Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Netizen, Raja atau Berandal?

Achmad RW • Selasa, 16 Mei 2023 | 15:17 WIB
Opini di Jawa Pos Radar Jombang
Opini di Jawa Pos Radar Jombang
SUDAH hal yang lumrah bagi setiap lapisan masyarakat menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang super canggih. Bahkan teknologi seakan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan di abad 21. Perkembangan teknologi yang serbacepat, canggih dan efisien ini menghasilkan individu sosial baru yang dikenal dengan sebutan netizen.

Mengutip dari Jurnal Media Baru(2018), netizen adalah mereka yang aktif, interaktif dan kritis dalam sebuah forum atau komunitas maya atau internet pada umumnya. Komunitas yang dimaksud tidak lagi terbatas pada obrolan dekat seperti WhatsApp tetapi meluas pada obrolan global seperti dalam media sosial Instagram, Tiktok, Twitter, Facebook, dan sebagainya.

Berdasarkan data dari eMarketer, netizen Indonesia termasuk paling banyak dengan menduduki posisi 6 dari 25 negara yang disurvei. Hal ini berbanding lurus mengingat Indonesia termasuk negara dengan jumlah penduduk yang banyak bahkan berada di posisi 4 besar (Katadata,2022). Dengan banyaknya netizen yang aktif tersebut mampu menjadikan sebuah berita menjadi sensasi publik atau dikenal dengan kata viral.

Dimulai dari satu akun kemudian disebarkan ke berbagai komunitas untuk dinilai dan dibicarakan sehingga menjadi topik hangat dan bahan konten oleh beberapa selebgram ataupun konten kreator. Andilnya netizen mampu memporak-porandakan tatanan kehidupan secara luas dan signifikan.

Seperti kejadian baru-baru ini, jagat media sosial dihebohkan dengan kasus-kasus viral yang menyentil para wakil rakyat. Sebut saja Bima Yudho Saputro, konten kreator asal Lampung ini viral akibat aksinya yang cukup nyelekit tentang permasalahan jalanan di Lampung.

Dalam videonya, ia membahas jalanan Lampung yang sangat memprihatinkan bahkan tidak layak untuk digunakan. Nampak dalam video jalanan yang berlubang bahkan beberapa menjadi kubangan lumpur. Hal ini sebenarnya lumrah dan hampir di setiap daerah di Indonesia mengalami masalah yang serupa. Namun pertanyaannya, apa efek yang diberikan konten Bima hingga menjadi isu nasional? Tentu saja tidak jauh dari kata viral di media sosial dengan subjek paling berpengaruh yaitu netizen.

Netizen terutama gen Z adalah subjek paling berpengaruh pada viral atau tidaknya sebuah kasus. Baik kasus receh hingga kasus penting tidak luput dari justifikasi netizen. Lantas, apakah pengaruh dari netizen sanggup memengaruhi pentingnya sebuah kasus? Memengaruhi atau tidaknya suatu kasus pasti tidak luput dari bobot dan urgensinya kasus itu sendiri. Netizen berperan sebagai subjek yang memviralkan sebuah kasus hingga kasus tersebut pantas menjadi bahasan nasional karena urgensinya.

Kasus jalanan Lampung yang viral ini mampu menyedot atensi netizen sehingga layak menjadi isu nasional. Selain karena kasus tersebut relate dan terjadi di banyak daerah di Indonesia, kasus tersebut berhasil menguak isu lain yang berhubungan dengan hierarki pemerintahan di Lampung itu sendiri.

Mulai dari gubernur hingga menteri kesehatan tidak luput dari incaran dan sangkut-paut yang dibuat oleh netizen. Netizen bahkan berhasil menguak keganjilan dalam kehidupan politik Lampung yang luput dari sorotan media nasional. Dari aksi viral inilah berhasil membuahkan hasil positif berupa peninjauan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Jum’at, 5 Mei 2023.

Lucunya, sebelum presiden bertolak untuk meninjau lokasi, gubernur lampung bergegas memperbaiki jalanan lampung yang sekiranya akan dilewati rombongan presiden. Namun, hasil kerja semalam ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan karena rombongan presiden melewati jalanan yang sangat tidak layak.

Netizen Indonesia memang pantas disebut rajanya media sosial mengingat hasil kerjanya yang nyata mampu mengubah dan menguak problem besar Indonesia. Namun, kisah viral di media sosial tidak selalu manis seperti yang diharapkan. Berbeda dari kasus konten Bima yang mampu memberikan hasil positif bagi Lampung, hal serupa tidak terjadi pada kasus Abah Jajang.

Abah Jajang semula viral karena memiliki rumah dengan pemandangan air terjun yang menawan. Dalam konten yang tersebar di media sosial, nampak Abah Jajang duduk sembari melihat pemandangan air terjun. Reaksi yang diberikan netizen pada kolom komentar rata-rata berupa kekaguman dan beberapa berharap menghabiskan hari tua di rumah Abah Jajang. Berlokasi di Cianjur, rumah Abah Jajang disebut-sebut sebagai hidden gem dan rumah surga.

Rumah Abah Jajang semula sangat asri dengan tanah lapang yang dihiasi rerumputan hijau serta pagar hidup. Tetapi dampak setelah viral membuat banyak masyarakat geleng-geleng kepala. Lagi-lagi karena aksi viral oleh netizen mengakibatkan lapangan yang dulunya hijau menjadi kubangan lumpur.

Bahkan sekedar lewat di depan lokasi dikenai tarif 5 ribu rupiah. Bukan hanya rumah Abah Jajang saja yang rusak akibat ulah netizen. Sudah banyak destinasi alam yang rusak akibat aksi memviralkan yang dilakukan oleh netizen. Niat hati ingin viral untuk dikagumi malah berbalik menjadi boomerang.

Netizen sejatinya bukan suara rakyat secara keseluruhan ataupun suara Tuhan yang selalu benar. Adanya netizen menjadikan dua sisi koin yang memberikan dampak berlainan. Di satu sisi netizen mampu bekerja sebagai agen intelijen yang mengawasi kehidupan politik dan cara kerja wakil rakyat dalam menjalankan roda pemerintah.

Netizen mampu menjadi tolok ukur kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan yang berlangsung. Bahkan netizen mampu mengkritisi dan memojokkan suatu keputusan yang dinilai tidak bertanggung jawab dan menyangkut kepentingan orang banyak. Tetapi di sisi lain netizen dapat menghancurkan hal-hal yang sudah lestari menjadi luluh lantah.

Memang terdapat beberapa destinasi wisata yang menjadi terkenal berkat aksi viral netizen, tetapi beberapa destinasi wisata lainnya tidak memerlukan aksi viral netizen agar terjaga kelestariannya. Aksi viral memang tidak bisa dihentikan, tetapi alangkah baiknya sebagai netizen mampu mempertimbangkan dampak yang diberikan setelahnya. Karena dari aksi-aksi tersebut, banyak hal yang dipertaruhkan. (*)

Penulis:
Dhzikha Kartika Sari
Mahasiswa Universitas Airlangga

  Editor : Achmad RW
#opini #Uniar #Jombang #Netizen #Tulisan mahasiswa #Universitas Airlangga