Contoh terbaru dampak disrupsi ini adalah tidak bergunanya televisi analog tanpa tambahan STB karena semua stasiun televisi di Indonesia beralih ke siaran digital.
Mengapa stasiun televisi mau berganti ke platform digital yang membutuhkan dana besar..? Karena pemilik stasiun TV tidak mau ditinggalkan penontonnya yang beralih ke channel YouTube, Netflix, Vidio dan aplikasi sejenisnya yang kualitas audio-visualnya jauh lebih bagus dan isi (content)-nya lebih beragam. Hal ini mengindikasikan betapa era disrupsi ini mempertajam persaingan juga.
Bagaimana dengan dunia pendidikan, apakah terimbas disrupsi juga..? Sangat terimbas. Hal itu mengingat bahwa dunia pendidikan sangat sensitif terhadap perkembangan teknologi, bahkan dapat diklaim bahwa aktivitas pendidikanlah lahan yang memroduksi aneka teknologi. Maka para pemangku kepentingan di bidang pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan teknologi untuk kemudian menyikapinya dengan arif dalam melakukan “shifting” atau penyesuain sekaligus “filtering” atau penyaringan untuk memilah dan memilih materi yang cocok dengan kebutuhan dan potensi peserta didik, sebagai bekal mereka di kemudian hari.
Dalam proses “filtering” harus dilakukan secara ketat seiring dengan kematangan psikologis murid, karena di era disrupsi ini arus informasi demikian berlimpah dari berbagai sumber, baik yang resmi dan beridentitas otentik maupun tak resmi dan beridentitas palsu. Untuk yang disebut terakhir itu biasanya menyebarkan content-content tak pantas, provokatif dan fiktif atau hoax melalui beragam media sosial yang cenderung menyesatkan penerimanya, sehingga sangat mengancam nilai dan norma perilaku bahkan pola pikir masyarakat.
Maka bisa dibayangkan, betapa suramnya masa depan peserta didik saat ini bila mereka tidak kita lindungi dari paparan media sosial yang membahayakan. Oleh sebab itu, sebagai salah satu upaya terbaik untuk melindungi mereka adalah melalui pendidikan akhlak yang terstruktur dan implementatif. Dengan harapan bila pendidikan akhlak ini berhasil, peserta didik tidak memerlukan lagi kehadiran orang lain untuk melindunginya sebagai filter karena mereka sudah mampu melindungi diri dengan sendirinya alias autofilter.
Saya lebih memilih menggunakan kata akhlak daripada sopan-santun atau etika, karena akhlak lebih menyeluruh dalam mengatur manusia, tidak hanya soal perilaku tapi juga sikap hati dalam hidup bergaul dengan semua makhluk di dunia. Karenanya, melakukan pendidikan akhlak lebih sulit dibanding pendidikan mata-mata pelajaran kurikuler yang lain, sebab tidak hanya membutuhkan sentuhan ranah kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (perilaku) tapi juga afektif (penghayatan), sehingga diperlukan kesabaran ekstra semua pihak.
Jika dalam keadaan normal saja dibutuhkan kesabaran ekstra, apalagi pada era new-normal yang disruptif ini. Betapa arus informasi media sosial begitu mudah memecah perhatian dan menggoyahkan kemantapan hati murid. Akibatnya pesan-pesan mulia tentang akhlak yang disampaikan pendidik akan sulit mendapat tempat di otak dan hati murid.
Oleh karena itu, pendidik ( guru / ustadz ) tidak hanya cukup bermodalkan bahan ajar saja, tapi harus juga memiliki kualifikasi dan karakter yang kuat untuk bisa merebut otak dan hati murid dari godaan medsos yang membahayakan masa depan peserta didik ini.
Bagaimana konkretnya..?
Pendidik harus bisa meneladani strategi cerdas Wali Songo ketika wayang yang merupakan medsos saat itu yang sama sekali tidak bernuansa keislaman, tidak dilarang tapi justru dimanfaatkannya sebagai media dakwah yang sangat efektif dengan menyisipkan nilai ajaran Islam di dalam alur kisah-kisahnya.
Akibatnya, di masyarakat tradisional “viral”-lah pusaka yang tiada tanding, yakni jimat “kalimosodo” yang menjadikan Yudistira tak terkalahkan. Nama jimat yang konon disamarkan oleh Sunan Kalijogo dari kata kalimah syahadat. Bukan berupa tombak, keris, pedang, gada dan semacamnya, tapi berupa kitab.
Maka, alangkah efektifnya jika para pendidik jaman now selain menyampaikan materi di kelas, juga mampu memanfaatkan medsos untuk menyampaikan pesan-pesan materi ajarnya dengan menarik dan kekikinian, sehingga murid bisa belajar kapan dan di mana saja.
Dengan demikian, pada era ini, pendidik dituntut memiliki kreativitas yang tinggi dalam memanfaatkan medsos untuk memikat perhatian peserta didik, agar transformasi ilmu berlangsung dengan lancar dan sesuai tujuan karena dilakukan dengan menyenangkan. (*) Editor : Achmad RW