Si cucu baru bisa jalan, akibatnya dia jalan ke sana kemari ambil kue-kue di beberapa meja tapi tidak dimakan. Neneknya kelihatan agak cemas, mungkin menghawatiri kalo memecahkan stoples.
“Hehehe... ndak apa-apa mbak, namanya juga anak kecil.. hehehe... kalau yang begitu kakeknya, itu baru masalah besar..” kata saya menghibur mereka, yang bikin si nenek muda tak gelisah lagi.
Sahabat saya ini dulu seorang pengusaha sukses, tapi ketika covid melanda, bisnisnya terpuruk.
Meski begitu dia tidak pernah mengeluh karena memang keluh-kesah tidak menyelesaikan masalah, justru akan makin melemahkan hati dan semangat juang.
Alhamdulillah saya dengar sekarang mulai bangkit lagi, sehingga ketika saya tanya kok baru ke rumah setelah kupatan (H+7), dia minta maaf karena berlebaran di Mekkah. Kebetulan dia bukan tipe individu yang hobi bikin status tentang sukses maupun problematikanya di medsos.
Seperti biasa, kami bicara yang ringan-ringan saja. Saya pun ajak bicara putra-putrinya termasuk dengan yang baru punya balita : ”Alhamdulillah ya, sudah dikaruniai momongan... berapa tahun masa tunggunya dulu..?”. “Hampir 6 tahun, pak..” jawab si suami.
Kemudian si kakek pun menimpali dengan cerita yang panjang tentang “dinamika” dan bahagianya punya cucu.
Gegara cucu, dia sering “berdebat” dengan anak kalau mendengar tangis si cucu, bahkan “bertengkar” dengan besan bila dirasakan terlalu lama menginap di sana... hehehe... “Sudahlah.. pokoknya punya cucu itu suuenang sekali, gus.... lelah dan cape dari nungguin pekerja di proyek, langsung ilang capeknya setelah nimang / ngudang cucu..” katanya sangat meyakinkan.
"Betul ya mbak..? ..hehehe... Wah sekarang jadi jarang ‘ngudang’ Eyang putrinya ya....” konfirmasi saya ke sang istri yang direspons dengan senyum mengiyakan.
Sang kakek muda ini kelihatan sekali bila sangat berbahagia punya cucu, tapi dia tidak pernah posting foto cucunya di grup WhatsApp kami, kecuali saat minta doa atas kelahiran cucunya dulu itu.
Kemarin saya tanyakan alasannya kenapa dia kok tidak seperti yang lain. “Tidak semua kebahagiaan kita layak kita kabarkan pada semua orang. Karena sesuatu yang biasa bagi kita, bisa jadi suatu kemewahan bahkan kemustahilan bagi orang lain. Dan itu sangat menyakitkan. Jangan posting naik MOGE HD bila di grup itu banyak anggotanya yang baru bisa naik Honda Beat. Lain lagi masalahnya kalo WAG kita itu anggotanya para pemilik MOGE, sehingga kalau posting Harly Davidson yang baru kita beli, maka akan bermunculan saran perawatannya, info kelemahannya dll. Maka ketika saya belum yakin bahwa di WAG kita semua anggotanya punya cucu, saya tidak akan posting foto-foto lucu cucu saya sebagai bentuk empati saya pada teman-teman yang belum dikarunia cucu.... hehehe... saya bisa berkata begini karena 5 tahun saya telah menjadi “korban” orang-orang yang kurang peka perasaannya..” Jelasnya sambil menatap saya dengan serius.
Dari silaturrahim tersebut saya dapat ilmu bahwa flexing atau pamer itu ternyata obyeknya bukan hanya barang mewah ( tas, kendaraan, rumah dll ) tapi juga orang / individu yang kita “miliki”. Dan klasifikasi “mewah” itu sebenarnya sangat relatif dan komparatif. Sepatu Adidas saya bisa dikatakan mewah ketika saya kumpul bersama teman-teman yang pakai sepatu Bata, Spotek, New Era. Tapi sepatu saya menjadi biasa-biasa saja, ketika kumpul dengan pemakai sepatu LV, CD, Bally.
Maka sebaiknya sikap kita yang wajar-wajar saja, tidak perlu pamer yang mengindikasikan adanya rasa unggul dari yang lain alias takabur.
Selain karena di atas langit masih ada langit, juga karena dengan menjaga perasaan sesama, kita akan semakin dijaga Allah dari penyakit hati. (*) Editor : Achmad RW