Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ramadan Bulan Dauroh, Tarbiyah, dan Riyadhoh

Achmad RW • Selasa, 18 April 2023 | 13:40 WIB
M Jauharul Afif, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar
M Jauharul Afif, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar
BULAN Ramadan menjadi salah satu momen spesial bagi umat Islam. Semua umat muslim di seluruh dunia tentu akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Di antara banyaknya keistimewaan bulan Ramadan, seluruhnya terhimpun dalam tiga hal, yaitu: Bulan Dauroh, Bulan Tarbiyah, dan Bulan Riyadhoh.

Kenapa dinamakan Bulan Dauroh?

Dalam Bahasa Arab dauroh berarti pelatihan, di mana semua umat muslim dilatih untuk bisa mengendalikan hawa nafsu dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari. Apakah penting melatih mengendalikan nafsu? Tentu, karena sesungguhnya manusia diciptakan dengan potensi keinginan yang baik (takwa) dan keinginan buruk (nafsu atau fujur).

Kedua keinginan tersebut menunjukkan sifat keseimbangan (at-tawazun) dan kemanusiaan (al-basyariah) dalam diri manusia. Karena itu nafsu adalah fitrah manusia, sebagaimana takwa juga adalah fitrah. Hal ini yang ditegaskan dalam Alquran yang artinya: "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan." (QS Asy-Syams: 7-8).

Contohnya, jika kita dihadapkan dengan dua pilihan, bekerja atau istirahat? maka kita pasti akan memilih istirahat. Itulah yang dinamakan nafsu, di mana sesuatu yang nikmat lebih cenderung kita pilih ketimbang sesuatu yang berat.

Jika nafsu tidak dikendalikan, maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik seperti berbicara kotor, berbuat fitnah dan mengadu domba. Ini adalah sebagian kecil dari nafsu yang tidak dikendalikan. Sebaliknya, jika nafsu itu dikendalikan dan dikelola, akan melahirkan manusia berakhlak mulia.

Pengendalian sebagaimana yang dimaksud itulah yang ingin dibangun dari ibadah puasa. Sesuai dengan tujuan inti puasa, yaitu al-imsak yang berarti menahan diri atau mengendalikan hawa nafsu. Maka dengan adanya puasa di bulan Ramadan ini, kita diharapakn bisa melatih diri untuk bisa mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri masing-masing.

Lantas apa Bulan Tarbiyah ?

Tarbiyah dalam Bahasa Arab berarti pendidikan, di mana dalam Ramadan Allah mendidik langsung hamba untuk menjadi pribadi muslim yang baik.

Ada beberapa nilai pendidikan yang dikandung dalam ibadah puasa, di antaranya Tarbiyah Ilahiyah. Bahwa puasa merupakan sistem pendidikan Tuhan, untuk membentuk manusia menjadi Khairul bariyyah (sebaik-baik makhluk), maka orang yang tidak mau mengikuti pendidikan yang diselenggarakan Allah, akan menjadi Syarrul Bariyyah (sejelek-jelek manusia). Atau dapat dipahami bahwa puasa merupakan latihan untuk mengasah sifat Rububiyah yakni sifat ke-Tuhanan, seperti kasih sayang, pemaaf, pemberi, penolong, penyantun, bijaksana, dll.

Kemudian Tarbiyatul Iradah, bahwa puasa merupakan pendidikan kehendak, kemauan, keinginan. Manusia memiliki banyak kemauan atau keinginan yang tidak terhingga, sehingga apabila tidak dibimbing dan diarahkan kepada kemauan yang baik, maka keinginan manusia akan cenderung liar dan merugikan kehidupannya. Maka melalui ibadah puasa seluruh keinginan tersebut dibina dengan baik melalui puasa Tamadan.

Dalam Tarbiyatul Iradah, tidak saja mengendalikan keinginan yang jelek, namun keinginan naluriyah yang baik sekalipun dalam waktu tertentu harus dikendalikan untuk menaati segala larangan Allah, seperti makan, minum, berhubungan suami istri.

Ramadan Bulan Riyadhoh

Dalam pandangan ilmu tasawuf, riyadhoh dapat dibagi menjadi dua macam. Yaitu Riyadhoh al-jisim, yakni pendidikan olahraga yang dilakukan melalui gerakan fisik untuk kesehatan jasmani manusia. Serta Riyadhoh al-nafs, yaitu pendidikan olah batin yang dilakukan melalui olah pikir dan olah hati untuk memperoleh kesadaran dan kualitas rohani.

Riyadhoh al-nafs lebih utama daripada Riyadhoh al-jisim. Sebab, jiwalah yang dapat membimbing manusia ke jalan kebenaran. Meski begitu, kedua riyadhoh tersebut sama-sama penting karena bertujuan untuk memelihara apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa di bulan Ramadan segala amal-amal baik yang dilakukan oleh umat Islam akan dilipat gandakan pahalanya. Maka hendaknya kita menjemputnya dengan ber-riyadhoh. Ada Empat cara riyadhoh menurut Imam Al-Ghazali, yaitu pengendalian konsumsi makanan, pengurangan jam tidur, pembatasan hasrat untuk bicara di luar kepentingan, dan menelan pahitnya tindakan orang lain yang tidak menyenangkan.

Untuk itu, marilah kita bersama-sama berusaha untuk dapat melakukan Dauroh, Tarbiyah dan Riyadhoh sehingga kita terlepas dari segala macam hal-hal negatif, dan menjadikan kita hamba yang bertaqwa. Hal ini selaras dengan Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqoroh ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Mari kita jadikan bulan Ramadan ini ajang untuk melepaskan kotoran-kotoran nafsu duniawi dan dosa-dosa, seperti padi yang diolah menjadi beras, karena kita tidak pernah tahu, apakah Ramadan tahun depan dapat kita temui lagi atau tidak. (*)

Oleh: M Jauharul Afif
(Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar)
Editor : Achmad RW
#kajian islam #ceramah #Taushiyah Ramadan #Gus Aifif #Jombang #Pengasuh PP Mambaul Maarif Denanyar