Keberlangsungan hubungan ini, bertujuan agar kita bisa dijadikan oleh Tuhan sebagai hamba yang bertakwa, seperti yang disebutkan di dalam Al Qur’an “la’allakum tattaqun” Agar Kamu semua menjadi orang orang yang bertakwa.
Selain itu, perjalanan di bulan ramadan juga menyuguhkan peribadatan yang bersifat sosial horizontal. Seperti berpuasa di siang hari, ikut merasakan lapar dan dahaga sebagai refleksi dari rasa kepedulian kita terhadap orang orang yang mungkin kurang beruntung.
Setelah melewati berbagai macam kegiatan peribadatan baik yang bersifat ritualistik maupun yang bersifat sosial, maka kita menutup rangkaian kegiatan di bulan ramadan ini dengan Do’a “taqobalallahu minna wa minkum”, sebagai harapan agar segala amal yang kita perbuat di bulan suci ini dapat di terima di sisi Tuhan.
Bersesuaian dengan apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa puasa adalah sebagai benteng dan perisai dalam menghadapi hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Kita juga mengetahui bahwa nafsu itu bercenderung kepada keburukan “la’ammarotum bissu’i”. Artinya ketika kita diperintah oleh Tuhan untuk melakukan ibadah puasa, sejatinya Tuhan sendirilah yang dengan syari’at-Nya membimbing kita untuk selalu dalam kebaikan. Karenanya, puasa ini menjadi sangat penting untuk mendorong diri kita sendiri di dalam ranah kebaikan.
Selain itu, kita juga tidak lupa bahwa manusia dianugerahi akal. Fungsi dari akal sendiri adalah untuk memilih dan memilah mana saja yang benar dan mana yang salah, hal apa yang boleh dilakukan dan hal apa yang harus kita tinggalkan. Peranan akal sangat penting di dalam kehidupan beragama, sehingga dalam beberapa hal berakal merupakan syarat sah untuk melakukan suatu peribadatan.
Pendayagunaan akal secara optimal untuk berhadapan langsung dengan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan mempunyai nilai tersendiri di sisi Tuhan. “Illa ma rohima Robbi”. Oleh karenanya langkah terakhir tergantung kesungguhan kita, apakah kita akan mengutamakan kebaikan dengan mengedepankan akal, atau larut kepada hawa nafsu dan keburukan.
Manusia sendiri fitrahnya adalah suci. Yang berarti manusia secara asal adalah bebas atau terhindar dari segala bentuk kesalahan, kelalaian dan keluputan. Sampai kemudian masuk peranan hawa nafsu itu mendominasi sebagian dari diri kita, sehingga menarik kita kepada ketidakfitrahan diri kita sebagai manusia. Untuk itu, dengan mengoptimalkan peranan akal yang kita landasi dengan keimanan, maka akan membawa kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia yang beradab.
Oleh karenanya, sudah sangat tepat, cara untuk membangun sebuah peradaban adalah dimulai dari diri kita sendiri. Menjadikan diri kita sendiri sebagai manusia yang fitrah. Menjadi insan yang lebih terdominasi oleh akal. Yang selalu terhindar dari hawa nafsu dan keburukan. Sehingga inilah titik balik dimana manusia bisa membangun sebuah peradaban.
Peradaban sendiri merupakan sebuah entitas yang melekat dalam diri setiap manusia. Menghormati antar sesama, saling memaafkan, saling tolong-menolong, menciptakan hubungan yang harmonis di antara sesama, tidak saling membenci, tidak saling bertikai, tidak berkehendak untuk menguasai hak orang lain, tidak membunuh, semuanya ini adalah sifat yang melekat di dalam diri Manusia sebagai insan yang beradab.
Untuk itu dengan menjalankan ibadah puasa selama bulan ramadan, diharapkan akan menekan peranan dan dominasi hawa nafsu yang bersemayam di dalam diri kita, sehingga ketika kita sampai di penghujung bulan ramadan, kita akan kembali menjadi manusia yang fitrah, manusia yang suci, manusia yang beradab. (*)
Oleh: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
(Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang)
Editor : Achmad RW