat idealisme. Kita tidak bisa menjaga kesehatan tanpa makanan, juga tidak bisa sampai ke seberang tanpa kendaraan. Nah, bagaimana cara menghasilkan makanan dan bagaimana menciptakan kendaraan, inilah yang lebih penting menurut penganut filsafat empirisme dan materialisme.
Saya sengaja ungkit-ungkit beberapa aliran filsafat yang kontradiktif karena saya prihatin dengan maraknya pola pikir masyarakat kita yang mencoba melepas-pisahkan siklus prakondisi untuk meraih keberhasilan. Ada yang bilang yang penting gagasan karena karya tanpa gagasan seperti perjalanan tanpa tujuan.
Di lain pihak mengatakan yang penting proses atau karya karena gagasan tanpa karya seperti orang berniat pergi dan jelas tujuannya tapi tanpa melangkahkan kaki.
Mencermati polemik yang berkembang saat ini mengingatkan saya pada tulisan mantan menlu dan wapres RI, bapak Adam Malik, dalam memoarnya, “Mengabdi Pada Republik (Jilid II)”.
Beliau membandingkan kiprah kepemimpinan dua politisi era Soekarno: DR. Sutan Syahrir (Partai Siosialis Indonesia) dengan Kiai Wahab Hasbullah (Partai Nahdlatul Ulama).
Keduanya merupakan personifikasi dari perspektif yang berbeda antara yang mengunggulkan "gagasan" di satu sisi, dan "proses/karya" di sisi lain yang dilatarbelakangi berbagai perbedaan.
Dr. Syahrir seorang intelektual/akademisi modern, sementara Kiai Wahab seorang ulama “tradisional”.
Salain itu, Dr. Syahrir suka bergaul dengan lingkungan kecil elit intelektual, Kiai Wahab berkecimpung di daerah dan hidup bersama rakyat awam.
Dan dalam mengambil keputusan, Dr. Syahrir bekerja dengan gagasan perencanaan dan perhitungan secara matematis yang matang, Kiai Wahab berjalan berproses menurut arah intuitif tradisionalnya.
Bagaimana realitasnya di lapangan..?
Dr. Syahrir sebagai politisi muda intelek dengan gagasan yang brilian ternyata tidak mampu menjalin “komunikasi” dengan rakyat. Akibatnya, antara dia dan rakyat terbentang jurang pemisah yang dalam.
Sebaliknya, Kiai Wahab sebagai politisi sepuh yang tradisionalis dengan pola pikir sederhana dan sama sekali tak bersentuhan pendidikan Barat, justru mampu berkomunikasi efektif dengan rakyat sehingga rakyat merasa dekat dengannya.
“Dan, siapakah di antara kedua tokoh yang sangat berbeda ini yang sukses disebut sebagai politisi? Pilihan saya jatuh pada Abdul Wahab Hasbullah, di mana barisannya (NU) tetap utuh melalui ombak gelombang menuju pantai harapan, sedangkan barisan Syahrir (PSI) pecah berkeping-keping di tengah jalan.” tulis Adam Malik.
Dari tulisan Adam Malik di atas, kita sebenarnya sudah mendapat pelajaran penting, betapa untuk mengelola negeri ini dibutuhkan formulasi yang tepat antara gagasan dan proses. Tidak boleh ada yang dinafikan. Maka saya cenderung memformulasikan takaran untuk gagasan maksimal seperempat bagian saja, dan selebihnya adalah proses, karya atau kinerja.
Oleh karena itu, siapa pun bupati/walikota, gubernur dan presidennya kelak, harus memperhatikan formulasi ini dalam penyelenggaraan dan tata kelola pemerintahannya agar rakyat dapat menikmati hasil atas bukti dari janji-janji pemimpinnya saat “merayu” para pemilik suara dulu.
Jangan sampai: "janji-janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi.". Salam sehat penuh rahmat. (*)
Editor : Achmad RW